Saturday , April 18 2026
Beranda / Berita / Arisyi Fariza Raz Menjadi Pembicara ISI Regional Statistics Conference 2017
deras.co.id
H. Arisyi Fariza Raz, M.Sc., Saat Menjadi Pembicara ISI Regional Statisttic Conference 2017

Arisyi Fariza Raz Menjadi Pembicara ISI Regional Statistics Conference 2017

Arisyi Fariza Raz  selaku Macroprudential   Policy Departement Bank Indonesia  menjadi pembicara dalam kegiatan International  Statistical Institute Regional Statistic Conference  2017 pada tanggal 22-24 Maret 2017 di Nusa Dua Bali, Indonesia.

Bertemakan ‘Enchancing Statistics Prospering Human Life’, dengan judul paper “The use of Financial Stress Index in measuring Indonesia’s Financial System Stability”, Arisyi mempresentasikan bersama para komunitas statistik terkemuka dari Asia Tenggara dan seluruh dunia untuk mempresentasikan, mendiskusikan, mempromosikan, dan menyebarkan penelitian dalam bidang statistik dan aplikasinya terhadap peningkatan statistik untuk kemakmuran hidup manusia.

Menurut Arisyi , “Saya memperkirakan Financial Stress Index (FSI)  yang terdiri dari pasar saham, pasar obligasi, dan pasar pertukaran mata uang sebagai komponen utamanya. Penelitian ini juga melakukan analisis untuk memeriksa  ketahanan indeks yang diperkirakan. Pada akhirnya penelitian  ini menggunakan model ambang batas regresi dan Markov Switching Autoregressive untuk menentukan periode tekanan dan periode normal. Hasil dari penelitian ini menyarankan bahwa FSI  dapat digunakan sebagai indikator pelengkap untuk mengukur stabilitas keuangan”.

Menurut Arisyi , “Saya [menghitung] Financial Stress Index (FSI) yang terdiri dari [komponen] pasar saham, pasar obligasi, dan pasar pertukaran mata uang sebagai komponen utamanya. Penelitian ini juga melakukan analisis untuk memeriksa ketahanan indeks yang diperkirakan. Pada akhirnya penelitian ini menggunakan model [threshold regression] dan Markov Switching Autoregressive untuk menentukan periode tekanan dan periode normal. Hasil dari penelitian ini menyarankan bahwa FSI dapat digunakan sebagai indikator pelengkap untuk mengukur stabilitas keuangan”.

“Hasil kerja ini mempunyai beberapa dampak pada analisis macroprudential di Indonesia. Pertama, mengusulkan pendekatan teknis yang mengandalkan data frekuensi tinggi dalam menentukan krisis keuangan. Kedua, penggunaan data frekuensi tinggi menyarankan bahwa petunjuk  ini bisa di perbaharui dengan segera untuk meraih perkembangan terbaru dalam sistem keuangan, dengan demikian dapat bertindak sebagai contoh peringatan dini untuk melengkapi petunjuk yang telah ada. Akhirnya indikator ini dapat juga dimanfaatkan sebagai suatu indikator untuk menghitung keefektifan dari kebijakan macroprudential”. Tambah Putra kedua Buya Sofyan Raz ini.

“Sesungguhnya, perkembangan lebih lanjut sangat penting  terutama meraih (berhadapan) dengan dinamika di sistem perbankan dengan mempertimbangkan hal ini menyumbang untuk 70-80 aset dari seluruh sistem keuangan. Oleh karena itu penelitian selanjutnya harus fokus pada aspek pembangunan” Akhiri Arisyi yang beberapa tahun lalu juga mempresentasekan hasil risetnya pada saat konferensi Internasional “28th Australiasian Finance and Banking Conference” 2015 di Australia.

Sugeng, Deputi Gubernur Bank Indonesia, menjelaskan tujuan ISI RSC 2017 adalah mempromosikan kegiatan statistik di dalam dan luar negeri. Kemudian memperoleh update isu-isu statistik internasional baik metodologi maupun hot issues. Menjadi sarana menjalin hubungan dengan kegiatan statistik internasional.

“Pengayaan keilmuan dan metodologi statistik dari pakar dan praktisi statistik internasional. Serta memperluas networking untuk bertukar ilmu terkait statistik dan perkembangan terakhir,” jelasnya di The Westin, Nusa Dua, Rabu (22/3/2017).ISI, kata dia adalah organisasi internasional nirlaba berpusat di Belanda yang didirikan pada 1885. Memiliki hubungan dengan United Nations dan fokus pada pembahasan isu statistik. ISI beranggotakan hampir seluruh badan pusat statistik negara di dunia, termasuk BPS sebagai wakil Indonesia. ISI juga memiliki anggota individual dan korporasi, termasuk bank sentral, seperti bank sentral Belgia, Swiss, Jerman , Italia, Jepang, dan Malaysia.

Ajang kali ini pertama kali diadakan di Indonesia dan Bali, sebab selama ini dilangsungkan di luar Asia. Jumlah peserta sekitar 450, terdiri dari peserta asing 60 persen yang datang dari 52 negara di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Peserta terbanyak berasal dari Malaysia, India, dan Thailand.

Baca Juga

deras.co.id

Payabakung United Juara Liga 4 Sumut, Wagub Surya Serahkan Trofi Piala Gubernur

DERAS.CO.ID – DELISERDANG – Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Utara (Sumut) Surya menyerahkan trofi juara Liga …