Friday , July 19 2019
Beranda / Berita / BPS Ungkap Defisit Neraca Perdagangan RI 2018 Teburuk Dalam Sejarah
deras.co.id

BPS Ungkap Defisit Neraca Perdagangan RI 2018 Teburuk Dalam Sejarah

Jakarta, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2018 sebesar USD8,57 miliar atau terbesar sejak 1975. Diperlukan solusi untuk menekan impor migas yang menjadi penyumbang defisit terbesar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, secara kumulatif nilai ekspor tahunan Indonesia pada 2018 mencapai USD180,06 miliar atau meningkat 6,65% dibanding tahun 2017. Sedangkan nilai impor tahun 2018 mencapai USD188,63 miliar atau meningkat 20,15% dibanding tahun 2017. Kondisi itu menyebabkan defisit neraca da – gang Indonesia membengkak menjadi USD8,57 miliar.

”Jika dilihat penyebabnya, yaitu lebih karena defisit migas sebesar USD12,4 miliar, sedangkan untuk nonmigas kita masih surplus USD3,8 miliar,” kata Suhariyanto di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebanyak enam kali. Periodenya adalah tahun 1945, 1975, 2012, 2013, 2014, dan 2018. Berdasarkan data BPS, pada 2012 neraca dagang Indonesia mengalami defisit USD1,7 miliar. Kemudian pada 2013 dan 2014 juga terjadi defisit USD4,08 miliar dan USD1,89 miliar. Sedangkan ta – hun 1975, Indonesia meng – alami defisit USD391 juta, tapi BPS belum memiliki data untuk tahun 1945.

”Dengan melihat pergerakan ini, pekerjaan rumah kita adalah harus menggerakkan ekspor sehingga neraca perdagangan kembali positif. Walaupun di sisi lain, banyak tantangan sesuai prediksi pertumbuhan ekonomi global yang tidak terlalu menggembirakan,” tuturnya.

Suhariyanto memaparkan, sepanjang tahun lalu ekspor nonmigas mencapai USD162,65 miliar atau meningkat 6,25%. Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–Desember 2018 naik 3,86% dibanding tahun 2017 yang disumbang ekspor besi/ baja. Demikian juga ekspor produk pertambangan dan lainnya meningkat 20,47% yang disumbang meningkatnya ekspor batu bara, sedangkan ekspor produk pertanian menurun 6,40% disebabkan menurunnya ekspor kopi. Dari sisi impor, peningkatan terjadipadaimpormigas dan nonmigas masing-masing USD5,5 miliar (22,59%) dan USD26,2 miliar (19,71%). 

Lebih lanjut pe ningkatan impor migas disebabkan naiknya impor seluruh komponen migas, yaitu minyak mentah USD2 miliar (29,70%), hasil minyak USD3 miliar (21,02%), dan gas USD340,3 juta (12,49%). Selama tiga belas bulan terakhir, nilai impor migas tertinggi tercatat pada Agustus 2018 dengan nilai mencapai USD3 miliar dan terendah terjadi pada Desember 2018, yaitu USD2 miliar. Sementara nilai impor nonmigas tertinggi tercatat pada Juli 2018 sebesar USD15,6 miliar dan terendah pada Juni 2018 dengan nilai USD9,1 miliar. Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Desember 2018 adalah China dengan nilai USD45,24 miliar (28,49%), JepangUSD17,94miliar( 11,30%), dan Thailand USD10,85 miliar (6,83%).

Sementara itu, nilai impor semua golongan penggunaan barang, baik barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari– Desember 2018 mengalami peningkatan dibanding periode sama tahun sebelumnya masing- masing 22,03%, 20,06%, dan 19,54%. Terpisah, Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menyatakan, untuk mengatasi besarnya defisit neraca perdagangan tersebut, pemerintah harus mendorong peningkatan lifting minyak di Tanah Air dengan menciptakan investasi migas yang berkualitas khususnya di bidang eksplorasi. Selain itu, kata Bhima, pemerintah juga harus mampu menekan impor migas melalui percepatan program Mandatory Biodiesel 20% (B20).

Bhima mengakui, saatinimasihadakendala dalam pasokan bahan baku FAME dan kesiapan pengguna bahan bakar tidak bersubsidi (non-PSO) dalam serapan B20. Seperti diketahui, pemerintah berusaha mengendalikan impor dengan mengerem laju 1.147 komoditas konsumsi dan modal serta berupaya menerapkan program B20.

”Pemerintah juga diminta segera menunda proyek infrastruktur yang berkontribusi pada tingginya impor bahan baku dan barang modal. Terakhir, dari sisi ekspor kuncinya adalah hilirisasi industri,” tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan, untuk menjaga stabilisasi ekonomi Indonesia di masa depan, ada beberapa hal yang perlu diantisipasi baik di lingkup global maupun domestik. Pada lingkup global, hal-hal yang perlu diantisipasi yaitu perekonomian global yang tumbuh melambat 3,7%, volume perdagangan dunia yang tumbuh 4%, serta harga beberapa komoditas nonmigas seperti minyak sawit, karet, kopi, kakao, teh, udang, kayu gergajian, dan barang tambang (aluminium, tembaga, nikel, dan timah) yang diprediksi menguat 0,3-3,9%. Sementara tantangan domestik berupa daya saing nasional yang masih perlu ditingkatkan, stabilisasi nilai tukar rupiah, dan risiko politik dari terselenggaranya pemilu serentak 2019.

”Pemerintah optimis dan realistis menghadapi tantangan ekonomi global dan domestik. Dengan mempertimbangkan berbagai tantangan tersebut, target pertumbuhan nilai ekspor nonmigas 2019 ditetapkan moderat 7,5%,” ujarnya. Selain itu, Kemendag juga berkomitmen menyelesaikan 12 perjanjian perdagangan internasional di tahun 2019.

Sumber: koran-sindo.com

Baca Juga

deras.co.id

Terlibat Narkoba, 4 Oknum Polisi Diamankan Polrestabes Medan

Empat orang oknum polisi yang bertugas di Polsek Medan Area diamankan personel Satreskrim  Polrestabes Medan. …