Thursday , January 20 2022
Beranda / Edukasi / Kisah Mahasiswa Angkatan Pertama Sastra Korea UI

Kisah Mahasiswa Angkatan Pertama Sastra Korea UI

DEPOK, Shafiyyatul.com – Adhit Pratama Putra, instruktur di Balai Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Pertahanan, merupakan salah satu dari 43 mahasiswa angkatan pertama program studi Bahasa dan Kebudayaan Korea Universitas Indonesia. Sebagai angkatan pertama dari sebuah jurusan baru, terlebih ilmu budaya, Adhit merasakan orang-orang memandangnya sebelah mata.

Delapan tahun berselang, seiring dengan serbuan budaya populer Korea di Indonesia, jurusan Sastra Korea kini tampil sebagai satu dari tiga besar jurusan dengan peminat terbanyak di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI tahun 2013.

Adhit masih ingat, pertengahan 2006, ketika dia baru lulus SMA, ia membaca pembukaan pendaftaran jurusan Sastra Korea UI untuk angkatan pertama di sebuah surat kabar. Saat itu, ia mulai berpikir akan peluang yang ia miliki jika mengambil jurusan Sastra Korea.

“Waktu itu, saya berpikir ahli Inggris, China, dan Jepang sudah ada. Saya memprediksi bahwa 5 tahun ke depan, setelah 2006, Korea akan masuk ke Indonesia, mulai dari investasi hingga kerja sama antarpemerintah dan swasta. Jadi saya pikir akan potensi diperlukannya ahli Korea,” tutur Adhit kepada Kompas.com, Sabtu (13/9/2014).

Ia pun lalu memantapkan diri untuk mendaftar di jurusan tersebut dan diterima sebagai mahasiswa angkatan pertama. Cemooh orang pun mulai berdatangan kepadanya. “Kok laki-laki masuk sastra, Korea lagi. Untuk apa? Menjadi pujangga? Pekerjaannya apa nanti?” kata Adhit menirukan pertanyaan orang-orang yang ditujukan padanya kala itu. Ia pun selalu menjawabnya dengan mengatakan akan menjadi diplomat.

Selain cemooh, pelajaran di bangku kuliah pun menjadi tantangan tersendiri. Sebelum masuk Sastra Korea, Adhit tidak mengenal Korea sama sekali. “Susah karena diajar langsung oleh native-nya. Mereka tidak bisa bahasa Inggris,” katanya.

Pada masa itu, dosen jurusan tersebut hanya berjumlah tiga orang dan semuanya adalah penutur asli. Tak hanya itu, menjadi lelaki yang mempelajari sastra juga menjadi tantangan tersendiri bagi Adhit dan teman-teman mahasiswa sejurusannya. Menurut Adhit, hanya ada 11 pria dari total 43 orang yang menjadi dari mahasiswa Sastra Korea angkatan pertama.

Dari sebelas tersebut, empat di antaranya pindah jurusan pada tahun kedua kuliah. “Laki-lakinya sedikit, selalu tersingkirkan. Kemampuannya dianggap lebih rendah dari yang cewek-cewek, sampai kami disebut black hole,” tuturnya.

Untungnya, Adhit berhasil melewati semuanya, dan meraih gelar sarjana pada awal tahun 2011. Kini, Adhit pun melihat bahwa Sastra Korea mulai menjadi favorit bagi calon mahasiswa seiring dengan gencarnya K-pop di Indonesia. Jurusan Sastra Korea, dinilai Adhit, mampu memberikan masa depan cerah

“Dulu mah suram, sekarang sudah lebih terkenal. Animo masyarakat jadi banyak karena budaya K-Pop. Dosennya pun sudah banyak dari orang kita (Indonesia). Mereka (jurusan) juga saya dengar memprioritaskan di bidang bisnis dan mempelajari TOPIK (TOEFL Korea),” kata Adhit yang mengagumi tingkat kedisiplinan dan etos kerja orang Korea Selatan.

Baca Juga

Pentingnya Data Sains dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

DERAS.CO.ID – Kegiatan program ULAMA DAN UMARA BERBICARA kali ini bersama narasumber Arisyi Raz, FRM. (Doctoral …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *