DERAS.CO.ID – Jakarta – Laut Merah semakin kacau setelah Amerika Serikat (AS) dan Inggris kembali melancarkan serangan baru di Yaman, Selasa (23/1) dini hari. Dilaporkan sejumlah wilayah dibombardir, termasuk ibu kota Sanaa.
Serangan berlangsung pasca Houthi, penguasa Yaman saat ini, mengumumkan telah menembak kapal kargo militer AS di Laut Merah dengan rudal. Meski sebelumnya membantah, AS mengonfirmasi serangan baru kelompok beberapa jam kemudian ke kapal bendera Kepulauan Marshall yang dimiliki Paman Sam.
“Serangan terbaru AS-Inggris ditujukan terhadap delapan sasaran Houthi di Yaman sebagai respons terhadap serangan berkelanjutan Houthi terhadap pelayaran internasional dan komersial serta kapal angkatan laut yang transit di Laut Merah,” kata Washington dan London dalam pernyataan bersama dengan negara-negara lain yang mendukung aksi militer tersebut, dikutip AFP.
“Secara khusus menargetkan lokasi penyimpanan bawah tanah Houthi dan lokasi yang terkait dengan kemampuan pengawasan udara dan rudal Houthi,” tambah keterangan itu lagi.
Seorang pejabat militer senior AS, yang enggan disebut namanya, menyebut ada sekitar 25-30 amunisi yang ditembakkan dalam serangan terbaru itu. Beberapa serangan diluncurkan dari sejumlah pesawat tempur yang lepas landas dari kapal induk AS.
Sejauh ini, sudah ada delapan kali serangan dalam sebulan terakhir yang dilancarkan AS dan Inggris terhadap Houthi, namun serangan itu gagal menghentikan aksi kelompok itu menyerang kapal-kapal di Laut Merah.
Para pejabat AS mengatakan bahwa serangan-serangan itu telah menurunkan kemampuan Houthi untuk melancarkan serangan yang kompleks. Namun mereka menolak untuk memberikan angka spesifik soal jumlah rudal, radar, drone, atau kemampuan militer Houthi lainnya yang telah dihancurkan sejauh ini.
“Kami mendapatkan efek yang diharapkan,” sebut seorang pejabat militer AS itu saat berbicara kepada para wartawan Pentagon.
Dalam pernyataan terpisah, Menteri Pertahanan Inggris Grant Shapps menyebut serangan terbaru terhadap Houthi itu dilakukan untuk mempertahankan diri.
“Tindakan ini akan memberikan pukulan lain terhadap terbatasnya stok mereka dan kemampuan mereka mengancam perdagangan global,” sebut Shapps.
Pekan lalu, Presiden AS Joe Biden menegaskan serangan-serangan udara akan terus berlanjut, meskipun dia juga mengakui bahwa serangan itu mungkin tidak akan menghentikan serangan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah.
Seperti dilansir Reuters dan Al Arabiya, Selasa (23/1), Houthi yang menguasai wilayah-wilayah terpadat di Yaman, terus melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah. Houthi menyatakan serangan mereka merupakan solidaritas untuk warga Palestina di Jalur Gaza yang dilanda perang antara Israel dan Hamas.
Rentetan serangan Houthi itu telah mengganggu pelayaran global dan memicu kekhawatiran akan terjadinya inflasi global. Serangan itu juga memperdalam kekhawatiran bahwa dampak perang Israel-Hamas bisa mengganggu stabilitas kawasan Timur Tengah.
Kantor berita resmi Yaman, Saba, membernarkan pasukan AS-Inggris melancarkan serangan ke ibu kota Sanaa dan beberapa wilayah lain di negeri itu. Sementara outlet TV Houthi al-Masirah mengatakan, empat serangan menargetkan pangkalan militer Al-Dailami di utara ibu kota, yang berada di bawah kendali milisi itu.
Sebelumnya Houthi menyerang kapal-kapal di Laut Merah, yang mereka anggap terkait Israel. Ini sebagai bentuk protes serangan Israel ke Gaza, Palestina.
Milisi itu berjanji tak akan berhenti sampai Tel Aviv berhenti melakukan hal tersebut. Akibatnya sejumlah kapal-kapal logistik memutar arah tak melewati Laut Merah, melewati Tanjung Harapan, Afrika Selatan (Afsel).
AS, sekutu Israel, masuk dengan alasan “kebebasan navigasi” dan stabilitas kawasan. Pasukan AS dan Inggris melancarkan serangan ke Yaman sejak 11 Januari setiap ada serangan dari Houthi.
Sumber: hariansib.com
DERAS.CO.ID Anda Berhak Tahu!