“Dirut kok buka sekolah TK?” Omongan itu terlontar dari sejumlah pihak yang mencibir Drs. H. Sofyan Raz Ak, M.M., yang ketika itu masih menjabat sebagai Direktur PTP Nusantara II, lalu membuka lembaga pendidikan dalam naungan Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah (YPSA) di jalan Setia Budi no 191 Medan.
Tapi akhirnya cibiran itu hanyalah angin lalu. YPSA yang dibangun Sofyan mulai dari nol sejak 1997 lalu, kini menjadi sekolah favorit di Kota Medan dan salah satu Sekolah Islam terkemuka di Asia Tenggara.
Bahkan sekolah ini mendapat predikat Akreditasi A (Amat Baik) dari Kementerian Pendidikan Nasional dan terakreditasi Cambridge International Centre (CIC) oleh University of Cambridge International Examinations (CIE) London, Inggris.
“Saya pun tidak menyangka, aneh juga ya seorang dirut buka sekolah TK, hahaha.. Tapi untung saja omongan seperti itu baru saya ketahui sekarang setelah 17 tahun berlalu,” ungkap Sofyan Raz di ruang kerja pribadinya di lantai V Gedung Internasional YPSA, belum lama ini.
Pria kelahiran Medan, 13 Maret 1942 ini mengatakan kalau omongan itu diketahuinya dari sahabat lamanya, H. Ronny Simon saat berkunjung ke YPSA, pada 16 Desember 2014. Wartawan senior itu membeberkan kepadanya bahwa banyak yang mencibir saat Sofyan Raz membangun YPSA.
“Tapi pada waktu itu saya tidak ada berpikiran macam-macam, saya hanya ingin membahagiakan istri yang sangat getol dengan pendidikan Islam,” jelas pria berkacamata ini.
Sebagai sosok yang mumpuni di bidang akuntan memang agak tak nyambung bila mendadak terjun ke dunia pendidikan. Tapi bagi Sofyan Raz, garis tanganlah yang membuatnya tiba-tiba kepincut sama dunia belajar mengajar. Ini karena selaras dengan filosofinya, selain bisa memberi pengetahuan agama kepada keempat anaknya, hidupnya juga ingin dapat berguna bagi orang lain.
“Banyak memang yang bertanya, kenapa kok “lari” ke dunia pendidikan. Jujur, saya dan istri saya pun tidak bisa menjawabnya, tapi inilah sudah jalannya,” katanya.
Sebagai founder YPSA, sekolah ini terinspirasi saat Sofyan Raz bertugas sebagai Direktur Komersil & Umum PTP XXVI di Jember, Jawa Timur (Jatim) periode 1989 sampai 1994. Bersamaan dengan itu, istrinya Rahmawaty memang memilih mendidik anak-anaknya yang saat itu masih kecil-kecil untuk mengenyam pendidikan di sekolah Islam berkualitas.
“Jadi istri saya sangat antusias dan mempelajari sekolah-sekolah yang ada di Jember hingga bercita-cita apabila pensiun dan balik ke Medan kelak ingin punya sekolah Islam sendiri. Ya Alhamdulillah, Allah memberikan jalan. Saya pindah ke Medan bersamaan dengan diangkat menjadi Dirut PTPN II hingga membuka jalan hadirnya YPSA di Medan,” beber Magister Manajemen USU Medan Jurusan Agribisnis tahun 1999 ini.
Akhirnya, YPSA pun berdiri di atas lahan seluas 3,5 hektare. Bahkan sekolah ini sudah memiliki kelas internasional. Siswanya pun saat ini sudah menembus angka 1.400 orang terdiri dari kelas Playgroup, TK, SD, Primary, SMP, Lower Secondary, SMA dan Upper Secondary.
Banyak orang yang tidak menyangka. Malah seorang koleganya, Rektor Unimed mengaku tidak sanggup membangun sekolah seperti YPSA, apalagi bisa sampai tumbuh berkembang seperti saat ini.
“Yah semuanya ini saya diperoleh atas Ridho Allah Swt,” ucapnya.
DERAS.CO.ID Anda Berhak Tahu!