Monday , July 16 2018
Beranda / Berita / Akankah Indonesia Terkena Dampak Fenomena ‘Aphelion’?
deras.co.id

Akankah Indonesia Terkena Dampak Fenomena ‘Aphelion’?

Jakarta, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengungkapkan, penurunan suhu yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia saat ini tidak ada kaitannya dengan ‘Aphelion‘.

Aphelion merupakan fenomena dimana bumi berada pada titik terjauh matahari, yang biasa terjadi di Bulan Juli.

“Tidak ada hubungannya (penurunan suhu) dengan aphelion, karena perubahan jarak Matahari ke Bumi tidak terlalu signifikan mempengaruhi suhu permukaan Bumi,” kata Thomas, Jumat (6/7).

Lebih lanjut ia menjelaskan, suhu udara dipengaruhi oleh distribusi panas di Bumi akibat perubahan tahunan posisi matahari, di mana saat ini posisi Matahari berada di belahan Bumi Utara. Sehingga, belahan Bumi Selatan mengalami musim dingin.

“Tekanan udara di bagian selatan juga lebih tinggi dari pada belahan utara. Akibatnya angin bertiup dari selatan ke utara,” katanya.

Tiupan angin dari selatan ke utara tersebut, mendorong awan menjauh ke utara. Akibatnya, Indonesia memgalami musim kemarau. Namun, di beberapa wilayah di Indonesia mengalami penurunan suhu yang terjadi karena adanya aliran massa dingin dari Australia menuju Asia, yang juga melewati Indonesia.

“Di Indonesia pada musim kemarau saat ini, angin bertiup dari Australia yang sedang musim dingin. Itu sebabnya masyarakat (khususnya) di (Pulau) Jawa pada saat ini mengalami udara yang dingin,” ujarnya.

Seperti diketahui, Kepala Humas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Harry Tirto Djatmiko mengatakan, penurunan suhu tersebut terjadi karena Indonesia mendapatkan pengaruh aliran massa dingin dari Australia yang biasa terjadi di Bulan Juli hingga Agustus.

Sehingga terjadi perubahan di beberapa wilayah di Indonesia yang berada di wilayah selatan khatulistiwa. “(Terjadi perubahan suhu) Mulai dari Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jabar, DKI, Jateng, Jatim, NTT, Bali,” kata Harry saat dikonfirmasi Republika, Jumat (6/7).

Ia menjelaskan, perubahan suhu tersebut merupakan fenomena alam biasa yang terjadi tiap tahunnya, khususnya yang sering terjadi di bulan Juli hingga Agustus. Sebab, pada bulan tersebut merupakan bulan puncak kemarau.

“Itu tanda kalau kita mau berada di puncak kemarau, suhunya lebih dingin, siang lebih panas, anginnya lebih kencang,” kata Harry.

“Indikatornya (angin) monsun Australianya sudah aktif. Ditandai adanya aliran massa udara dingin dari Australia yang menuju ke Asia.”

Sumber: republika.co.id

Baca Juga

deras.co.id

Ada Dugaan Suap, Rumah Dirut PLN ‘Digrebek’ KPK

Jakarta, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan, pihaknya telah melakukan penggeledahan di rumah Direktur Utama PT …