Wednesday , September 18 2019
Beranda / Berita / Baca, 4 Fakta Ini Ada Dibalik Guncangan Magnitudo 7.0 Di Ternate
deras.co.id

Baca, 4 Fakta Ini Ada Dibalik Guncangan Magnitudo 7.0 Di Ternate

Jakarta, Gempa sangat kuat magnitudo 7 mengguncang Ternate, Maluku Utara pada Minggu (7/7) malam. BKMG mengeluarkan peringatan dini tsunami akibat guncangan kuat tersebut.

Guncangan gempa terasa hingga Sulawesi Utara. Setidaknya 8 daerah di Maluku Utara dan Sulawesi Utara merasakan gempa tersebut seperti Minahasa Utara bagian selatan, Minahasa Selatan bagian Selatan, Bolaang Mongondow bagian selatan, kemudian Kota Bitung. Maluku Utara yang berpotensi gelombang tsunami yakni Halmahera, Kota Ternate, dan Kota Tidore. Seluruh wilayah tersebut dituliskan berstatus waspada.

Gempa magnitudo 7 itu terjadi Minggu pukul 22.08 WIB. Pusat gempa berada di laut dengan koordinat 0,54 LU-126,19 BT atau 133 kilometer arah barat daya Ternate.

BMKG sempat melakukan pemutakhiran terkait kekuatan gempa di Ternate. Awalnya, BMKG memberikan informasi kekuatan gempa Ternate yakni magnitudo M 7,1. Namun, selang tiga menit data gempa dimutakhirkan menjadi M 7,0. Berikut fakta-fakta seputar gempa Ternate M 7:

Kekuatan Gempa Dimutakhirkan

Gempa magnitudo M 7,1 di Ternate, Maluku Utara dimutakhirkan menjadi magnitudo 7,0. BMKG menegaskan gempa yang mengguncang Ternate terjadi hanya satu kali, bukan dua kali.

“Magnitudo 7,1 informasi pertama, terus kami update jadi magnitudo 7,0, gempa satu kali aja, hasil update kita mutakhirkan,” kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono, saat dikonfirmasi, Minggu (7/7/2019).

Rahmat juga menjelaskan, gempa M 7,1 itu berjenis gempa tektonik. BMKG mengeluarkan level waspada untuk kawasan Minahasa Selatan dan Minahasa Utara bagian Selatan.

2 Jam Peringatan Dini Tsunami

BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami sejak gempa M 7 mengguncang Ternate, Maluku Utara pad Minggu (7/7) pukul 22.08 WIB. Peringatan tsunami itu membuat sejumlah warga di Ternate dan sebagian daerah di Sulawesi Utara panik.

Salah seorang warga Ternate, Arman, mengatakan warga yang merasakan gempa sempat panik dan keluar dari rumah. Dia sendiri merasakan getaran gempa lebih dari 5 detik.

“Lama juga sekitar 20 detik. Warga banyak yang keluar rumah,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (7/7/2019).

Di Sulawesi Utara, warga juga sempat berhamburan keluar rumah. Kapolres Bitung AKBP Stefanus Tamuntuan mengatakan warga sempat panik, namun kondisi terpantau aman dari tsunami.

“Iya aman. Kami masih melakukan pemantauan,” ujar Kapolres Bitung AKBP Stefanus Tamuntuan ketika dimintai konfirmasi detikcom.

BMKG akhirnya menyampaikan informasi berakhirnya peringatan tsunami pada Senin (8/7) pukul 00.09 WIB.

“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi berpotensi tsunami dengan level WASPADA untuk wilayah Minahasa Selatan dan Minahasa Utara bagian Selatan. Peringatan dini tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi ini diakhiri pada pukul 00.09 WIB tanggal 8 Juli 2019,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

Gempa M 7 Ternate Berjenis Gempa Dangkal

BMKG mengatakan gempa M 7 di Ternate, Maluku Utara berjenis gempa dangkal. Gempa itu diakibatkan adanya tekanan pada lempeng mikro Halmahera.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat deformasi kerak bumi pada Lempeng Laut Maluku. Gempa ini memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault) akibat adanya tekanan atau kompresi lempeng mikro Halmahera ke arah barat, dan tekanan lempeng mikro Sangihe ke arah timur,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati kepada wartawan, Senin (8/7/2019).

Dwikorita mengatakan tekanan itu membuat lempeng laut Maluku terjepit hingga membentuk double subduction ke bawah Halmahera dan ke bawah Sangihe. Sedangkan getaran gempa paling kuat dirasakan di wilayah Bitung dan Manado. Sebanyak 19 kali gempa susulan terjadi setelah gempa tersebut.

“Hingga pukul 00.54 WIB, Hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 19 aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock,” kata Dwikorita.

Dia melanjutkan, di area pusat gempa tersebut terdapat gunung api bawah laut. Keberadaan gunung di pusat gempa, kata Dwikorita membuat kawasan rawan longsor yang mampu menimbulkan indikasi tsunami. Maka dari itu, pihak BMKG akan melakukan pemantauan 24 jam selama 7 hari ke depan bersama PVMBG untuk memonitor perkembangan gempa susulan.

“Kita ketahui ada beberapa gunung api di dasar laut dan di situ juga terdapat batuan yang rapuh yang dikhawatirkan getaran gempa bumi berpotensi menimbulkan longsor bawah laut atau pun longsor lereng gunung api di sekitar episenter. Jadi pemantauan menunggu 2 jam ini sesuai SOP sangat penting dilakukan untuk meyakinkan bahwa benar-benar tak terjadi perubahan air laut yang mengindikasikan tsunami,” terangnya.

Belum Ada Laporan Kerusakan

Belum ada laporan kerusakan akibat gempa magnitudo 7 di Ternate, Maluku Utara ini. Hingga saat ini pihak BPBD setempat masih melakukan patroli untuk menyisir ada-tidaknya kerusakan akibat gempa.

“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut,” ujar Dwikorita.

Gempa ini juga terasa hingga Manado. Bahkan kabarnya, Rumas Sakit Siloam Manado sempat dibuat panik akibat guncangan gempa. Diinformasikan juga Rumah Sakit mengalami kerusakan.

Namun, Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Manado Jenny Bangonang memastikan keadaan RS tersebut aman dan kondusif. Terkait kabar kerusakan, Jenny mengatakan memang ada retakan, tapi bukan akibat gempa.

“Di RS Siloam cuma pecahan yang lalu juga, tapi aktivitas mereka tidak terganggu. (Pasien) juga tidak dibawa keluar,” ucapnya.

Sumber: detik.com

Baca Juga

deras.co.id

Ribuan Nelayan Tradisional Tanjungbalai Asahan Demo di Pemko Tanjungbalai Desak Tindak Pukat Trawl

Tanjungbalai, Ribuan orang yang tergabung dalam Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia mendesak agar Pemerintah Tanjungbalai fan …