Tuesday , November 20 2018
Beranda / Berita / Galau BBM, PDIP: Bukan Plin-Plan, Itu Namanya Teorema Bias
deras.co.id
Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hendrawan Supratikno menegaskan, sebetulnya pemerintah bukan ragu-ragu dalam memutuskan kenaikan harga BBM. Karena, keputusan mendadak itu diambil karena ada urgensi lainnya. (jpnn/jawapos.com)

Galau BBM, PDIP: Bukan Plin-Plan, Itu Namanya Teorema Bias

Jakarta, Setelah membatalkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium secara tiba-tiba, muncul opini bahwa  Presiden Joko Widodo (Jokowi) lemah dalam berkordinasi dengan menterinya. Sehingga dianggap tidak terjadi keselarasan dalam memutuskan sebuah kebijakan.

Menanggapi itu, Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hendrawan Supratikno menegaskan, sebetulnya pemerintah bukan ragu-ragu dalam memutuskan kenaikan harga BBM. Karena, keputusan mendadak itu diambil karena ada urgensi lainnya.

“(Pemerintah) bukan plin-plan. Kalau dalam teori statistik itu namanya teorema bias,” ujar Hendrawan di komplek DPR RI Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (11/10).

Teori bias yang dimaksud Hendrawan bukan berarti ketidakjelasan, melainkan berubahnya keputusan bila ada informasi baru yang signifikan dan bisa mempengaruhi perubahan kebijakan itu.

Hendrawan menuturkan, informasi signifikan itu terkait likuiditas PT Pertmanina (Persero). Selama Pertamina mampu melakukan kreasi-kreasi dengan membuat produk campuran yang masih memungkinkan untuk dilakukan maka pembatalam kenaikan harga BBM menjadi wajar.

Baca juga: BBM Nyaris Naik, Apa yang Terjadi?

Di sisi lain, anggota Komisi XI DPR RI itu menolak anggapan jika batalnya kenaikan harga BBM karena Presiden Joko Widodo ingin menjaga popularitasnya dan mencari simpati masyarakat.

“Kalau ingin pertahankan popularitas, awalnya tidak akan ada niat untuk naikkan (harga BBM) dong. Jadi logikanya tidak begitu,” tegasnya.

Begitu pun jika pembatalan kenaikan harga BBM ditujukan hanya untuk menarik simpati publik agar kembali mendukung Jokowi. Menurutnya kenaikan harga Premium itu semata-mata imbas dari naiknya harga minyak mentah dunia.

“Itu spekulasi atau asumsi yang terlalu jauh saya kira. Harga minyak di dunia sudah naik. Sekarang mendekati USD 83-88 per barel,” tandasnya.

Sumber: jawapos.com

Baca Juga

deras.co.id

Gathering HUT ke-57, Tingkatkan Kekeluargaan & Silaturahmi KB Bank Sumut dan Nasabah

Medan, Seribuan warga mengikuti jalan santai dalam rangka Gathering HUT ke 57, Keluarga Besar PT …