Tuesday , June 19 2018
Beranda / Berita / Kisah Unik Emak-Emak Miliarder Buta Aksara
deras.co.id
Sarmini menunjukkan gudang produksi akar kayu jati erosi miliknya di Bojonegoro (Yudi Handoyo/JawaPos.com)

Kisah Unik Emak-Emak Miliarder Buta Aksara

Terkadang kecerdasan seseorang tidak dapat diukur dari seberapa tinggi pendidikannya. Ilmu bisa datang dari mana saja, orang-orang terdekat, dari usia yang lebih tua dari kita. Ada kalanya datang dari teman atau mungkin juga dari orang yang lebih muda dari kita.

Seperti yang dialami Sarmini, ibu paruh baya asal Desa Piji, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Semasa kecil, dia sama sekali tidak mendapat pedidikan di bangku sekolah, bahkan dirinya mengaku tidak bisa baca dan tulis, alias buta aksara.

Namun dari kekurangannya itu justru menjadikan dirinya perempuan tangguh penuh keyakinan. Terbukti dengan keuletannya dalam membina usaha home industry atau industri kreatif miliknya, yakni pembuatan kerajinan dari akar kayu jati erosi membuahkan hasil yang tidak sedikit.

“Awalnya iseng. Setelah mendapat informasi dari teman dan tetangga, kemudian saya terapkan. Saya berpikir positif saja,” terang Sarmini, Senin (5/3).

Kini perempuan berusia 58 tahun itu menjadi pengusaha sukses. Pelanggannya tersebar di daerah-daerah Pulau Jawa, bahkan ada yang dari luar negeri dengan omzet usaha lebih dari Rp 50 juta per bulan. Hingga saat ini jika ditotal, omzet Sarmini mencapai Rp 5 miliar.

Saat dikunjungi rumahnya yang berada di ujung barat perbatasan dengan Kabupaten Ngawi, tepatnya di Jalan Raya Ngawi-Cepu KM 15 Desa Piji, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, tumpukan akar jati erosi yang sudah dibentuk menjadi meja, kursi, daun, guci, layah, dan masih banyak jenis lainnya yang terlihat di teras serta di gudang produksi di samping rumahnya.

Suara mesin pemotong dan penghalus kayu terdengar keras menderu-deru di gudang samping rumah, sedang berlangsung aktivitas para karyawannya. Para pekerjanya tersebut digaji dengan menggunakan sistem borongan.

“Soal gaji, saya memakai cara borongan, setiap unit kecil saya nilai Rp 2 ribu sampai Rp 5 ribu, sedangkan satu unit berukuran besar Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu, tergantung kerumitan juga. Dalam sehari biasa menghasilkan lebih dari 50 unit,” ujarnya.

Sarmini, kini memiliki 12 karyawan yang merupakan tetangganya sendiri. Para karyawan itu, terlihat semangat mengangkat akar-akar jati untuk didekatkan mesin pemotong, ada pula yang fokus menghaluskan produksi dengan menggunakan mesin.

Dia memulai usahanya sekitar 8 tahun lalu. Semula, iseng menaruh sebuah akar jati erosi di depan rumah, menirukan beberapa warga desa lainnya. Waktu itu, perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai buruh sawah itu berpikir, daripada dijadikan kayu bakar lebih baik dipajang.

“Setelah saya menunggu beberapa minggu, tak ada yang menawar. Tapi saya bersabar, tidak lama kemudian ada bule dari Belanda membeli dan menyuruh memproduksi lebih banyak. Saya sering dicaci-maki sama tetangga, apakah bisa melakoni usaha ini, tapi saya cuek saja,” kata Sarmini, sambil menunjukan produk kerajinan berbahan dasar akar jati erosi itu.

Menurutnya, akar itu sangat keras, tak perlu dibentuk lagi, tinggal mengikuti bentuk asli akarnya, kemudian dihaluskan, sudah jadi produk unggulan bagus dan menarik pelanggan, khususnya para pembeli yang berjiwa seni.

Bentuk-bentuk akar itu beragam, kalau sedang nasib baik, bisa mendapatkan bentuk binatang. Bentuk itu banyak peminatnya dan harganya lumayan tinggi dibanding akar dengan bentuk biasa.

Untuk mendapatkan bahan akar jati erosi, Lasmi mengambil akar-akar itu di tengah hutan di kawasan antara Ngawi, Madiun, dan Cepu seizin pihak PT Perhutani sebagai pemilik wilayah.

Dari tahun ke tahun, bisnis kerajinan Lasmi berkembang. Sekarang ia menjual akar kayu jati yang sudah berbentuk meja konsul, kursi, jamur, dan souvenir. Benda-benda itu masih setengah jadi, harganya dipatok mulai Rp 50 ribu hingga RP 5 juta untuk ukuran besar.

Harga akar erosi ukuran besar dipatok antara Rp 750 ribu sampai Rp 5 juta, meja besar antara Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta, kursi Rp 250 ribu sampai Rp 500 ribu. Sedangkan untuk suvenir berukuran kecil dihargai Rp 50 ribu per unit.

Setiap bulannya, Lasmini mendapat pesanan ribuan suvenir dari berbagai daerah bahkan keluar negeri, seperti Taiwan.

“Jika bentuk dan karakternya bagus, ada nilai seninya, saya jual Rp 5 juta. Bahkan pernah ada dua unit daun meja yang terjual 60 juta, dibeli oleh pelanggan dari Bali. Kalau suvenir, meja, kursi biasanya sudah ada yang pesan terlebih dahulu. Mereka dari Semarang, Jogja, Jepara, Semarang, dan Bali, nanti difinising lalu diekspor ke luar negeri,” terang perempuan yang telah memiliki satu cucu itu.

Sumber: jawapos.com

Baca Juga

PT. Inalum Fasilitasi 230 Pemudik Lewat Jalur Darat

Ini merupakan program PT Inalum dan seluruh BUMN untuk memfasilitasi para pemudik balik ke kampung …