Usaha kuliner kaki lima seharusnya mendapat perhatian dari pemerintah. Hal ini disampaikan oleh pendiri World Food Travel Association, Erik Wolf.
“Komponen wisata kuliner bukan megah atau eksklusif. Bukan hanya restoran, gourmet, bintang lima, kelembagaan jasa boga, dan perusahaan besar. Pikirkan street food,” ujar Wolf. Dalam seminar bertajuk “Menggali Ragam dan Bisnis Wisata Kuliner” di Jakarta, Senin (29/9/2014).
Wolf menyatakan bahwa tidak semua wisatawan asing yang datang ke Indonesia ingin menyantap masakan mewah di restoran bintang lima. Sebagian besar dari mereka, menurut Wolf adalah wisatawan berpendidikan, paruh baya atau lebih muda, dan tidak terlalu kaya. “Jadi, wisatawan kuliner akan berbelanja makanan di pinggir jalan,” ujar Wolf.
Wolf mengapresiasi langkah pemerintah, khususnya Kemenparekraf, yang sudah berusaha merangkul para pengusaha bermodal kecil (UKM) di bidang kuliner. Namun, dia juga mengungkapkan bahwa baik pemerintah maupun pelaku bisnis perlu strategi yang tepat.
“Strategi seperti road map. Saya merekomendasi pemerintah Indonesia membuat strategi, membuat timeframe, dan target untuk itu,” pungkasnya.
Selain itu, dalam kesempatan serupa, panelis Ade Putri Paramaditha juga mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor yang membuat usaha kuliner kaki lima kurang berkembang. Ade adalah penggemar wisata kuliner, manager grup musik metal, dan seorang Foodtective.
“Promosinya. Pedagang kaki kima sebenarnya bisa memasak sesuatu yang enak, tapi tidak tahu bagaimana memasarkannya. Mungkin kalau secara umum lainnya penggunaan bahan. Banyak pedagang yang masih tergantung pada penggunaan MSG,” ujar Ade.
Karena itu, jika pemerintah hadir dan memberikan perhatian yang cukup, para pedagang ini akan memiliki kapasitas dan standar yang lebih baik.
Sumber: kompas.com
DERAS.CO.ID Anda Berhak Tahu!