Monday , January 25 2021
Beranda / Featured / Unknown Story: Sisi Lain Petugas Jaringan Transmisi

Unknown Story: Sisi Lain Petugas Jaringan Transmisi

Paritohan- Jaringan transmisi 275 kV PT Inalum (Persero) terdiri dari 271 menara dengan lintasan sepanjang 120 kilometer yang melewati empat kabupaten, yaitu Kabupaten Toba, Asahan, Simalungun, dan Batu Bara.

“Kesetrum enggak ya, aman enggak ya ini stiknya,” ujar seorang lelaki yang sedang mengukur isolator dalam kondisi konduktor bertegangan.

Namanya Dany. Ia telah bekerja di PT Inalum (Persero) selama delapan tahun. Ia ditemani oleh Nijar, yang juga bekerja di Inalum sejak tahun 2013. Keduanya berada di seksi Power Civil & Transmission Line yang bertugas untuk menjaga keamanan dan keandalan suplai listrik dari dua PLTA legendaris di Sungai Asahan, yaitu Sigura dan Tangga ke seluruh sudut pabrik peleburan aluminium dan fasilitas pendukung lainnya di Kuala Tanjung.

Pekerjaan pemeliharaan jalur transmisi bukanlah pekerjaan yang mudah. Keberlangsungan suplai listrik untuk produksi aluminium satu-satunya di Indonesia ada di tangan mereka. Banyak tantangan yang tentunya harus dihadapi dengan berani karena yang dihadapi tidak hanya benda mati dengan tegangan listrik tinggi, tetapi juga masyarakat dengan kultur dan karakteristik sosial budaya yang berbeda-beda.

Salah satu sosok yang paling ditakuti oleh suatu korporasi yang bergerak di bidang usaha peleburan adalah blackout, baik disebabkan oleh masalah teknikal atau non-teknikal. Jika terputusnya aliran listrik disebabkan kendala di jalur transmisi, maka disinilah tim jalur transmisi mempertaruhkan nama dan reputasinya.

“Jaringan transmisi Inalum terbentang melintasi hutan, ladang, ngarai, perkebunan, sungai, persawahan, dan pemukiman masyarakat. Oleh karena itu, kita harus menata tanaman-tanaman keras yang tumbuh di lahan masyarakat yang berpotensi membahayakan jaringan transmisi,” terang Dany.

Proses penataan tanamam keras di sepanjang jalur transmisi dan pengamanan menara merupakan jalan terjal dan sisi lain bagi tim untuk diselesaikan secara bersama melalui berbagai komunikasi yang persuasif dan pendekatan budaya, humanis serta interpersonal skill yang mumpuni, walaupun itu harus dilakukan secara bertahap, dengan waktu yang panjang dan berulang-ulang.

“Karena bagaimanapun perusahaan hidup berdampingan dengan masyarakat sekitar,” demikian jelas Dany.

Kehidupan masyarakat yang heterogen dan multikulutural harus dapat disikapi dengan berbagai upaya dan usaha untuk tetap dapat menjalin komunikasi yang baik dengan seluruh stakeholders. Pendekatan dan sosialisasi dampak dan bahaya bagi masyarakat di bawah jaringan transmisi terus dilakukan agar dapat saling menjaga dan mempererat hubungan yang lebih baik, demikian ungkap Lambas Sianipar, Tim Humas Inalum.

“Merasa capek dan lelah, ya sering. Namanya juga tugas, yang tidak hanya berhubungan dengan teknikal tapi juga berhubungan dengan masyarakat dengan berbagai karakter. Karena memang tugas kita, bagaimanapun keadaannya harus kita ikuti. Dimana pun kita bekerja, harus memiliki sense of belonging, rasa kepemilikan yang tinggi serta memberikan kontribusi terbaik untuk perusahaan,” ujar Nijar semangat.

Beda ceritanya dengan pekerjaan mereka yang berkaitan dengan pemeliharaan dan pengamanan kondisi fisik jaringan transmisi. Saat ini, sistem patroli atau inspeksi menara walaupun sudah direncanakan akan menggunakan drone demi keselamatan petugas transmisi.

Namun memanjat tiang transmisi untuk memeriksa komponen-komponen transmisinya hingga ketinggian 68 meter pun masih mereka lakukan walau terkadang bayang-bayang risiko melintas di pikiran mereka guna memastikan jalur transmisi dalam kondisi prima.

Mereka bisa kapan saja jatuh dan tersengat listrik. Semua bahaya yang ada bisa terjadi kapan pun walaupun sudah memakai pelindung dan keamanan diri yang super lengkap. Meskipun begitu, tidak ada kata menyerah dalam kamus mereka. Apa pun pekerjaannya harus dijalani dengan penuh tanggung jawab. Bisa karena biasa. Begitu pun mereka, memanjat tiang transmisi sudah menjadi hal yang lumrah dan sangat menyenangkan.

“Waktu awal-awal ya pasti takutlah, grogi juga,” kata Nijar sambil tertawa.

“Karena sudah terbiasa, jadi ya biasa saja. Di atas itu enak loh, dingin. Ya walaupun bayangan kengerian itu tetap ada ya” sambung Dany.

Mereka juga melakukan patroli ke setiap menara transmisi sebanyak sekali dalam seminggu. Melakukan patroli menjadi sebuah kenangan tersendiri bagi mereka. Terlebih lagi saat patroli jaringan ke daerah menara nomor T.93 sampai dekat pabrik peleburan yaitu menara nomor T.271 yang terletak sejauh 120 kilometer dari menara pertama di Pintu Pohan, Kabupaten Toba.

Patroli ini juga mewajibkan mereka untuk meninggalkan kantor dalam jangka waktu tertentu dan melihat langsung kondisi menara dan kabel jaringan sembari bersilaturahmi dengan masyarakat.

Kendaraan khusus dengan berpenggerak roda ganda sangat dibutuhkan ketika perjalanan meninjau langsung seluruh jaringan transmisi, walau terkadang harus menginap di rumah penduduk dan meninggalkan keluarga demi sebuah asa untuk menjaga suplai listrik bagi keberlangsungan perusahaan.

(*)

Baca Juga

deras.co.id

Kasus Dugaan Pelanggaran Prokes Raffi Ahmad Akhirnya ‘Terhenti’

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus menegaskan, dari hasil gelar perkara kasus …