Tuesday , July 16 2024
Beranda / Featured / Permukaan Laut Lebih Tinggi Ketimbang Daratan, Jakarta Tenggelam: Air Laut Naik atau Muka Tanah Turun?

Permukaan Laut Lebih Tinggi Ketimbang Daratan, Jakarta Tenggelam: Air Laut Naik atau Muka Tanah Turun?

DERAS.CO.ID – Jakarta terancam tenggelam. Ragam studi puluhan tahun dan bukti fisik penurunan penurunan permukaan tanah menjadi rujukan prediksi para peneliti. Sementara sejumlah pihak juga ada yang meyakini banjir rob di pesisir merupakan efek kenaikan muka air laut.

Berbagai saksi bisu prediksi Jakarta tenggelam sudah bisa dilihat. Misalnya, masjid Wal Adhuna, Muara Baru, Jakarta Utara, yang perlahan terendam air, atau kampung teko di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat.

Sejumlah pakar berdasarkan hasil pemantauan panjang memprediksi Jakarta tenggelam di masa depan sebagai efek penurunan muka tanah, penyedotan air tanah berlebih jadi sorotan.

Anggota tim riset Masyarakat Air Indonesia Fatchy Muhammad menilai kenaikan muka air laut yang merupakan dampak pemanasan global yang mencairkan es di kutub, menjadi pemicu banjir rob.

“Muka tanah turun atau air lautnya naik? Kalau muka tanah turun titik ikatnya dari mana, Laut? air laut kan beda-beda tingginya. Enggak tetap titik ikatnya. Jadi yang bener adalah muka air laut yang naik”, kata Fatchy saat ditemui di kediamannya, di Jakarta Selatan, Rabu (9/2/2022).

“Kita lihat air laut itu nyambung semua. Dulu di kutub semuanya nyatu, tapi karena esnya mencair, airnya naik, daratan berkurang”, kata dia.

Alumnus teknik geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengatakan penyedotan air tanah tak berdampak terhadap penurunan muka Jakarta.

“Kalau muka air laut naik, seakan-akan muka tanahnya bakal turun. Kalau muka tanah turun karena beban di atasnya oke. Kalau karena pengambilan air tanah itu bisa diisi lagi”, ucapnya.

Fatchy pun menyangkal klaim Presiden AS Joe Biden yang menyatakan Jakarta bisa tenggelam 10 tahun lagi.

“Pertanyaannya air laut berapa naiknya per tahun? Kalau 2 mili meter, untuk naik menjadi 1 meter perlu 50 tahun. Paling kota yang ketinggian 0 meter dari permukaan laut aja yang tenggelam. Ini Jakarta tenggelam 2035 terlalu wah meski Presiden AS yang ngomong”, cetusnya.

Saat berpidato di Pusat Kontra-Terorisme Nasional AS, Selasa (27/7/2021), Biden mengatakan akan ada jutaan orang yang harus pindah di berbagai kota bila permukaan air laut naik 2,5 kaki atau 7,6 cm. Ini termasuk Jakarta yang diproyeksikan bisa tenggelam 10 tahun lagi.

Terlepas dari itu, Fatchy juga meyakini ada potensi Jakarta bakal tenggelam. Ia pun mendorong perbaikan di seluruh dunia terutama terkait hal yang memicu pemanasan global.

“Jakarta Utara tenggelam, iya, kalau enggak ada perbaikan. Itu juga harus seluruh dunia”, ujar dia.

Penurunan Permukaan Tanah

Terpisah, pengajar Geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas mengakui banyak pro-kontra terkait penurunan muka tanah sebagai penyebab banjir rob, termasuk dari sesama peneliti. Ia pun mengajukan sejumlah bukti dan analisis.

Pertama, terkait polemik kenaikan air laut versus penurunan muka tanah. Heri menuturkan banjir rob besar yang melanda 20 titik di Jakarta pada 2007 sempat menjadi teka-teki lantaran tak ada hujan serta kenaikan muka air laut (sea level rise).

Para pakar pun mengukur ketinggian air laut dengan memakai satelit altimetri selama 20 tahun. Cara kerjanya, satelit menembakkan laser ke permukaan laut, yang kemudian dipantulkan kembali ke asalnya.

Memakai rumus fisika dasar untuk menghitung jarak, didapatkan angka kenaikan air laut hanya 6 mm-1 cm per tahun.

“Ternyata di permukaan jaraknya makin pendek. Ketika jaraknya makin pendek, berarti ada kenaikan muka air laut”, jelas Heri.

“Berarti 100 tahun baru tuh 1 meter. Itu berarti naik pelan. Tadi ada yang bilang, ini akibat dari global warming, sea level rise, itu terbantahkan. Tidak berkontribusi signifikan terhadap banjir rob di Jakarta”, urainya

Diskusi kemudian berlanjut kepada polemik kedua, penurunan muka tanah. Untuk membuktikannya, Heri dan tim memakai global positioning system (GPS) untuk mengukur ketinggian daratan terhadap permukaan laut di titik yang sama secara berulang.

Teknisnya berkebalikan dengan satelit altimetri; sinyal dari darat dipantulkan ke angkasa untuk kemudian kembali ke bumi. Maka didapat penambahan jarak tiap periode pengukurannya. Rata-rata penurunannya mencapai 10 cm per tahun.

“Saya sudah 20 tahun mengukur di Jakarta, di titik koordinat yang sama, ternyata tingginya berubah”, kata Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB tersebut.

“Ternyata penurunan [tanah]-nya ada yang sampai 10 cm per tahun, bahkan 20 cm per tahun. Dalam 10 tahun udah 1 meter. Kemudian kalau 100 tahun akan ada penurunan 10 meter. Inilah yang paling signifikan sebagai penyebab banjir rob. Karena kan tanah turun terus, lama-lama di bawah laut”, terangnya.

Polemik kemudian berlanjut ke hal kedua, yakni penyebab penurunan muka tanah. Heri berpandangan penurunan hal itu terjadi karena beberapa faktor, seperti beban dari bangunan, aktivitas tektonik, pengambilan air tanah yang berlebihan, hingga pemadatan tanah atau kompaksi secara alamiah.

Untuk meneliti faktor apa yang paling signifikan, Heri dan tim peneliti memakai data pengukuran dan pemodelan. Hasilnya, kompaksi alamiah berkontribusi 1-2 cm per tahun (10-20 persen terhadap penurunan muka tanah tahunan).

Senada, beban infrastruktur dan urukan, menurut data pemodelan, data empiris, dan pengambilan sampel batuan, berkontribusi 1-2 cm per tahun.

“Kita kurangkan 2 cm kompaksi alamiah, kita kurangkan 2 cm dari beban infrastruktur dan urukan, berarti 6 cm [disumbang oleh] eksploitasi air tanah”, ungkap Heri, yang ikut meneliti masalah penurunan tanah sejak mahasiswa pada 1998.

Apakah tak ada kontribusi efek tektonik terhadap penurunan tanah Jakarta? Heri kemudian mengkaji kaitan tektonik di berbagai titik di Indonesia dengan penurunan tanah. Hasilnya, itu berkontribusi 1 hingga 3 mm atau maksimal 3 persen dari penurunan tanah rata-rata.

“Setelah meneliti ketahuan bahkan ada muka tanah yang naik di wilayah Pelabuhan Ratu, wilayah Ujung Kulon. Ternyata sebagian pulau Jawa naik”, tukasnya.

Terlepas dari data-data itu, Heri meminta untuk mencontoh penanganan permukaan tanah di sejumlah negara maju lewat penyetopan penggunaan air tanah.

“Saya bawa peneliti asing ke Jakarta, ke Semarang, menurut kami ini apa? Karena kita masih ribut karena ini bukan masalah di air tanah. Kata mereka, come on don’t be stupid, it’s very abuse, exploitation ground on the water,” ucap dia, menirukan para peneliti asing itu.

(*)

Baca Juga

deras.co.id

SDN 106174 Salabulan, Sibolangit Hanya Punya 26 Siswa, 1 Murid di Kelas VI

DERAS.CO.ID – SIBOLANGIT | UPT SPF (Satuan Pendidikan Formal) SD Negeri 106174 Salabulan, Kecamatan Sibolangit, …