Thursday , August 22 2019
Beranda / Berita / Ketika Sang Profesor ‘Garis Keras’ Akhirnya Meminta Maaf
deras.co.id
Mahfud MD meminta maaf terkait pernyataannya mengenai pendukung Prabowo garis keras. Mahfud menyebut dirinya berniat mengajak rekonsiliasi. (Foto:Tribunnews.com/ Danang Triatmojo)

Ketika Sang Profesor ‘Garis Keras’ Akhirnya Meminta Maaf

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menyampaikan permohonan maaf karena ucapannya soal pendukung Prabowo Subianto berasal dari daerah garis keras. Ia memahami istilah ucapannya bisa dipahami dengan sudut pandang yang tidak sama.

Dia menekankan garis keras yang dimaksudnya sebagai istilah sikap kokoh, tidak mau berkompromi dengan pandangan yang tidak sejalan.

Arti garis keras di dlm literatur ” is an adjective describing a stance on an issue that is inflexible and not subject to compromise”. Arti ini tak bs dicabut krn sdh jd term dlm ilmu politik scr internasional. Tp bg yg salah memahami penggunaan istilah ini sy minta maaf,” ujar Mahfud dikutip dari akun Twitternya, @mohmahfudmd, Rabu, 1 Mei 2019.

Mahfud menekankan tak ingin mau memperpanjang polemik istilah garis keras tersebut. Apalagi, ada isu yang menudingnya sengaja melontarkan ucapan tersebut karena untuk pengalihan isu kecurangan Pemilu 2019.

Dia meminta agar semua pihak lebih baik fokus mengawal proses penghitungan suara pemilu. Kata dia, dalam sistem demokrasi mestinya semua harus mendapatkan keadilan.

Daripada sy dituding “mau membelokkan isu” dari kecurangan pemilu maka sy takkan memperpanjang polemik. Mari kita kawal sj ber-sama2 proses pemilu ini krn jalannya msh panjang. Semua hrs mendapat keadilan sesuai tuntutan demokrasi. Demokrasi hrs selalu diimbangi hukum (nomokrasi),” demikian cuitan tambahan Mahfud.

Imbas ucapan Mahfud memang banyak kritikan tetuju kepada pakar hukum tata negara tersebut. Sejumlah pihak mulai dari tokoh Aceh, Sulawesi Selatan sampai Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengkritisi Mahfud yang juga menjabat anggota Dewan Pengarah Badan Pemmbinaan Ideologi Pancasila.

Pernyataan Mahfud dianggap tak tepat karena dinamika saat ini sedang panas tensinya karena menunggu proses penghitungan suara Pemilu 2019.

Sumber: viva.co.id

Baca Juga

deras.co.id

Para Pelajar Asal Jepang Disambut Tarian Tradisional Batak Toba Saat Berkunjung Ke Sekolah Ini

SMA Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah (YPSA) menyambut kedatangan sepuluh pelajar Ichikawa Jepang program Sister City …