Thursday , October 28 2021
Beranda / Featured / OTT KPK Dengan Tersangka Bupati Kolaka Timur dan Kepala BPBD

OTT KPK Dengan Tersangka Bupati Kolaka Timur dan Kepala BPBD

DERAS.CO.ID –  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di kabupaten Kolaka Timur (Koltim) Sulawesi Tenggara pada selasa malam (21/9/2021) di rumah dinas Bupati Kolaka Timur.

Usai ditangkap dan diperiksa, KPK akhirnya menetapkan Bupati Kolaka Timur Andi Merya Nur dan kepala badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) Koltim Anzarullah sebagai tersangka kasus dugaan suap yang berasal dari dana hibah badan nasional penanggulangan bencana (BPBD).

“Setelah dilakukan pengumpulan berbagai bahan keterangan dugaan tindak pidana korupsi dimaksud, selanjutnya KPK melakukan penyelidikan yang kemudian ditemukan adanya bukti permulaan yang cukup maka KPK meningkatkan status perkara ini ke tahap penyidikan dengan menetapkan dua tersangka”, ujar wakil ketua KPK Nurul Ghufron dalam jumpa pers di gedung KPK kuningan Jakarta Selatan, Rabu (22/9/2021).

Ghufron membeberkan kasus ini bermula pada Maret hingga Agustus  2021 dimana Bupati Andi dan Anzarullah menyusun proposal dana hibah BNPB berupa dana rehabilitasi dan rekosntruksi (RR) serta dana siap pakai (DSP).

Setelah proposal tersebut jadi keduanya mendatangai kantor BNPB pusat di Jakarta pada awal september 2021. Mereka menyampaikan paparan terkait dengan pengajuan dana hibah logistik dan peralatan, dimana Pemkab Kolaka Timur memperoleh dana hibah BNPB yaitu hibah relokasi dan rekonstruksi senilai Rp 26,9 Miliar dan hibah dana siap pakai senilai Rp 12,1 Miliar.

“Tindak lanjut atas pemaparan tersebut, Anzarullah kemudian meminta Andi Merya Nur (Bupati) agar beberapa proyek pekerjaan fisik yang bersumber dari dana hibah BNPB tersebut nantinya dilaksanakan oleh orang-orang kepercayaan Anzarullah dan pihak-pihak lain yang membantu mengurus agar dana hibah tersebut cair ke Pemkab Kolaka Timur”, kata Ghufron.

Ghufron menyebut khusus untuk paket belanja jasa konsultasi perencanaan pekerjaan jembatan 2 unit di kecamatan Ueesi senilai Rp 714 juta dan belanja jasa konsultasi perencanaan pembangunan 100 unit rumah di kecamatan Uluiwoi senilai Rp 175 juta akan dikerjakan oleh Anzarullah, Bupati Andi menyetujui permintaan Anzarullah dan sepakat akan memberikan fee kepada Bupati Andi sebesar 30%

Selanjutnya Bupati Andi memerintahkan Anzarullah untuk berkoordinasi langsung dengan Kabag ULP Dewa Made Ratmawan agar memproses pekerjaan perencanaan lelang konsultan dan menguploadnya ke LPSE sehingga perusahaan milik Anzarullah dimenangkan serta ditunjuk menjadi konsultan perencana pekerjaan 2 proyek tersebut.

“Sebagai realisasi kesepakatan, Andi Merya Nur (Bupati) diduga meminta uang sebesar Rp 250 juta atas 2 proyek pekerjaan yang akan didapatkan Anzarullah tersebut”, kata Ghufron.

Menurut Ghufron, Anzarullah kemudian menyerahkan uang sebesar Rp 25 juta lebih dahulu kepada Bupati Andi dan sisanya sebesar Rp 225 juta sepakat akan diserahkan di rumah pribadi Bupati Andi, Namun saat hendak penyerahan mereka terjaring operasi tangkap tangan (OTT) tim penindakan.

Diketahui wakil ketua KPK Nurul Ghufron saat jumpa pers di gedung KPK Jakarta Rabu (22/9/2021), membeberkan kronologi OTT.

Nurul Ghufron bercerita OTT Bupati Kolaka Timur bermula dari informasi yang disampaikan oleh masyarakat tentang adanya dugaan penerimaan uang oleh penyelenggara negara yang diduga melibatkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Anzarullah.

Tim satuan tugas KPK lalu mengikuti Anzarullah yang telah menyiapkan uang sebesar Rp 225 juta. Dalam percakapan yang telah disadap tim satuan tugas KPK, Anzarullah melakukan komunikasi dengan ajudan Bupati Kolaka Timur. “Meminta waktu bertemu dengan Bupati Andi Merya Nur di rumah dinas Jabatan Bupati”, lanjut Ghufron.

Anzarullah kemudian bertemu langsung dengan Bupati Andi Merya Nur di rumah jabatan dengan membawa sejumlah uang sebesar Rp 225 juta, tetapi karena rumah jabatan Bupati sedang ramai Andi meminta Anzarullah menyerahkan uang melalui ajudannya.

“Andi Merya nur menyampaikan agar uang dimaksud diserahkan oleh Anzarullah melalui ajudan yang ada di rumah kediaman pribadi Andi Merya Nur di Kendari”, ucap Ghufron.

Ketika hendak pergi ke Kendari Anzarullah diamankan tim satgas KPK, turut diamankan ketika itu Bupati Andi Merya Nur dan KPK menyita uang Rp 225 juta yang dibawa Anzarullah.

Setelah diamankan Anzarullah dan Andi Merya Nur diperiksa di polda Sulawesi Tenggara. Setelah pemeriksaan KPK mengumumkan penetapan tersangka Bupati Andi Merya Nur sebagai penerima suap dan Anzarullah sebagai pemberi suap.

Selanjutnya Andi Merya Nur akan ditahan di rumah tahanan KPK gedung merah putih Jakarta sedangkan Anzarullah akan ditahan di rutan KPK Kavling C1, juga di Jakarta.

Sebagai pemberi suap Anzarullah disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau pasal 5 ayat (1) huruf b atau pasal 13 UU RI No 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU RI No 20 tahun 2021 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

Sementara Bupati Andi sebagai penerima disangkakan melanggar pasal 12 huruf (a) atau pasal 12 huruf (b) atau pasal 11 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

[Sumber : Liputan6, Suara]

Baca Juga

Menyambut Datangnya 12 Robiul Awal, Hari Lahirnya Manusia Paling Mulia Pemimpin Agung Nabi Muhammad SAW

DERAS.CO.ID – Sayidah Aminah berkata Ketika aku mengandung “Kekasihku” Muhammad SAW diawal masa kehamilanku yaitu …