Tuesday , December 6 2022
Beranda / Featured / Cahaya di Wajah Ummat
cahaya ummat

Cahaya di Wajah Ummat

Oleh: Allahyarham K.H. Rahmat Abdullah

DERAS.CO.ID – Dalam satu kesatuan amal jama’i ada orang yang mendapatkan nilai tinggi karena ia betul-betul sesuai dengan tuntutan dan adab amal jama’i. Kejujuran, kesuburan, kejernihan, dan kehangatan ukhuwahnya betul-betul terasa.

Keberadaannya menggairahkan dan menenteramkan, namun perlu diingat walaupun telah bekerja dalam jaringan amal jama’i, namun pertanggungjawaban amal kita akan dilakukan di hadapan Allah swt secara sendiri-sendiri. Karenanya jangan ada kader yang mengandalkan kumpulan-kumpulan besar tanpa berusaha meningkatkan kualitas dirinya.

Ingat suatu pesan Rasulullah saw.

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

Man abtha-a bihi amaluhu lam yusri’ bihi nasabuhu

“Barangsiapa yang lamban amalnya, maka nasabnya tidak bisa mengejarnya (nasabnya tidak akan dipercepat oleh nasabnya)”, (HR. Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah).

Makna tarbiah itu sendiri adalah mengharuskan seseorang lebih berdaya, bukan terus menerus menempel dan tergantung pada orang lain. Meskipun kebersamaan itu merupakan sesuatu yang baik tapi ada saatnya kita tidak dapat bersama, demikian sunahnya. Sebab kalau mau, para sahabat Rasulullah saw. bisa saja menetap dan wafat di Madinah, atau terus menerus tinggal bermulazamah tinggal di masjidil Haram yang nilainya sekian ratus ribu atau di Masjid Nabawi yang pahalanya sekian ribu kali. Tapi mengapa makam para Sahabat tidak banyak berada di Baqi atau di Ma’la, tetapi makam mereka banyak bertebaran jauh beribu-ribu mil dari negeri mereka.

Sesungguhnya mereka mengutamakan adanya makna diri mereka sebagai perwujudan firman-Nya: Wal takum minkum ummatuy yad’una ilal khoir. Atau dalam firman-Nya: Kuntum khoiro ummati ukhrijat linnasi (Kamu adalah sebaik-baiknya ummat yang ditampilkan untuk ummat manusia. Surat Ali Imran: 110). Ummat yang terbaik bukan untuk disembunyikan tapi untuk ditampilkan kepada seluruh ummat manusia.

Inilah sesuatu yang sangat perlu kita jaga dan perhatikan. Kita semua beramal tapi tidak larut dalam kesendirian. Hendaklah ketika sendiri kita selalu mendapat cahaya dan menjadi cahaya yang menyinari lingkungan sekitarnya.

Jangan ada lagi kader yang mengatakan, saya jadi buruk begini karena lingkungan. Mengapa tidak berkata sebaliknya, karena lingkungan seperti itu, saya harus mempengaruhi lingkungan itu dengan pengaruh yang ada pada diri saya.

Seharusnya dimanapun dia berada ia harus berusaha membuat kawasan kebaikan, kawasan cahaya, kawasan ilmu, kawasan akhlak, kawasan taqwa, kawasan al-haq, setelah kawasan-kawasan tadi menjadi sempit dan gelap oleh kawasan-kawasan jahiliyah, kezaliman, kebodohan dan hawa nafsu.

Demikianlah ciri kader dakwah dimanapun dia berada terus menerus memberi makna kehidupan. Seperti sejarah da’wah ini, tumbuh dari seorang, dua orang kemudian menjadi beribu-ribu atau  berjuta-juta orang. Sangat indah ungkapan seorang ulama dakwah, “Antum ruhun jadidah tarsi fi jasadil ummah”. Kamu adalah ruh baru, kamu adalah jiwa baru yang mengalir di tubuh ummat, yang menghidupkan tubuh yang mati itu dengan Al-Qur’an.

Jangan ada sesudah ini, kader yang hanya mengandalkan kerumunan besar untuk merasakan eksistensi dirinya. Tapi, dimanapun dia berada ia tetap merasakan sebagai hamba Allah swt., ia harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya dan taqwanya kepada Allah swt, baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keadaan terlihat orang.

Kemanapun pergi, ia tak merasa kesunyian, tersudut atau terasing, karena Allah swt. senantiasa bersamanya. Bahkan ia dapatkan kebersamaan rasul-Nya, ummat dan alam semesta senantiasa.

Kehebatan Namrud bagi Nabi Ibrahim a.s. tidak ada artinya, tidaklah sendirian. Allah swt. bersamanya dan alam semesta selalu bersamanya.

Api yang berkobar-kobar yang dinyalakan Namrud untuk membinasakan dirinya, ternyata satu korps dengannya dalam menunaikan tugas pengabdian kepada Allah swt. Alih-alih dari menghanguskannya, justeru malah menjadi “bardan wa salaman” (penyejuk dan penyelamat). Karena itu, kader sejati yakin bahwa Allah swt.
akan senantiasa membuka jalan bagi pejuang dakwah sesuai dengan janji-Nya, In tansurullah yansurukum wayu sabit akdamakum (Jika kamu menolong agama Allah, Ia pasti akan menolongmu dan mengokohkan langkah kamu).

Semoga para kader dakwah senantiasa mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari Allah swt. ditengah derasnya arus dan badai perusakan ummat.

Kita harus yakin sepenuhnya akan pertolongan Allah swt. dan bukan yakin dan percaya pada diri sendiri. Masukkan diri kedalam benteng-benteng kekuatan tarbiyah atau halaqah tempat junud dakwah melingkar dalam suatu benteng perlindungan, menghimpun bekal dan amunisi untuk terjun ke arena pertarungan Haq dan bathil yang berat dan menuntut pengorbanan. Disanalah kita mentarbiyah diri sendiri dan generasi mendatang.

Inilah sebagian pelipur kesedihan ummat yang berkepanjangan, dengan munculnya generasi baru. Generasi yang siap memikul beban da’wah dan menegakan Islam. Inilah harapan baru bagi masa depan yang lebih gemilang, dibawah naungan Alquran dan cahaya Islam rahmatan lil alamin.

*

Baca Juga

deras.co.id

Gunung Semeru Masih Luncurkan Awan Panas, Pengungsi Mulai Sesak Napas

DERAS.CO.ID – Kondisi Semeru usai erupsi masih meluncurkan guguran awan panas sejauh 1.000 meter dari …