Wednesday , December 13 2017
Beranda / Islami / Di Gaza, Yousef al-Khattab Temukan Cahaya Islam
Yousef al-Khattab helped found Revolution Muslim, a website that published extreme Islamist propaganda. Al-Khattab, who was born Joseph Cohen and was raised in a Jewish family in New Jersey, faces sentencing Friday after pleading guilty to terrorism charges.

Di Gaza, Yousef al-Khattab Temukan Cahaya Islam

Ketika serial kartun produksi Amerika Serikat (AS) South Park menjadikan sosok Rasulullah SAW sebagai bahan guyonan dengan mengenakan kostum beruang dalam episode terbaru mereka, ada seorang pemuda yang sangat marah.

Pemuda tersebut bahkan secara spontan melontarkan pernyataan agar orang-orang di balik kartun itu berhati-hati karena bisa jadi mereka akan menjadi sasaran kemarahan umat Islam, seperti halnya sutradara Theo van Gogh di Belanda yang tewas ditikam.

Ucapan pemuda bernama Yousef al-Khattab itu kemudian ditulis berbagai media sebagai bentuk ancaman kelompok radikal Islam terhadap para kreator South Park. Bahkan, karena berita ini pula, produser film kartun tersebut menghapus edisi ‘konyol-konyolan’ itu.

Lalu, siapa Yousef al-Khattab?

Tak banyak yang tahu. Orang hanya melihatnya sebagai Muslim taat yang gampang tersulut emosinya jika nabinya dilecehkan. Yang sebenarnya, Yousef adalah seorang mualaf bernama asli Joseph Cohen. Ia dilahirkan di tengah keluarga Yahudi yang terbilang taat. Masa mudanya ia habiskan dengan menimba ilmu di sekolah-sekolah Yahudi.

Sebelum kembali tinggal di Amerika Serikat, Cohen adalah anggota kelompok garis keras Yahudi di Tepi Barat. Pada tahun 1988, dia memutuskan pindah ke Israel karena dorongan keyakinannya yang kuat pada ajaran Yahudi. Selama bermukim di Israel, ia tinggal di permukiman Yahudi Gush Qatif di Gaza. Di sana, ia aktif memperjuangkan perluasan permukiman Yahudi di negara itu. Dia secara rutin mengikuti kelas yang diselenggarakan oleh seorang rabi ortodoks di kotanya.

Di Kota Gaza ini pula, Cohen bertemu dengan sang istri, Luna Mellul, yang dinikahinya pada tahun 1991 silam. Seperti halnya sang suami, Luna merupakan pemeluk Yahudi yang taat. Pada masa lalu, wanita yang berasal dari Tetouan, Maroko, ini dikenal aktif dalam berbagai acara seminari yang digagas oleh kelompok Yahudi Ortodoks.

Namun, Cohen tak pernah mengira bahwa kepindahannya ke Israel justru membawanya pada cahaya Islam. Setelah tiga tahun menetap di Gaza (1994), ia memutuskan untuk menjadi seorang Muslim.

Ketertarikannya terhadap Islam bermula dari sebuah ruang chat  (chatroom) di dunia maya. Di sana, Cohen bertemu teman diskusi yang ternyata adalah seorang syekh asal Uni Emirat Arab. Keduanya menghabiskan waktu berjam-jam untuk saling bertukar pendapat soal pemikiran masing-masing. Topik yang kerap mereka diskusikan adalah teologi.

Perbincangan itu membekas di hati Cohen. Belakangan, ia yang kemudian hijrah kembali ke Amerika Serikat (AS) menemukan banyak pencerahan. Sejak saat itu, ia bertekad untuk pindah agama ke Islam. Keinginan untuk masuk Islam ini diutarakan kepada sang istri. Akhirnya, ia memutuskan untuk bersyahadat dan menjadi Muslim. Setelah masuk Islam, ia pun mengganti namanya menjadi Yousef al-Khattab.

Tak lama setelah ia mengucapkan syahadat, istri dan empat anak Yousef mengikuti jejaknya menjadi Muslim. Bahkan, setelah menjadi seorang Muslimah, sang istri mengganti namanya dengan Qamar al-Khattab. Kemudian, ia memboyong seluruh anggota keluarganya untuk pindah dari permukiman Yahudi di Netivot ke permukiman orang Arab di wilayah Yerusalem bagian timur.

Setelah mendalami Islam lebih jauh, Yousef makin menyadari bahwa dasar ajaran agama Yahudi sangat berbeda dengan Islam. Perbedaan utamanya terletak pada masalah tauhid. Agama Yahudi, kata dia, percaya pada perantara dan perantara mereka adalah para rabi. Orang-orang Yahudi berdoa lewat perantaraan rabi-rabi mereka.

”Yudaisme adalah kepercayaan yang berbasiskan pada manusia. Berbeda dengan Islam, agama yang berbasis pada Alquran dan sunah. Keyakinan pada Islam tidak akan pernah berubah. Di semua masjid di seluruh dunia, Alquran yang kita dengarkan adalah Alquran yang sama,” ujar Yousef.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Yahudisme di sisi lain berpatokan pada “tradisi oral”. Misalnya, kitab Talmud yang disusun berdasarkan informasi dari mulut ke mulut yang kemudian dibukukan. Para rabi sendiri, ungkapnya, bisa saja lupa tentang banyak hal sehingga keabsahan isi kitab tersebut bisa dipertanyakan.

Kitab Taurat yang diyakini kaum Yahudi sekarang, jelas Yousef, memiliki 11 versi yang berbeda. Naskah-naskah Taurat itu bukan lagi naskah asli. ”Alhamdulillah, Allah memberikan rahmat kepada kita semua dengan agama yang mudah, di mana banyak orang yang bisa menghafal Alquran dari generasi ke generasi. Allah memberkati kita semua dengan Alquran,” jelas Yousef.

Mengenai kelompok-kelompok Yahudi yang mengklaim anti-Zionis, Yousef mengakui bahwa dirinya tidak percaya dengan Yahudi-Yahudi yang mengklaim anti-Zionis.

”Dari sejarahnya saja, mereka adalah orang-orang yang selalu melanggar kesepakatan. Mereka membunuh para nabi. Oleh sebab itu, saya tidak pernah percaya kepada mereka meski Islam selalu menunjukkan sikap yang baik kepada mereka,” paparnya.

Yousef menegaskan bahwa pernyataannya itu bukan untuk membela orang-orang Palestina ataupun atas nama seorang Muslim. Pernyataan itu merupakan pendapat pribadinya. ”Allah Mahatahu,” tandasnya.

Setelah menjadi mualaf, Yousef pindah ke Palestina. Di sana, ia dikenal aktif berdakwah di kalangan orang-orang Yahudi meski ia sendiri tidak diakui lagi oleh keluarganya yang tidak suka melihatnya masuk Islam.

”Saya sudah tidak lagi berhubungan dengan keluarga saya. Kita tidak boleh memutuskan hubungan kekeluargaan, tetapi pihak keluarga saya adalah Yahudi dengan entitas keyahudiannya. Kami tidak punya pilihan lain, selain memutuskan kontak untuk saat ini. Kata-kata terakhir yang mereka lontarkan kepada saya adalah saya barbar,” tutur Yousef tentang hubungan dengan keluarganya saat ini, sebagaimana dikutip dari readingislam.

Namun, ia mengakui, berdakwah tentang Islam di kalangan orang-orang Yahudi bukanlah pekerjaan yang mudah. Menurutnya, yang pertama kali harus dilakukan dalam mengenalkan Islam adalah hanya ada satu manhaj (pemikiran) dalam Islam, yaitu manhaj yang dibawa oleh Rasulullah SAW yang kemudian diteruskan oleh para sahabat dan penerusnya hingga sekarang.

Dalam pandangannya, cara yang paling baik untuk menunjukkan Islam merupakan agama untuk semua umat manusia adalah dengan memberikan penjelasan berdasarkan ayat-ayat Alquran. ”Dan, juga harus menekankan bahwa yang membedakan antara umat manusia adalah ketakwaannya kepada Allah semata.”

Saat masih menjadi pemeluk Yahudi yang tinggal di Palestina, Yousef sering kali diwawancarai tentang konflik Palestina-Israel. Ia mengakui adanya diskriminasi yang dilakukan Pemerintah Israel terhadap Muslim Palestina. Dia sendiri pernah dipukul oleh tentara-tentara Israel meski tidak seburuk perlakuan tentara-tentara Zionis itu kepada warga Palestina dan Muslim.

”Saya masih beruntung. Penderitaan yang saya alami tidak seberat penderitaan saudara-saudara kita di Afghanistan yang berada di bawah penjajahan AS atau saudara-saudara kita yang berada di kamp penjara AS di Kuba (Guantanamo),” ungkapnya dengan rasa syukur.

Saat menetap di Palestina, ia pernah mendirikan organisasi bagi para pemuda Muslim yang sebagian anggotanya adalah mualaf. Namun, organisasinya itu sering dicap sebagai kelompok garis keras. ”Ini adalah risiko lain dalam berdakwah,” ujar ayah dari Abdel Rahman, Hesibeh, Abdel Aziz, dan Abdullah ini.

Kepada orang-orang non-Muslim yang tinggal di lingkungannya, Yousef berusaha mengampanyekan bahwa Islam bukanlah agama yang rasis. Penjelasan mengenai itu tertera dalam firman Allah dan sabda Rasulullah SAW. Menurutnya, apa yang selama ini diperjuangkan oleh kaum Muslim bukan merupakan bentuk kebencian kepada orang-orang non-Muslim.

”Kita berjuang hanya demi Allah semata, untuk melawan mereka yang ingin membunuh kita, yang menjajah tanah air kita, yang menyebarkan kemungkaran, dan menyebarkan ideologi Barat di negara kita,” papar Yousef.

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID

Baca Juga

deras.co.id

Pengajian Akbar YPSA, Taushiyah Romo M. Syafi’i Ini Benar-Benar Menggelegar

Allah SWT lah yang melahirkan kamu melalui rahim ibu kamu, dan kamu tidak tahu apa-apa. …