DERAS.CO.ID – Jakarta – Situasi mencekam menyelimuti Ekuador. Jumlah sipir dan staf penjara yang disandera para gangster terus bertambah.
Para pejabat Ekuador mengatakan pada Kamis (11/1) waktu setempat bahwa geng-geng kriminal saat ini menyandera 178 penjaga dan staf penjara. Ini terjadi seiring ketegangan antara pasukan keamanan dan kejahatan terorganisir mencapai puncaknya.
Dilansir kantor berita AFP, Jumat (12/1), otoritas penjara SNAI mengatakan, jumlah tersebut meningkat 39 orang dibandingkan hari sebelumnya. SNAI melaporkan terjadinya kerusuhan di beberapa lembaga pemasyarakatan, dengan para narapidana menembaki para personel angkatan bersenjata Ekuador.
Negara kecil di Amerika Selatan ini telah terjerumus ke dalam krisis setelah bertahun-tahun meningkatnya kontrol oleh kartel-kartel transnasional yang menggunakan pelabuhan-pelabuhan di Ekuador untuk mengirimkan kokain ke Amerika Serikat dan Eropa.
Meluasnya ledakan kekerasan geng minggu ini dipicu oleh temuan pada hari Minggu lalu, bahwa salah satu bos narkoba paling berkuasa di negara itu, Jose Adolfo Macias, yang dikenal dengan nama samaran “Fito”, telah melarikan diri dari penjara.
Pada Senin, Presiden Daniel Noboa memberlakukan keadaan darurat dan jam malam. Namun, geng-geng kriminal membalas dengan deklarasi “perang” — menculik polisi, melancarkan ledakan, dan mengancam akan mengeksekusi warga sipil secara acak di jalanan.
Setidaknya 16 orang telah tewas sejauh ini dalam kekerasan tersebut.
Bangun Penjara
Daniel Noboa juga memaparkan rencana pembangunan dua penjara dengan keamanan tinggi. Ini merupakan bagian dari janjinya untuk melancarkan perang terhadap geng narkoba. Dilansir dari Reuters, Jumat (12/1), saat ini keluarga 180 staf penjara yang masih disandera oleh para narapidana menuntut adanya tindakan untuk menyelamatkan mereka.
Lonjakan kekerasan yang dramatis minggu ini, termasuk penyerbuan stasiun TV yang sedang mengudara, ledakan yang tidak dapat dijelaskan di beberapa kota, dan penculikan petugas polisi, merupakan respons geng terhadap rencana Noboa.
Noboa bertekad mengatasi situasi keamanan yang mengerikan di negara itu, termasuk dengan mendirikan penjara-penjara baru. Sejak Senin (9/1), 158 sipir penjara dan 20 staf administrasi telah disandera di setidaknya tujuh penjara. Namun hanya ada sedikit informasi yang dikeluarkan oleh pihak berwenang mengenai status para sandera.
Video yang diklaim menunjukkan staf penjara mengalami kekerasan ekstrem, termasuk penembakan dan penggantungan, telah beredar di media sosial, meskipun panglima angkatan bersenjata Laksamana Muda Jaime Vela mengatakan bahwa tidak ada sandera yang terbunuh.
Kunjungi Ekuador
Sementara itu, seorang pejabat tinggi militer Amerika Serikat (AS) dan beberapa pejabat senior Washington akan berkunjung ke Ekuador. Kunjungan ini dilakukan di tengah kekacauan di Ekuador akibat teror geng-geng kriminal.
Seperti dilansir AFP, Jumat (12/1), para pejabat AS itu akan memberikan dukungan terhadap perjuangan Presiden Daniel Noboa dalam melawan geng-geng kriminal yang memicu kekacauan di negara Amerika Selatan tersebut.
Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataannya mengumumkan bahwa Jenderal Laura Richardson yang merupakan kepala Komando Selatan AS bersama sejumlah pejabat sipil AS akan datang berkunjung ke Ekuador dalam beberapa pekan ke depan.
“Untuk menjajaki, dengan rekan-rekan Ekuador, cara-cara kita bisa bekerja bersama secara lebih efektif dalam menghadapi ancaman yang ditimbulkan oleh organisasi kriminal transnasional,” sebut Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataannya.
Lebih lanjut, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller menyatakan AS akan memperluas kerja sama berbagi intelijen, termasuk dalam aktivitas dunia maya, dan mencari cara untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku kriminal.
Miller menambahkan bahwa para pejabat AS itu juga akan membahas soal reformasi penjara di Ekuador, yang dilanda pengepungan berulang kali ketika para narapidana yang tergabung kelompok kejahatan terorganisir mengambil alih kendali.
TIDAK ADA KORBAN
Dilaporkan terpisah, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban teror tersebut.
“Berdasarkan komunikasi dengan komunitas WNI, hingga saat ini tidak ada WNI yang menjadi korban,” kata Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu Judha Nugraha dilansir Antara, Jumat (12/1).
Dalam catatan KBRI Quito, total WNI yang berada di Ekuador saat ini sebanyak 48 orang. Mereka adalah WNI yang berprofesi sebagai paderi atau misionaris, yang tersebar di wilayah terpencil di luar wilayah Guayaquil.
Sementara itu, sebagian lainnya adalah staf dan keluarga KBRI yang bermukim di Ibu Kota Quito.
“Secara khusus, KBRI juga telah memonitor kondisi WNI di Guayaquil. Tercatat satu WNI perempuan tercatat menetap di wilayah tersebut, tetapi saat ini yang bersangkutan terpantau tengah berada di luar wilayah wilayah Ekuador,” tutur Judha.
Judha menegaskan KBRI terus menjalin komunikasi dengan para WNI. KBRI juga menyiapkan rencana kontingensi untuk antisipasi jika terjadi eskalasi yang memburuk.
Sumber: hariansib.com
DERAS.CO.ID Anda Berhak Tahu!