Thursday , October 28 2021
Beranda / Featured / Sejarah Disyariatkannya Shalat Jumat bagi Umat Islam

Sejarah Disyariatkannya Shalat Jumat bagi Umat Islam

DERAS.CO.ID – Jakarta,  Shalat Jumat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat wajib jumat, Tidak ada toleransi bagi siapa pun yang meninggalkannya tanpa ada uzur ia mendapat ancaman dosa yang berat berdasarkan petunjuk hadits Nabi.

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ

”Sungguh harus berhenti orang-orang yang terbiasa meninggalkan sholat Jum’at, atau sungguh Allah benar-benar akan menutup hati-hati mereka, kemudian sungguh benar-benar mereka akan termasuk orang-orang yang lalai”. (HR. Muslim dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma)

Dilansir dari NU Online, Shalat Jumat pertama kali diwajibkan saat Rasulullah SAW masih berada di Mekkah, tepatnya pada waktu malam Isra’ Mi’raj. Meski demikian, kala itu shalat jumat masih belum bisa dilaksanakan. Degan alasan standar atau kuota jamaah yang merupakan salah satu syarat wajib Jumat belum terpenuhi. Di sisi lain, pada waktu itu dakwah Nabi SAW masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi sehingga belum memungkinkan untuk dilakukan.

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menegaskan bahwa beberapa hadits shahih menunjukkan shalat Jumat difardhukan di Madinah. Pendapatnya diarahkan bahwa kewajiban Jumat baru tercapai secara sempurna di Madinah karena telah terpenuhinya syarat-syarat kewajiban menjalankannya, tidak menutup kemungkinan sebelum di Madinah shalat Jumat sudah diwajibkan namun masih terdapat udzur-udzur yang menggugurkan kewajiban menjalankannya.

Hukum shalat Jumat adalah fardlu ‘ain bagi laki-laki apabila terpenuhi syarat-syarat wajibnya. Terdapat beberapa dalil yang menegaskan hal tersebut.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ الله وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila kamu diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu mengingat Allah. Tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”, (QS : Al-Jumu‘ah : 9).

Kata “ila dzikrillah, mengingat Allah” yang diperintahkan untuk dilakukan segera dalam ayat tersebut ditafsirkan sebagai shalat Jumat. Pendapat lain menafsirkannya dengan khutbah Jumat. Secara zhahir, perintah dalam ayat “Fas’au ila dzikrillah” mengarah pada arti wajib. Larangan jual-beli dalam ayat ini semakin mempertegas kewajiban Jumat. Sebab jual-beli pada dasarnya mubah. Hukumnya bisa haram apabila berdampak pada kelalaian kewajiban Jumat sesuai dengan kaidah.

Dalam hadits Rasulullah disebutkan:

رَوَاحُ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ

“Berangkat Jumat adalah kewajiban bagi setiap orang yang aqil baligh”, (HR An-Nasa’i dengan sanad sesuai standar syarat Imam Muslim).

Riwayat lain menyebutkan:

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ إلَّا أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ

“Jumat adalah kewajiban bagi setiap Muslim kecuali empat orang. Hamba sahaya yang dimiliki, wanita, anak kecil, dan orang sakit”, (HR Abu Daud dengan sanad sesuai standar syarat Bukhari dan Muslim).

Uraian ini disarikan dari Hasyiyah I’anatut Thalibin, Beirut, Dar Ibn ‘Asshashah, 2005 M, juz II, halaman 62.

Sumber : madaninews

Baca Juga

Menyambut Datangnya 12 Robiul Awal, Hari Lahirnya Manusia Paling Mulia Pemimpin Agung Nabi Muhammad SAW

DERAS.CO.ID – Sayidah Aminah berkata Ketika aku mengandung “Kekasihku” Muhammad SAW diawal masa kehamilanku yaitu …