Thursday , August 6 2020
Beranda / Berita / Mantap Jiwa, LBM Eijkman Datangkan Mesin PCR COBAS 6800, Ini Keunggulannya
deras.co.id
CANGGIH: Mesin deteksi Covid-19 COBAS 6800 milik Lembaga Eijkman. Mesin senilai Rp 10 Milyar itu sanggup melakukan 1000 tes PCR per hari. (Foto:BKPP Kemenristek)

Mantap Jiwa, LBM Eijkman Datangkan Mesin PCR COBAS 6800, Ini Keunggulannya

Lembaga Eijkman baru saja mengupgrade kemampuan uji PCR-nya. Lembaga di bawa Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) ini berhasil mendatangkan mesin deteksi Covid-19 COBAS 6800. Mesin senilai Rp 10 Milyar tersebut diperoleh dari dana sumbangan PT. Tempo Scan Pacific.

Kepala Lembaga Eijkman Amin Soebandrio menuturkan, pihaknya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk mendapatkan mesin tersebut. Indonesia harus bersaing dengan 300 lembaga lainnya di dunia guna mendapatkan mesin deteksi ini.

Menurutnya, mesin ini memiliki banyak kelebihan. Mesin ini menggunakan sistem otomatis yang khusus didesain untuk pengerjaan aplikasi yang highthrouput, seperti perhitungan viral load, skrining darah, dan uji mikrobiologi lainnya. Sistem tersebut mampu meminimalisir kesalahan pre-analitik selama proses pemeriksaan Covid-19. Selain itu, dapat mengurangi jumlah sumber daya manusia yang dibutuhkan jika dibandingkan dengan proses pemeriksaan PCR COVID-19 secara manual.

“Kualitas lebih terjamin. Kerja lebih cepat. Itu kenapa dapat melakukan 1000 tes per hari,” tuturnya dalam temu media secara daring, Kamis (16/7).

Pengujian SARS-CoV-2 menggunakan COBAS 6800 Systems ini pun telah disetujui untuk EUA (Emergency Use Authorization). Sehingga sensitivitasnya sama seperti PCR pada umumnya.

Dengan adanya penambahan kemampuan tes PCR ini, dia meyakini bahwa nantinya hasil uji swab tak akan lama lagi. Cukup dua hari sejak spesimen diterima.

“Sample diterima hari ini, besokannya masuk mesin. Keeseokan harinya bisa kita berikan hasilnya. Tentu dengan sedikit proses administrasi,” paparnya.

Setiap harinya, Eijkman setidaknya menerima 700-800 spesimen dari seluruh Indonesia. Pihaknya sudah berjejaring dengan 274 fasilitas kesehatan. Saking banyaknya sampel yang masuk, freezer Eijkman bahkan disebut tak sanggup lagi menampung.

Dia menambahkan, untuk pengoperasian mesin ini, pihaknya mendapat bantuan reagen dari pemerintah Selandia Baru sebanyak 15 ribu spesimen senilai Rp 4,5 Milyar. Artinya, reagen hanya dapat digunakan sangat singkat. Terlebih, mesin sudah mulai running sejak 16 Juni 2020 lalu. Karenanya, dia berharap ada perhatian khusus dari gugus tugas terkait reagen ini.

Dalam kesempatan yang sama, Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro memaparkan, bahwa Lembaga Eijkman telah memiliki peran besar dalam mengatasi pandemi ini. Sejak Maret, Eijkman jadi salah satu lembaga yang langsung terlibat dalam pengujian sample Covid-19. Belum lagi dalam waktu yang sama, Eijkman harus melakukan penelitian terkait vaksin Covid-19.

Karenanya, dia berharap, dengan adanya terobosan mesin baru ini maka manajemen SDM lebih mudah diatur lagi. Mana yang fokus penelitian vaksin, deteksi PCR, hingga genom sequencing.

Selain itu, kemampuan uji PCR sebanyak 1000 per hari ini juga bakal membantu pencapaian target Presiden Joko Widodo. Di mana, tes PCR ditargetkan bisa mencapai 30 ribu per hari. Naik 10 ribu dibanding sebelunnya.

“RT PCR biasa kan kapasitasnya sekitar 400 per hari. Dengan alat ini berarti ada peningkatan 2,5 kali lipat,” tutur Bambang.

Diakuinya, bahwa selama ini Indonesia sering disorot karena tes PCR kurang masif. Sehingga data sembuh dan meninggal sering dianggap tidak representative.

Jika merujuk data gugus tugas percepatan penanganan Covid-19, memang sudah lebih dari 1 juta spesimen yang diperiksa. Namun, menurut dia, hal ini tetap harus jadi perhatian. Sebab, angka tersebut merujuk pada spesimen bukan orang.

“Bisa jadi satu orang dua spesimen. Yang kita target bukan jumlah spesimen. Tapi sasaran kita kan orangnya,” tegasnya.

Mengenai reagen, Mantan Menteri Keuangan itu mengamini bahwa ini hal krusial. Menurutnya, secanggih apapun mesin jika tanpa reagen maka sama saja bohong. Dia mengibaratkannya seperti mobil. “secanggih apapun mobil kalau tidak ada bensinnya gak jalan,” ungkapnya.

Selain meminta gugus tugas memberi perhatian khusus soal reagen ini, Bambang mengatakan, bahwa BPPT saat ini sedang berusaha mengembangkannya juga. Bekerjasama dengan industri alat kesehatan dalam negeri, penelitian sudah terlihat formatnya. “Tentu butuh waktu. Tapi kami optimis,” katanya.

Hal senada diungak Sekretaris Utama Badan Intelejen Negara (BIN) Komjen Pol Bambang Sunarwibowo. Menurutnya, target capaian spesimen harus bisa dikejar. Mengingat saat ini Indonesia baru bisa memenuhi 0,4 persen per satu juta populasi. “Padahal ketentuan WHO itu 1 persen per satu juta populasi,” tuturnya.

Dia berharap, kehadiran alat ini dapat membantu mempercepat prosss uji PCR. Sehingga semakin cepat proses pemutusab mata rantai penularan. Terutama di zona merah.

Sumber: jawapos.com

Baca Juga

deras.co.id

Ekonomi Kuartal I Minus 5 Persen, RI Terancam Resesi?

Jakarta, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Indonesia belum mengalami resesi. Pasalnya Indonesia baru …