Wednesday , October 16 2019
Beranda / Featured / Jasa Besar Bapak ‘High Tech’ Untuk Hubungan RI-Jerman

Jasa Besar Bapak ‘High Tech’ Untuk Hubungan RI-Jerman

Bacharuddin Jusuf Habibie merupakan putra bangsa kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936. Ia merupakan sosok negarawan yang visioner . Sebut saja visi pembangunannya, khususnya di bidang teknologi kedirgantaraan dan kemaritiman, serta sumber daya manusia yang terdidik dan terlatih. Habibie lah sang pionir yang meletakkan fondasi demokrasi bagi Indonesia yang bisa kita nikmati pada saat ini.

Ia pun mendapat julukan Bapak Teknologi dan Kedirgantaraan Indonesia. Masih segar dalam ingatan, mahakaryanya yakni Pesawat N-250 Gatot Kaca, pesawat turboprop berkapasitas 50-70 penumpang berhasil lepas landas pada tanggal 10 Agustus 1995 sebagai kado kemerdekaan 50 tahun Indonesia. Meski akhirnya proyek produksi pesawat tersebut terhenti akibat krisis moneter 1997. Namun, hasil karyanya membuka mata dunia kepada kemampuan Indonesia di bidang indutsri kedirgantaraan.

B.J. Habibie memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan Jerman. Ia menuntut ilmu di Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule (RWTH) Aachen, Jerman Barat, jurusan Konstruksi Pesawat Terbang pada tahun 1955. Di universitas tersebut, ia meraih gelar Doktor-Ingeniur dengan predikat summa-cumlaude. Hampir dua puluh tahun Habibie berkarier di Jerman. Ia bahkan pernah menududuki jabatan Wakil Presiden perusahaan penerbangan Messerschmitt Bolkow-Blohm, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.

Seorang inspirator

Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Peter Schoof, dalam cuitan Twitter-nya menyampaikan bahwa Presiden ke-3 Republik Indonesia telah berkontribusi besar dalam terjalin eratnya hubungan bilateral antara Indonesia dan negara yang terletak di jantung Eropa tersebut.

Baca juga: In Memoriam ‘Mr. Crack’, Si Jenius Ahli Aeronautika yang Diakui Dunia

Rasa kehilangan besar juga dirasakan oleh Stefan Dreyer, Direktur Goethe-Institut Indonesia. Kepada DW Indonesia, Dreyer juga menyebut Habibie adalah teladan bagi generasi muda Indoneisa yang memiliki impian untuk melanjutkan studi di Jerman.

“Almarhum adalah sahabat baik Jerman dan telah berkontribusi besar bagi hubungan Indonesia dan Jerman. Ia yang membangun jembatan hubungan antara kedua negara, menjadi contoh serta panutan bagi generasi muda Indonesia dan semua pencapaiannya menjadi motivasi besar bagi mereka yang ingin belajar bahasa Jerman serta melanjutkan pendidikan di Jerman,” ujar Dreyer dalam pernyataan resmi tertulisnya.

“Goethe-Institut berterima kasih atas semua bantuan dan dukungan yang kami terima selama bertahun-tahun. Simpati dan belas kasih tulus kami kepada keluarga yang ditinggalkan,” sambung Dreyer yang juga menjabat sebagai Direktur Regional Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru.

Kenangan berkesan

Kepada DW Indonesia Direktur Pengelola EKONID, Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman, Jan Rönnfeld, mengungkapkan Habibie merupakan orang Indonesia yang paling terkenal seantero Jerman. Hal ini dikarenakan hubungan baiknya dengan banyak institusi dan perusahaan di Jerman.

“Dia setengah orang Jerman, tinggal di Jerman bertahun-tahun, dan sangat fasih berbahasa Jerman. Tidak hanya saat kuliah dan bekerja, saat ia menjabat sebagai Menteri Negara dan Riset, dia bekerjasama dengan banyak institusi dan perusahaan Jerman,” ujar Rönnfeld.

Rönnfeld mengaku mempunyai banyak kenangan berkesan dengan Presiden ke-3 Republik Indonesia tersebut. Ia sudah sering bertemu saat Habibie masih menjabat sebagai Wakil Presiden. Ia menyampaikan Habibie memiliki kepribadian dan karakter yang menyenangkan.

BJ Habibie mendapat gelar Diplom Ingenieur (Insinyur) dari universitas teknik Jerman RWTH Aachen tahun 1960. Tahun 1965, ia mempertahankan disertasi di bidang teknik dirgantara, dan mendapat gelar Dr.-Ing, yaitu doktor di bidang teknik. Hingga usia lanjut, BJ Habibie tetap berhubungan erat dengan Jerman. Foto: di Münster bersama Dubes Indonesia ketika itu (2016), Fauzi Bowo (paling kanan).

“Saya bertemu beliau pertama kali pada tahun 1995 di Jerman. Dia datang ke Jerman bersama Pak Soeharto. Lalu saya masih ingat ketika dia menjadi presiden dan mengunjungi sebuah eksibisi industri tahun 1999, dia datang tiga kali. Dia membawa semua kabinetnya ke eksibisi tersebut melihat pameran teknologi industri Jerman. Saya mempunyai banyak kenangan dengannya. Indonesia kehilangan sosok yang sangat baik,” kata Rönnfeld.

Selain itu Rönnfeld juga memuji kepemimpinan Habibie semasa menjabat sebagai presiden. Walaupun hanya sebentar, ia menilai Habibie mampu mambawa banyak perubahan di Indonesia serta mengatasi gejolak ekonomi yang ketika itu mendera Indonesia dengan berbagai kebijakannya. Ia juga menyebut Habibie sebagai lambang kesuksesan demokrasi di Indonesia selama 20 tahun terakhir ini.

Sumber: dw.com/id

Baca Juga

deras.co.id

Walikota Medan Di ‘Gas’ KPK, Ini Kata Gubernur Sumut

Medan, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi mengaku prihatin atas OTT KPK Wali Kota Medan …