Tuesday , December 6 2022
Beranda / Featured / Gempa Cianjur, 162 Warga Meninggal
deras.co.id
KORBAN GEMPA: Sejumlah tenaga medis merawat korban yang terluka saat gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 di RSUD Sayang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11). Berdasarkan data jumlah korban meninggal bertambah menjadi 162 orang. 

Gempa Cianjur, 162 Warga Meninggal

DERAS.CO.ID – Bandung – Sebanyak 162 orang meninggal dunia akibat gempa yang terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11).

Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan anak-anak.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, menyebutkan ada 326 warga luka-luka dan 13.784 orang mengungsi. Lokasi pengungsian tersebar 14 titik.

“Tercatat di call center BPBD ada 162 yang meninggal dunia. Mayoritas yang meninggal dunia adalah anak-anak, kita sangat prihatin,” ucap Emil, sapaan akrabnya, di Pendopo Bupati Cianjur, Senin malam pukul 21.30 WIB.

Emil menyebut, banyak korban anak karena saat kejadian banyak siswa sekolah yang sedang belajar di madrasah atau pesantren.

Emil belum mendapat data pasti berapa jumlah anak yang menjadi korban gempa bermagnitudo 5,6 itu.

“Nah, per malam ini kita masih mengklasifikasi persentasenya, tapi laporan di lapangan selalu menyebutkan secara kualitatif mayoritas anak-anak,” tuturnya.

Sementara rumah rusak dengan skala 60-100 persen berjumlah 2.345 unit.

Selain itu ada 2-3 lokasi jalan yang terisolasi. Sementara jalan nasional dilaporkan sudah kembali normal.

Namun, pihaknya belum mendapat laporan lebih lanjut terkait lima mobil yang terperangkap. Dilaporkan juga dua gardu listrik padam dan hanya satu yang berfungsi.

WAS-WAS

Salah satu warga yang terdampak gempa di Kelurahan Bojongherang mengaku masih kaget sekaligus was-was akan potensi gempa susulan.

Eneng Rosidah (58), sedang menelepon keluarganya ketika gempa berkekuatan 5,6 itu mengguncang.

“Lagi ngobrol gitu, ‘masya Allah ini apa?’ Kaget ada yang jatuh dari dinding. Di belakang perabotan pada jatuh, astaghfirullah. Terus [berlindung] di bawah meja, takut ada yang jatuh dari atas. Mau lari keluar, takut keburu jatuh di pikiran saya. Gemetaran sampai dua jam, soalnya saya sudah tua, sudah lemah,” jelas Eneng.

Di Bojongherang, Eneng mengatakan tidak ada korban jiwa. Namun sejumlah rumah warga rusak ringan hingga rusak berat akibat guncangan gempa. Rumah Eneng adalah salah satu yang rusak ringan.

Tidak lama setelah gempa, listrik pun mati hingga malam hari. Setelahnya aliran air juga ikut mati.

Warga kini harus melewati malam pertama pasca-gempa dengan kondisi gelap gulita.

Selain itu, Eneng mengatakan banyak warga memilih untuk tidur di luar rumah karena was-was akan gempa susulan.

“Orang-orang pada di depan rumah, di halaman rumah, sudah pada ngungsi di depan, takut ada susulan, makanya.. yah orang-orang ketakutan,” kata Eneng.

Hingga Senin malam sekitar pukul 19.00 WIB, BMKG mencatat telah terjadi 62 kali gempa susulan, meski instensitas gempa susulan semakin kecil.

Wartawan juga telah menghubungi salah satu warga di Desa Cugenang, salah satu desa yang paling terdampak parah oleh gempa.

Namun dia mengatakan belum bisa berbicara karena “situasinya masih sangat darurat”.

Sejumlah tenaga medis merawat korban yang terluka di RSUD Kabupaten Cianjur.

Sebelumnya, Ridwan Kamil mengatakan, masih banyak warga terperangkap di tempat-tempat kejadian, kita asumsikan yang meninggal dan luka-luka pun akan bertambah seiring waktu,” kata Ridwan dalam kunjungannya ke Cianjur.

Ridwan menggambarkan situasi di lapangan “masih chaos” dan warga di tempat kejadian “masih dilanda ketakutan” sehingga penanganan darurat banyak dilakukan di luar ruangan.

“Dijahit kepalanya, dijahit kakinya dilakukan di lapangan. Tindakan menormalisasi, ada yang stres, menangis, ada yang kepalanya baru dijahit dan sebagainya,” jelas Ridwan.

Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa korban gempa terus berdatangan ke RSUD Cianjur. Instalasi Gawat Darurat (IGD) disebut kewalahan menampung pasien.

Para pasien digambarkan terpaksa menjalani perawatan di halaman rumah sakit.

“Rata-rata korban mengalami luka di bagian kepala hingga tangan. Tidak sedikit korban merupakan anak-anak,” tulis laporan itu .

Aliran listrik dan akses telekomunikasi di sejumlah lokasi terdampak juga sempat padam, meski di lokasi penanganan medis sudah mulai menyala.

Sejumlah ruas jalan, salah satunya jalur akses antara Kota Cianjur dengan Puncak pun tertutup longsor dan pohon tumbang.

Ridwan Kamil pun mengatakan telah meminta TNI-Polri memberikan data terkait dampak gempa di banyak daerah di Cianjur “yang terpencil”.

Juru bicara Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Endra Atmawidjaja mengatakan sedang memobilisasi personel dan alat berat ke lokasi untuk membersihkan akses jalan.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan korban meninggal banyak dilaporkan di tiga kecamatan, yakni Cilaku, Cianjur, dan Cugenang.

Sejumlah bangunan juga rusak, mulai dari rumah, pondok pesantren, gedung pemerintahan, sekolah, hingga RSUD Cianjur.

BNPB menyatakan akan segera mengaktifkan posko penanganan bencana dan membawa logistik untuk para pengungsi.

“Kalau kita lihat kerusakannya cukup masif, berdasarkan pengalaman gempa sebelumnya, dapat kami perkirakan masyarakat yang harus mengungsi cukup banyak sehingga kami akan siapkan logistik seperlunya, tenda-tenda, dan untuk aktifkan posko kami akan dorong anggaran dana siap pakai,” jelas Suharyanto.

Gempa bumi 5,6 itu terjadi pada pukul 13.21 WIB.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan pusat gempa berlokasi di Sukalarang, Sukabumi, Jawa Barat pada kedalaman 11 kilometer.

Menurut BMKG, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar Cimandiri.

Karakter gempa dangkal inilah yang menurut BMKG membuat dampaknya begitu merusak.

Getaran gempa terasa di wilayah Cianjur, Garut, Sukabumi, Bandung, hingga Jakarta.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati juga mengingatkan bahaya ikutan berupa longsor akibat guncangan gempa di tengah musim hujan.

“Kami mohon waspadai juga apabila sedang hujan, mohon tidak berada di dekat lereng atau menghindari dari bantaran sungai yang dikhawatirkan berpotensi mengalami banjir bandang,” kata Dwikorita.

Berhamburan

Gempa tersebut juga mengguncang Jakarta. Sejumlah anggota dewan di gedung DPR berhamburan keluar.

Pantauan pukul 13.23 WIB, seluruh anggota dewan, karyawan, hingga petugas keamanan di dalam gedung DPR berhamburan keluar. Mereka panik dan riuh berlarian ke luar gedung.

Rapat di DPR yang tengah berlangsung pun berhenti sementara. Salah satunya rapat di Komisi II DPR. Suasana rapat mendadak riuh pada beberapa saat. Namun anggota dewan dan peserta rapat terlihat tetap berada ruangan sebelum kembali melanjutkan rapat.

Sedangkan di rapat komisi lain, sejumlah anggota DPR tampak keluar gedung. Begitu pun dengan mitra rapatnya.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, yang tengah mengikuti rapat di DPR RI, meminta anggota dewan keluar dari gedung.

Laporan BMKG menyebutkan gempa. Dwikorita merasakan guncangan saat rapat di Komisi V.

“Pusatnya di Cianjur.” Jadi kami khawatir sebaiknya keluar dulu, khawatir, 30 menitan (keluar gedung dulu), kemungkinan masih ada gerakan,” ujar Dwikorita.

Panik

Penghuni gedung-gedung tinggi di Jakarta Selatan panik saat gempa terasa kuat.

Pantauan di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, para penghuni gedung tinggi panik saat gempa terjadi. Seorang karyawan bernama Kanya merasakan kuat guncangan gempa. Kanya dan beberapa karyawan berdiri dari kursinya ketika gempa terjadi.

Beberapa penghuni gedung tinggi lain di kawasan Tendean keluar dari gedung. Mereka berkumpul di halaman luas kawasan perkantoran tersebut.

Kerahkan Ratusan Personel

Sementara itu, Polri telah mengirim pasukan Brimob ke sejumlah lokasi terdampak gempa . Salah satunya lokasi di Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur.

Berdasarkan video yang dikirimkan Divisi Humas Polri, Senin sore, tampak pasukan Brimob tengah mengevakuasi korban tanah longsor. Mereka membawa kantong-kantong mayat.

Pada kesempatan yang sama, Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo menyampaikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melalui Asisten Operasi (Asops) Irjen Agung Setya Imam Effendi mengeluarkan sejumlah arahan untuk membantu penanganan bencana imbas gempa Cianjur.

“Jadi sesuai dengan perintah Bapak Kapolri lewat Asops, telah diperintahkan untuk pengerahan helikopter serta awaknya dari Direktorat Polisi Air dan Udara untuk melakukan rescue dan pencarian korban via udara,” kata Dedi.

KORBAN GEMPA: Sejumlah tenaga medis merawat korban yang terluka saat gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 di RSUD Sayang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11). Berdasarkan data jumlah korban meninggal bertambah menjadi 162 orang.

 

“Lalu kami juga mengerahkan personel Samapta, personel Biro Psikologi SSDM untuk trauma healing korban, tim medis dari Pusdokkes Polri. Bahwa kegiatan SAR (search and rescue) harus cepat,” imbuh Dedi.

Dedi menuturkan saat ini sedikitnya ada 170 personel Brimob yang dikerahkan dari Resimen II Pasukan Pelopor pascagempa terjadi.

“Pasukan ke lokasi-lokasi bencana, kemudian pengungsian dengan membawa peralatan untuk mendirikan dapur umum, tangki air bersih, toilet portabel, truk, mobil double cabin, ambulans, tenda pleton, dan ratusan velbed,” papar Dedi.

 

Sumber: hariansib.com

Baca Juga

deras.co.id

Gunung Semeru Masih Luncurkan Awan Panas, Pengungsi Mulai Sesak Napas

DERAS.CO.ID – Kondisi Semeru usai erupsi masih meluncurkan guguran awan panas sejauh 1.000 meter dari …