Beranda / Featured / Hindari Tempat Sempit & Tertutup Agar Terhindar Dari Virus Corona
Tempat Kerja

Hindari Tempat Sempit & Tertutup Agar Terhindar Dari Virus Corona

Tidak hanya imbauan untuk menjauhi keramaian, menghindari tempat sempit dan tertutup dengan sirkulasi udara yang tidak baik sebaiknya juga dilakukan.

Hal itu agar risiko terinfeksi virus corona bisa dihindari.

“Virus ini benar-benar menyukai orang-orang yang berada di dalam ruangan tertutup untuk waktu yang lama dalam kontak dekat,” ujar profesor kedokteran pencegahan di Vanderbilt University William Schaffner, sebagaimana dikutip dari Business Insider (9/6/2020).

Di beberapa negara, imbauan agar orang-orang menjauhi tempat tertutup ini terangkum dalam imbauan yang dikenal dengan 3 C.

Secara prinsip, 3 C ini meliputi menjauhi: crowded (keramaian), confinement (tertutup) dan contact (kontak).

Kontak (contact)

Kontak adalah upaya pencegahan dalam rangka menjaga jarak sosial.

Pencegahan ini dilakukan dengan menggunakan masker, mencuci tangan dengan baik dan sering, serta menjaga jarak setidaknya enam kaki

“Setiap 15 menit percakapan tatap muka antara orang-orang yang berjarak enam kaki satu sama lain merupakan kontak dekat,” ujar Dr. Muge Cevik, seorang ahli penyakit menular dan virologi di Fakultas Kedokteran Universitas Andrews Andrew di Skotlandia melansir dari New York Times (6/6/2020).

Semakin lama percakapan dan semakin dekat kedekatan fisik maka semakin besar risiko tertular virus corona.

Kegiatan di ruangan tertutup dalam jumlah besar orang lebih berisiko menyebarkan virus dibandingkan dengan acara yang diadakan di luar.

Apalagi jika ventilasi dalam gedung dinilai buruk atau jendela ruangan tidak terbuka.

Infeksi di ruang tertutup juga banyak ditemukan di kendaraan seperti bus dan van.

“Ketika ada udara yang stagnan, tetesan bisa bertahan lebih lama dari yang Anda harapkan, dan akan ada banyak kontaminasi pada permukaan,” kata Dr. Muge Cevik.

Menurut dia aliran udara segar lebih baik karena akan mengencerkan virus.

“Ketika Anda berada di sebelah sumber aliran udara yang baik atau melalui jendela, saluran pernapasan bagian atas Anda tidak akan banyak terkena virus,” ujar dia.

Contoh kasus

Pernyataan Cevik merujuk pada penelitian yang melacak wabah di sebuah kuil Budha di China pada bulan Januari.

Saat itu ada 300 orang dalam acara yang berlangsung selama dua setengah jam dan termasuk makan siang.

Acara itu diadakan di luar ruangan, dan sebagian besar jamaah tidak terinfeksi.

Adapun 30 orang yang terinfeksi, pulang dengan orang pertama yang jatuh sakit. Saat itu perjalanan sekitar satu jam menggunakan mobil.

Sementara saat  berangkat mereka menggunakan bus. Orang yang duduk di dekat jendela terbuka tidak ada seorang pun yang yang sakit.

Kecuali, satu-satunya orang yang duduk tepat di sebelah wanita yang terinfeksi.

 

Keramaian (crowded)

Ini merujuk pada keramaian yang muncul dari kumpulan sejumlah orang.

Kumpulan besar orang dimanapun dianggap berisiko tertular virus.

Termasuk keramaian di luar ruangan juga memiliki risiko ini.

Hal ini karena keramaian berpotensi membuat lebih banyak orang berkontak dengan lebih banyak sumber yang mungkin potensial menularkan.

“Anda dapat membuat skenario di mana Anda memiliki setiap orang terpisah sejauh enam kaki, tetapi jika skenario itu melibatkan 500 orang, itu secara inheren lebih berisiko daripada jika skenario yang sama melibatkan 30 orang,” kata Dr. Taylor.

 

Negara yang menerapkan 3 C

Jepang dan Malaysia adalah negara yang konsisten mengimbau masyarakatnya untuk menghindari 3 C.

Melansir dari laman media sosial Kementerian Kesehatan Malaysia, selain imbauan untuk menjauhi tiga hal tersebut negara ini juga mengimbau agar masyarakatnya melaksanakan 3 W.

Yakni Wash (mencuci tangan dengan sabun), Wear ( menggunakan masker) dan Warn (peringatan beberapa hal yang meliputi menghindari bersalaman, amalkan etika batuk dan bersin, berobat saat bergejala, tetap di rumah dan hindari bertamu, lakukan desinfektan pada area yang sering disentuh).

Selain Malaysia, Jepang juga menjadi negara yang menerapkan 3 C.

Berbeda dengan Malaysia yang sempat memberlakukan lockdown, melansir dari Business Insider, Jepang bahkan hanya menerapkan sistem 3 C yang dijadikan gaya hidup permanen penduduknya.

“Model ini memungkinkan kegiatan ekonomi pada tingkat tertentu dan mempertahankan kebebasan orang untuk bergerak, dan dengan demikian lebih berkelanjutan dalam jangka panjang daripada model yang lebih memberatkan seperti penguncian,” ujar Kazuto Suzuki, seorang profesor politik internasional di Public University Hokkaido.

 

Sumber: Kompas.com

Baca Juga

deras.co.id

Masjid Hagia Sophia Jadi Cahaya Terang, UNESCO dan Negara-negara Dunia Berang

Diresmikannya Hagia Sophia menjadi masjid oleh Pemerintah Turki membuat sejumlah pihak meradang. Setelah sejumlah negara …