Saturday , August 18 2018
Beranda / Berita / Profesor Ini Berhasilkan Pulihkan Baterai Gadget yang Terdegradasi
deras.co.id
Rachid Yazami, Ilmuwan yang berhasil membuat inovasi baterai tahan lama

Profesor Ini Berhasilkan Pulihkan Baterai Gadget yang Terdegradasi

Masalah dengan baterai adalah sesuatu yang sangat mengesalkan. Apalagi jika baterai tiba-tiba drop di saat yang tidak tepat.

Baterai di sini bukan hanya baterai pada smartphone, tapi juga laptop sampai kendaraan listrik, jenis baterai lithium.

Berangkat dari hal tersebut, seorang ilmuwan dari Nanyang Technological University (NTU), Profesor Rachid Yazami, tergerak untuk merancang inovasi baru yang bisa menjadi kabar gembira untuk insan milenial.

Seperti diberitakan FCC Singapore, Jumat (12/1/2018), Yazami mengumumkan dirinya berhasil merancang pemulihan baterai yang telah berkurang kapasitas karena penggunaan berulang.

Walaupun proses pemulihan fungsi baterai menghabiskan waktu 10 jam, rasanya hal itu setimpal dengan keuntungan yang akan didapat. Bayangkan saja, selama beberapa tahun kemudian Anda tak perlu was-was akan baterai yang menjengkelkan.

Menurut Yazami, inovasi yang dilakukannya dapat menghemat pengeluaran konsumen teknologi. Dia berkata target terbesarnya adalah kendaraan listrik.

“Orang tidak mengganti mobil mereka dengan yang baru sesering mengganti smartphone. Umumnya orang akan bertahan dengan smartphone-nya sampai dua tahun, tapi mereka ingin mobilnya dapat bertahan sampai 10 tahun,” kata Yazami yang juga kepala eksekutif perusahaan teknologi baterai KVI yang didirikan di bawah NTU.

Pria 64 tahun asal Perancis itu berkata bahwa inovasinya ramah lingkungan. Dia percaya, inovasinya akan membuat produksi baterai makin sedikit dan tak perlu lagi ada baterai yang dibuang.

Inovasinya berupa penambahan elektroda ketiga di atas dua kutub baterai lithium biasa.

Komponen ketiga akan menguras ion lithium residual di salah satu kutub yang menyebabkan penurunan daya baterai.

“Dengan demikian baterai dapat dipulihkan hingga 95 persen dari kapasitas aslinya,” jelasnya.

Dia berkata, menambahkan elektroda ketiga untuk menguras ion lithium residual adalah gagasan yang tidak dipikirkan ilmuwan lain. Dia sendiri telah membuat baterai prototipe dengan elektroda ketiga untuk smartphone pada Juni 2017.

“Mungkin produsen baterai tidak akan menyukai saya, tapi pengguna akhir seperti pelanggan, saya yakin mereka akan menyukainya,” ujar Yazami.

Sumber: nationalgeographic.co.id

Baca Juga

deras.co.id

Ternyata Inilah Makhluk Tercepat Di Bumi, Lebih Cepat Dari Cheetah dan Elang

Para ilmuwan memiliki rencana untuk mempelajari makhluk paling cepat di Bumi. Ini dilakukan untuk mengetahui …