Beranda / Berita / PKI Vs Masyumi, Kisah Pertarungan Sengit Pemilu Pertama Indonesia
deras.co.id
Sukarno di Pemilu 1955. (Foto: Gahetna NL)

PKI Vs Masyumi, Kisah Pertarungan Sengit Pemilu Pertama Indonesia

Kampanye pemilu di negara mana pun selalu berlangsung panas. Tak terkecuali pada Pemilu 1955 yang disebut-sebut sebagai pemilu terbaik yang pernah dilaksanakan setelah 10 tahun Indonesia merdeka dan berdaulat.

Kisah panasnya kampanye terekam jelas dalam berbagai domumen tulisan lama yang menyoal soal tersebut. Anggapan Pemilu 1955 bersih sekali atau “suci” dari konflik dalam kampanye tak sepenuhnya benar. Sebab, dari banyak catatan, ada juga partai yang saat itu disebut banyak juga memakai fasilitas negara. Bahkan, pada ajang kampanye, pentolan partai peserta pemilu kala itu juga sempat akan digebuki massa. Dan saat itu juga tergambar jelas pertarungan yang keras serta sengit antara PKI dan partai besar yang antikomunis, yakni Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia pimpinan Sutan Syahrir.

Soal sengitnya persaingan itu tecermin pada sebuah kisah ajang pertemuan atau kampanye yang digelar di Alun-Alun Malang pada 28 April 1954. Situasi ini hampir saja tak terkendali serta hampir saja memakan korban seorang orator kampanye yang kala itu menjadi elite PKI, yakni DN Aidit. Wakil Partai Komunis Australia Eric Aarons juga didaulat ikut berpidato kala itu.

Saat itu, di Alun-Alun Malang digambarkan suasana adanya selembar spanduk yang dipasang tak jauh dari podium kampanye. Isinya memang mengecam seteru utama PKI, yakni Masyumi. Isinya penuh kata peyoratif kepada partai Islam pimpinan M Natsir. Masyumi disamakan dengan perampok: “Kutuk teror perampok Masjumi-BKOI.”

Bila ditelisik, munculnya spanduk bernada makian itu adalah respons atau balasan dari demontrasi yang dilakukan Masyumi-BKOI beberapa hari sebelumnya di Jakarta, yakni pada tanggal 24 April 1954. Kala itu, demontrasi berlangsung rusuh. Seorang perwira TNI, Kapten Supartha Widjaja, menjadi korban tewas kekisruhan massa.

Alhasil, spanduk di Malang itu adalah pembalasan. PKI menganggap aksi demonstrasi di Jakarta sebagai teror. Sebaliknya, bagi Masyumi, spanduk yang terpampang dalam sebuah podium kampanye PKI di Malang itu merupakan fitnah. Itu karena BKOI organisasi sayap yang berfiliasi dengan Masyumi, yakni Badan Koordinasi Organisasi Islam.

photo
Ketua Umum PKI DN Aidit berkampanye di Pemilu 1955.

Emosi masa Masyumi teraduk-aduk ketika melihat spanduk yang terpampang di dekat podium kampanye PKI itu. Kemarahan mereka semakin bergelora setelah mendengar pidato DN Aidit di atas podium tersebut. Aidit dalam pidatonya mengatakan begini:

“Nabi Muhammad SAW bukanlah milik Masyumi sendiri, iman Islamnya jauh lebih baik daripada Masyumi. Memilih Masyumi sama dengan mendoakan agar seluruh dunia masuk neraka. Masuk Masyumi itu haram, sedangkan masuk PKI itu halal,” kata Aidit.

Mendengar ujaran pidato Aidit, masa Masyumi yang ikut melihat dan hadir dalam ajang langsung berteriak ribut. Ucapan Aidit langsung ditanggapi dengan teriakan: “Dusta … tidak benar … ingat Madiun,” ujar para pemuda Masyumi. Kisah ini diceritakan atau diberitakan dengan mengutip koran milik Masyumi, Abadi, edisi 17 Mei 1954.

Dari kisah yang ditulis harian Abadi itu, massa ternyata tak cukup hanya berteriak mengecam Aidit. Mereka pun merangsek ke depan untuk mengerubungi podium. Tujuannya untuk bertemu Aidit secara langsung sekaligus memintanya mencabut kata-kata yang baru saja diucapkan. Suasana panas terjadi. Untunglah keadaan dapat terkendali sehingga tak memakan korban. Aidit berhasil diselamatkan setelah dia bersedia mencabut kata tersebut dan meminta maaf.

“Saya minta maaf. Saya hanya ingin mengatakan bahwa PKI tidak antiagama,” ujar Aidit mengoreksi. Aidit kemudian berhasil selamat dari amuk massa berkat upaya Ketua Masyumi Surabaya Hasan Aidid yang kala itu mampu melindungi sang Ketua Umum PKI dari amuk massa. Namun, kericuhan kecil tetap sempat terjadi. Massa Masyumi kala itu merampas semua atribut kampanye PKI.

Melihat situasi itu, surat kabar yang menjadi corong PKI, Harian Rakjat, pun tak mau kalah dari Abadi. Koran itu kemudian menurunkan berita bahwa kejadian di Malang tersebut merupakan usaha pembunuhan terhadap Aidit. Tak hanya itu, Ketua Masyumi Surabaya Hasan Aidid yang berhasil menyelamatkan Aidit dari amuk massa malah dituduh sebagai otak keributan.

Harian Rakjat menulis berita begini: “Dua ratus ribu Rakyat Malang menjadi saksi bahwa Hasan Aidid dan komplotannya mengepalai percobaan teror terhadap DN Aidit itu dan sama sekali bukan ‘melindungi jiwa Aidit.'” Tulisan di Harian Rakjat ini terlihat jelas mengomentari pemberitaan Abadi. (Kisah seperti ini juga banyak ditulis di buku lain, misalnya mengenai penyebaran Islam di Jawa, karya sejarawan MC Ricklefs).

photo
Poster kampanye Pemilu Masyumi di Pemilu 1955

Dan dengan mengutip Remy Madiner, seperti yang ditulis majalah Historia, ada kisah yang senada. Penulis buku Partai Masjumi: Antara Godaan Demokrasi dan Islam Integral ini menyatakan, peristiwa yang terjadi di Malang dalam ajang kampanye Pemilu 1955 tersebut merupakan bentrok terbesar antara Masyumi dengan PKI sepanjang tahun 1954. Kala itu, pemilu memang masih akan terselenggara setahun ke depan, tetapi suasana panas sudah terjadi. Bahkan, iklim politik disebutnya sudah mendidih dipuncak ubun-ubun begitu banyak orang.

Rekaman suasana ajang kampanye yang panas, yakni perseteruan antara PKI dan Masyumi, terlihat jelas bila mengacu pada kisah jurnalis senior Alwi Shahab. Dalam sebuah tulisannya di Republika, ia menceritakan, ajang kampanye pemilu semenjak dahulu hingga sekarang memang selalu menjadi sumber keluhan. Pemilu yang kala itu berlangsung pada 29 September 1955 juga mempunyai hal yang tak mengenakan. Ajang Panitia Pemilu Indonesia (PPI) sebagai KPU-nya saat itu juga menjadi ajang atau tumpuan alamat komplain para peserta pemilu.

Surat kabar Trompet Masjarakat (yang 10 tahun kemudian dilarang terbit pascatragedi G-30-S/PKI 1965 karena redaksinya dianggap mendukung gerakan ini), misalnya, melancarkan kritik cukup menyengat terhadap cara kerja PPI. “Perlu dijewer kupingnya,” tulis harian ini pada edisi 28 September 1955.

Selain itu, Trompet Masjarakat juga menulis suasana ajang kampanye di Jakarta menjelang hari pencoblosan. Katanya: “Di Jakarta Raya saja, sampai 27 September 1955 (dua hari jelang pemilu) masih banyak orang yang belum mendapat surat panggilan. Di samping banyak yang namanya ditulis salah. Kalau di Jakarta saja keadaannya sudah begini, bagaimana dengan daerah lain.”

“Rupanya orang-orang yang duduk dalam PPI terlalu banyak percaya pada laporan-laporan yang masuk, tetapi tidak menanyakan dengan kepala sendiri,” tulis harian tersebut. Trompet Masjarakat juga menulis berita mengenai banyaknya orang yang belum mendapatkan panggilan ke TPS-TPS. Harian ini juga menuduh: “Orang-orang PPI lebih banyak kerja di belakang meja sembari ongkang-ongkang kaki.”

Menurut Abah Alwi, panggilan akrab Alwi Shahab, surat-surat kabar lain terbit kala itu juga memberitakan suasana hari terakhir kampanye di Jakarta yang berakhir 24 September 1955 hingga pukul 24.00. “Waktu itu memang tidak ada jadwal kampanye dari masing-masing parpol seperti yang ditetapkan sekarang dan enam pemilu di Orde Baru. Partai-partai besar saat itu seenaknya saja berkampanye sewaktu-waktu tanpa ada pembatasan,” tulis Alwi Shahab.

Gambaran tersebut pas dengan cerita budayawan Betawi Ridwan Saidi ketika bercerita soal suasana kampanye Pemilu di 1955. Katanya, ajang kampanye PKI di Jakarta diramaikan pementasan musik keroncong, sedangkan kampanye Masyumi disuguhi pentas musik dengan lagu-lagu irama Melayu. Sungguh suasana yang hiruk pikuk!

Tak hanya itu saja, pada hari terakhir menjelang pencoblosan Pemilu 1955 (kini lazim di sebut masa tenang), saat tersebut pun dimanfaatkan parpol-parpol untuk berkampanye hingga tengah malam. Para juru kampanye dengan bermobil–ada juga yang naik delman dan becak–mendatangi kampung-kampung. Para jurkam itu berkeliling sambil berteriak-teriak lewat corong atau pengeras suara mengemukakan program untuk menarik para pemilih. Siang harinya, beberapa parpol menggelar rapat umum di berbagai tempat dan lapangan.

Antusiasme masyarakat Jakarta menyambut kampanye pun tergambar dalam laporan di harian Pemandangan. “Rakyat di kampung-kampung banyak yang berbondong-bondong menyaksikan berdatangannya mobil-mobil kampanye. Mobil-mobil itu dilengkapi dengan pengeras suara dan masing-masing saling mengemukakan program partainya.”

Alwi Shahab menceritakan, pada masa kampanye waktu itu, para pimpinan parpol lebih sering turun ke kampung-kampung untuk berbicara langsung dengan simpatisannya.

Saya menyaksikan sendiri saat-saat Mohammad Natsir (Masyumi), Sukarni (Murba), dan Sutan Syahrir (PSI) datang ke kampung Kwitang. Mereka berbincang-bincang dan bersalaman dengan orang kampung, bahkan menyalami tukang becak,” kata Mohammad Yusuf Rausin, penduduk kampung tersebut, kepada Abah Alwi ketika mengenangkan peristiwa kampanye Pemilu 1955. Waktu itu, kampanye menyusuri  kampung-kampung pun sudah dianggap lebih efektif.

photo
Kampanye PKI tahun 1955. (foto: mobgenic.com)

Bagaimana dengan cara kampanye PKI? Alwi Shahab menceritakan, Ketua CC PKI DN Aidit berkampanye ke kampung-kampung yang banyak simpatisan komunisnya. Kantor berita Antara memberitakan, Alimin, tokoh tua PKI, pada 10 September berkampanye di Tanah Tinggi, Jakarta Pusat.

Dikisahkan lebih lanjut oleh Abah Alwi, yang perlu diacungi jempol adalah dalam Pemilu 1955 tidak terjadi kerusuhan-kerusuhan seperti pemilu-pemilu sesudahnya, dan itu bukan berarti tidak ada persaingan keras antarparpol. Apalagi, para jurkam masing-masing kontestan diberikan kewenangan leluasa untuk menyampaikan program-program partainya, yang kadang-kadang menjurus pada agitasi dan secara sengit menyerang parpol yang menjadi lawan politiknya.

Meski begitu, katanya, permusuhan paling keras dalam masa-masa kampanye Pemilu 1955 memang terjadi antara Masyumi dan PKI, juga antara Masyumi dan PNI. Bahkan, pernah dalam sebuah kampanye Masyumi di Pelabuhan Tanjung Priok, tiba-tiba pengeras suara yang digunakan mati karena disabotase buruh-buruh pelabuhan yang sebagian besar simpatisan PKI.

Antara orang PKI dan Masyumi pun saling ejek dalam kampanye. Simpatisan mereka lazim bilang begini: “Jangan pilih Masyumi, nanti Lapangan Banteng diubah menjadi Lapangan Unta.”

Ejekan itu pun dibalas oleh simpatisan Masyumi dengan ejekan pula: “Jangan pilih PKI, nanti Lapangan Banteng diubah jadi Lapangan Merah (nama Lapangan Kremlin di Moskow).”

Serunya suasana Pemilu saat itu membuat pers asing pun memberitakannya. Mereka meramalkan Masyumi akan mendapatkan kemenangan meyakinkan, kemudian disusul PNI, PKI, dan PSI.

Namun, ramalan (pada masa kini dipakai prediksi melalui survei), ternyata melenceng atau tak sepenuhnya benar. PNI malah keluar sebagai partai pemenang Pemilu 1955. Perolehan suara Partai pimpinan Bung Karno ini menyalip Masyumi dan NU. PKI, yang baru saja siuman dan bangkit lagi mulai tahun 1950, dalam ajang ini mampu menduduki peringkat keempat. Posisi PKI yang lumayan ini disebut sebagai pembuka jalan bagi tokoh seperti Aidit untuk menggapai posisi puncak di pentas politik nasional.

Yang paling mengagetkan adalah perolehan suara PSI. Para elite pandai kala itu banyak menyatakan partai politik pimpinan Bung Kecil ini sebagai kuda hitam. Partai ini  diramalkan mendapatkan suara signifikan. Namun, pada kenyataannya, PSI malah terlempar menjadi partai gurem atau kecil. Partai yang diketuai mantan perdana menteri pertama Indonesia Sutan Syahrir ini malah berada di peringkat kedelapan dengan perolehan suara yang hanya mencapai 2 persen saja.

photo
Sutan Syahrir berkampanye di Bali pada Pemilu 1955. (wikipedia.com)

Dan harus diakui, dalam Pemilu 1955, PKI memang menangguk suara besar. Partai berlambang palu arit ini kala itu mendapatkan suara demikian besar, terutama di Jawa Tengah. Partai komunis pada Pemilu 1955 ini mendapatkan 47 kursi, padahal di parlemen sementara mereka hanya punya 17 kursi. Sedangkan, Partai Nahdlatul Ulama (NU) yang baru saja memisahkan diri dari Masyumi menyabet 47 kursi dan unggul di dua provinsi: Jatim dan Kalsel. Sedangkan, Masyumi dan PNI sama-sama meraup 58 kursi dalam Pemilu 1955 itu. Masyumi memenangkan perolehan suara hampir di semua wilayah provinsi yang ada di Indonesia kala itu.

Nah, apakah cerita ramalan di Pemilu 1955 yang serupa dengan perkiraan hasil survei pada pilpres 2019 kali ini akan berulang? Jawabnya, entahlah. Sebab, tak hanya ramalan pemenang Pemilu 1955 yang meleset, hasil survei pada dua pillkada menjelang Pemilu 2019 (Pilkada DKI, Jawa Barat, dan Jawa Tengah) juga melenceng. Terjadi perolehan deviasi tentang pemenang dan perolehan suara yang sangat lebar. Bahkan, margin of error yang menjadi kelaziman dalam setiap survei yang hanya 3 persen, secara nyata, margin of error sangat lebar dan diolok-olok karena di sebuah pilkada ada yang sampai angka 20 persen.

Alhasil, ramalan atau survei di masa kini soal hasil pemilu, betapa pun canggihnya, tetap merupakan spekulasi. Statistik ternyata masih tetap tergolong bukan ilmu pasti. Wallahu’alam.

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Baca Juga

deras.co.id

Berkah Ramadhan: Inalum Gelar Safari Ramadhan di 12 Kabupaten/Kota

Medan, Dalam rangka menyemarakkan suasana bulan Ramadhan 1440 H, PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau …