Sunday , November 28 2021
Beranda / Berita / Jangan Stres, Hasil Penelitian Ungkap Stres Mempercepat Tertularnya Virus
deras.co.id

Jangan Stres, Hasil Penelitian Ungkap Stres Mempercepat Tertularnya Virus

Tubuh mengeluarkan hormon kortisol atau hormon stres ketika tubuh atau pikiran sedang banyak masalah. Hormon ini bisa memicu daya tahan tubuh seseorang menjadi drop. Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan kadar hormon stres atau kortisol tinggi, lebih cenderung mempercepat tertular virus dan menyebabkan kematian.

Kortisol adalah hormon steroid yang bertanggung jawab atas respons tubuh. Hormon ini muncul ketika seorang individu stres, bekerja dengan bagian otak yang terkait dengan rasa takut, motivasi, dan suasana hati.

Dilansir dari Science Times, Jumat (19/6), ahli dari Imperial College London dan Konsultan Endokrinologis di Imperial College Healthcare NHS Trust Inggris, Profesor Waljit Dhillo menunjukkan bagaimana kadar kortisol menjadi penanda seberapa parah Coronavirus telah menginfeksi seorang pasien.

Hormon ini juga mengatur beberapa fungsi tubuh seperti karbohidrat, lemak, dan manajemen protein. Lalu juga mengatur tekanan darah dan pada saat yang sama meningkatkan glukosa untuk gula darah. Kortisol juga merespons ketika virus atau penyakit lain ada dalam tubuh, memicu perubahan metabolisme, fungsi jantung, dan sistem kekebalan tubuh.

Sedangkan tingkat kesehatan pada fase istirahat berada pada 100-200 nanometer per liter. Dan menjadi hampir nol ketika orang tidur.

Penelitian ini melibatkan 535 pasien dengan 403 yang positif dengan Covid-19. Mereka yang terinfeksi virus memiliki tingkat kortisol lebih tinggi daripada 132 yang tidak terinfeksi.

Pasien dengan kadar rendah dan kadar kortisol berlebih sama-sama berbahaya. Tingkat stres yang tinggi biasanya akan menyebabkan penambahan berat badan, sakit kepala, masalah pencernaan, pola tidur yang terganggu, depresi, kecemasan, dan bahkan penyakit jantung.

Peningkatan kortisol yang dikombinasikan dengan Coronavirus menyebabkan peningkatan risiko infeksi dengan hasil yang buruk. Para pasien Covid-19 dengan tingkat dasar kortisol 744 atau kurang, hanya bisa bertahan selama rata-rata 36 hari. Sementara jika hormon itu lebih tinggi, hanya bisa bertahan pada 15 hari.

“Dari sudut pandang seorang endokrinologis, masuk akal bahwa pasien Covid-19 yang paling sakit akan memiliki tingkat kortisol yang lebih tinggi,” katanya.

Para pasien berasal dari tiga Rumah Sakit London-Charing Cross, Hammersmith, dan St. Mary’s. Tim menyimpulkan bahwa ada peningkatan 42 persen risiko kematian ketika tingkat kortisol berlipat dua kali. Sayangnya, 112 pasien dengan Coronavirus meninggal selama penelitian antara 9 Maret dan 22 April, sementara 9 pasien tanpa virus meninggal karena penyakit yang berbeda.

“Pasien memburuk lebih cepat. Maka penting untuk mempertimbangkan kadar kortisol pasien ketika pasien sedang dirawat,” kata Profesor Dhillo.

Sumber: jawapos.com

Baca Juga

Inalum Bantu Penanggulangan Covid-19 di Tapanuli Utara

DERAS.CO.ID – Taput– Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungannya, PT INALUM (PERSERO) menyalurkan bantuan …