Thursday , September 24 2020
Beranda / Berita / Sah, Menkopolhukam Sebut 99,9 Persen Bulan Depan RI Resesi, Ini Dampaknya
deras.co.id
Menkopolhukam Mahfud MD saat bertemu dengan budayawan dan seniman DIY, Sabtu (29/8) malam. Akibat Covid-19, pemerintah memperkirakan September, 99,9 Indonesia akan resesi. (Foto:Gatra/Kukuh Setyono)

Sah, Menkopolhukam Sebut 99,9 Persen Bulan Depan RI Resesi, Ini Dampaknya

Jakarta, Menkopolhukam Mahfud Md mengatakan Indonesia hampir dipastikan masuk resesi bulan depan. Meski demikian, ia meminta masyarakat tak perlu khawatir karena resesi bukanlah krisis ekonomi.

“Sementara kehidupan ekonomi turun terus. Bulan depan hampir dapat dipastikan 99,9% akan terjadi resesi ekonomi di Indonesia,” katanya saat memberikan sambutan dalam acara temu seniman dan budayawan Yogya di Warung Bu Ageng, Jalan Tirtodipuran, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Sabtu lalu (29/8/2020).

Apa dampaknya? Dampak resesi sebenarnya telah banyak diulas oleh sejumlah ekonom belakangan ini. Hal ini menyusul banyaknya negara yang masuk jurang resesi.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menyebut dampak resesi adalah maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK). Kemudian, pekerja yang memiliki kontrak jangka pendek kemungkinan tidak diperpanjang.

“Tentu saja perusahaan-perusahaan yang punya kontrak jangka pendek atau kontraknya terbatas misalnya, dia tidak akan dilanjutkan untuk perpanjangan kontrak. Kemungkinan itu terutama bagi industri-industri yang terpengaruh sampai akhir tahun bahkan sampai tahun depan seperti industri penerbangan dan sebagainya itu yang saya kira masih relatif terkendala,” katanya kepada detikcom seperti ditulis, Senin (31/8/2020).

Senada, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menjelaskan PHK banyak terjadi saat resesi karena permintaan atau konsumsi dari masyarakat akan menurun. Para pengusaha pun terpaksa harus melakukan efisiensi terhadap karyawannya.

“Masyarakat bawah daya belinya turun, masyarakat atas punya uang tapi dia berhati-hati dalam spending sehingga pelaku usaha itu kan bergantung kepada pembelian konsumen. Kalau yang beli sepi maka pelaku usaha, produsen-produsen, pabrik-pabrik yang jualan pasti akan turun dari sisi penjualan, kalau turun terpaksa dia melakukan efisiensi salah satunya PHK karyawan,” jelasnya.

Saat banyak PHK terjadi, lanjutnya, otomatis pengangguran di Indonesia akan semakin meningkat dan begitu juga dengan jumlah masyarakat miskin akan semakin bertambah.

“Kalau banyak karyawan di PHK berarti pengangguran meningkat, kalau meningkat daya beli masyarakat turun dan kemiskinan bisa meningkat dan itu yang dirasakan,” terangnya.

Sumber: detik.com

Baca Juga

deras.co.id

Memandikan Jenazah Tak Sesuai Syariat, Umat Islam Ultimatum RS Djasemen Saragih Siantar

Menyikapi peristiwa penanganan jenazah yang dilakukan RS. Djasemen Saragih Kota Pematang Siantar yang menimbulkan polemik …