Sunday , July 22 2018
Beranda / Berita / Antara Ustadz Rekomendasi Kemenag dan Ustadz Pilihan Ummat
deras.co.id
Menag Lukman Hakim Saifuddin

Antara Ustadz Rekomendasi Kemenag dan Ustadz Pilihan Ummat

Jakarta, Daftar muballigh rekomendasi yang Kementerian Agama (Kemenag) menimbulkan polemik. Silang pendapat pun hadir. Sejumlah dai yang masuk dalam daftar tersebut memilih namanya lebih baik tidak dicantumkan.

Kemenag mengeluarkan daftar rekomendasi muballigh yang bisa dijadikan rujukan umat. Namun, dari 200 nama muballigh yang masuk daftar itu, sejumlah nama ustadz tidak tertera. Seperti Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Hanan Attaki, dan Ustadz Khalid Basalamah yang ‘merajai’ laman Youtube. Selain itu tidak ada juga nama KH Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), Ustadz Fadlan Garamatan, Ustadz Felix Siauw, dan Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengaku telah menerima banyak pertanyaan dari masyarakat terkait nama muballigh yang bisa mengisi kegiatan keagamaan mereka. “Selama ini, Kementerian Agama sering dimintai rekomendasi muballigh oleh masyarakat. Belakangan, permintaan itu semakin meningkat, sehingga kami merasa perlu untuk merilis daftar nama muballigh,” ujar Lukman dalam siaran persnya di Jakarta, Jumat (18/05).

Lukman menjelaskan, pada tahap awal Kemenag merilis 200 daftar nama muballigh. Menurut Menag, ratusan muballigh tersebut dipilih karena memenuhi tiga kriteria yaitu mempunyai kompetensi keilmuan agama yang mumpuni, reputasi yang baik, dan berkomitmen kebangsaan yang tinggi.

deras.co.id
Komentar UAS tentang 200 muballigh rekomendasi kemenag

Daftar nama ini merupakan rilis awal yang dihimpun dari masukan tokoh agama, ormas keagamaan, dan tokoh masyarakat. Jumlah daftar ini tentu akan terus bertambah seiring masukan dari berbagai pihak.

Namun, para muballigh yang belum masuk dalam daftar ini, bukan berarti tidak memenuhi tiga kriteria tersebut. “Artinya, data ini bersifat dinamis dan akan kami update secara resmi,” ucap Lukman.

Lukman berharap rilis daftar nama muballigh ini bisa memudahkan masyarakat dalam mengakses para penceramah yang mereka butuhkan. Langkah ini diharapkan akan memperkuat upaya peningkatan kualitas kehidupan beragama sesuai misi Kementerian Agama.

 “Awalnya (Ustadz Somad) ada (masuk daftar). Beliau tidak bersedia untuk dimasukin”.

Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag), Khoiruddin menjelaskan tentang tidak dimasukkannya Ustadz Abdul Somad (UAS) dan sejumlah ustadz lainnya ke dalam daftar 200 muballigh yang direkomendasikan Kemenag. Menurut dia, Ustadz Somad tidak bersedia dimasukkan ke daftar tersebut.

“Awalnya ada (masuk daftar). Beliau tidak bersedia untuk dimasukin. Karena tanpa dimasuki sudah banyak yang panggil jadwal sangat padat hingga dua tahun ke depan,” ujar Khoiruddin saat dikonfirmasi, Jumat (18/5).

Dia mengatakan, 200 penceramah tersebut memang bersumber dari Direktorat Penerangan Agama Islam. Menurut dia, daftar itu dirilis atas rekomendasi ormas Islam dan masjid-masjid besar.

“Izin berdasarkan dari rekomondasi ormas Islam dan masjid-masjid besar di Jakarta dan sekitarnya. Biasanya data ini bertidak sebagai khatib Jumat dan pengajian rutin,” jelasnya.

Tiga kriteria ustadz yang masuk rekomendasi Kemenag yakni mempunyai kompetensi keilmuan agama yang mumpuni, reputasi yang baik, dan berkomitmen kebangsaan yang tinggi.

Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholafiil Nafis mengusulkan agar daftar 200 mubalig yang direkomendasikan Kemenag menjadi acuan masjid, lembaga pemerintah dan kantor pemerintah daerah. Sehingga umat bisa mendapat ilmu dari mubalig yang kompenten.

“Saya mengusulkan agar nama-nama yang direkomendasikan Kemenag itu harus jadi acuan masjid di kementerian, lembaga pemerintah dan kantor pemerintah daerah,” ujar Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Cholafiil Nafis saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (18/5).

Pengasuh Pondok Pesantren Cendikia Amanah Depok ini yakin ratusan muballigh tersebut sudah diverifikasi oleh Kemenag. “Saya yakin nama-nama itu sudah diverifikasi oleh Kemenag sehingga ada manfaatnya kepada masyarakat untuk mendapat penceramah yang kompeten,” ucapnya.

Belum lama ini, KH Cholil Nafis juga telah berkunjung ke negara-negara di Asia Tenggara dalam rangka membumikan Islam Wasathiyah bersama dai-dai negara serumpun. Hasilnya, menurut dia, kualifikasi seorang dai memang penting untuk meluruskan pemahaman tentang Islam.

“Hasil telaah saya sementara dalam lawatan ke negara-negara ASEAN menyimpulkan tentang pentingnya kualifikasi dai, khothib dan penceramah agar maayarakat mendapat ilmu dari orang yang kompeten,” katanya.

Sumber: republika.co.id

Baca Juga

deras.co.id

CIA Ungkap Perang Dingin Antara AS dan China

Colorado, China sedang terlibat Perang Dingin melawan Amerika Serikat (AS). Hal itu dipaparkan Asisten Direktur CIA, …