DERAS.CO.ID – Taipei – Sedikitnya sembilan orang korban tewas akibat gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,5 yang mengguncang Taiwan Rabu (3/4). Lebih dari 700 orang mengalami luka-luka akibat gempa kuat yang merusak puluhan bangunan tersebut dan 127 orang “terjebak”.
Seperti dilansir AFP, Rabu (3/4), otoritas Taiwan melaporkan bahwa gempa bumi itu merupakan yang terkuat yang mengguncang pulau itu dalam beberapa dekade terakhir, dan memperingatkan adanya gempa susulan dalam beberapa hari ke depan.
“Gempanya dekat dengan daratan dan merupakan gempa dangkal. Gempanya terasa di seluruh wilayah Taiwan dan pulau-pulau lepas pantai,” ucap Direktur Pusat Seismologi pada Badan Prakiraan Cuaca Taiwan, Wu Chien-fu, dalam pernyataannya.
Regulasi bangunan yang ketat dan kesadaran masyarakat yang luas terhadap bencana tampaknya telah mencegah terjadinya bencana besar di pulau rawan gempa tersebut, yang terletak di dekat persimpangan dua lempeng tektonik.
Wu mengatakan bahwa gempa bumi yang mengguncang pada Rabu (3/4) pagi itu tercatat sebagai gempa paling kuat sejak gempa berkekuatan Magnitudo 7,6 yang mengguncang pada September 1999 silam dan menewaskan sedikitnya 2.400 orang, dalam bencana alam paling mematikan dalam sejarah Taiwan.
Pusat gempa bumi itu dilaporkan berada lepas pantai timur Taiwan, yang berjarak hanya 18 kilometer dari kota Hualien.
Departemen Pemadam Kebakaran Nasional Taiwan melaporkan bahwa tujuh korban tewas semuanya ada di wilayah Hualien.
Laporan otoritas Taiwan menyebut, tiga korban tewas di antaranya merupakan bagian dari kelompok tujuh orang yang melakukan pendakian pagi hari di perbukitan yang mengelilingi kota tersebut. Mereka dilaporkan tewas setelah tertimpa batu-batu besar yang runtuh dari tebing akibat gempa.
Di lokasi terpisah, seorang pengemudi truk dan seorang pengemudi mobil tewas ketika kendaraan mereka tertimpa bongkahan batu, sementara seorang pria lainnya tewas di area tambang setempat.
Laporan Departemen Pemadam Kebakaran Nasional Taiwan juga menyebut sekitar 736 orang mengalami luka-luka akibat gempa tersebut.
Presiden Tsai Ing-wen menyerukan lembaga-lembaga pemerintah daerah dan pusat untuk saling berkoordinasi, dan mengatakan bahwa militer juga akan memberikan dukungan.
Pejabat Seismologi Taipei mengatakan, gempa ini berpusat di Kota Hualien.
“Gempa bumi di Taiwan terkuat dalam 25 tahun,” kata pejabat seismologi Taipei dilansir AFP.
Roboh
Diberitakan bahwa gempa itu juga meruntuhkan bangunan-bangunan di kota selatan dan menimbulkan tsunami di pulau-pulau selatan Jepang.
Dilansir Associated Press, Rabu (3/4), bangunan berlantai lima di Hualien tampak rusak berat. Lantai pertama runtuh dan sisanya miring pada sudut 45 derajat.
Di ibu kota Taiwan, Taipei, ubin berjatuhan dari gedung-gedung tua dan di beberapa kompleks perkantoran baru. Layanan kereta api juga dihentikan di seluruh pulau berpenduduk 23 juta orang itu.
Orang-orang juga dilaporkan terjebak di dalam gedung-gedung yang miring atau ambruk. Sedikitnya 26 gedung atau bangunan dalam kondisi miring atau ambruk akibat gempa kuat tersebut.
Seperti dilansir CNN, Pusat Komando Darurat Pusat (CEOC) Taiwan menyebut ada laporan orang-orang terjebak di dalam tujuh gedung yang ambruk. Namun jumlah pasti orang-orang yang terjebak tidak disebutkan secara jelas.
Departemen Pemadam Kebakaran Nasional Taiwan, dalam laporannya terpisah seperti dilansir The Guardian, juga melaporkan bahwa 26 gedung atau bangunan dalam kondisi “miring atau ambruk” akibat gempa. Namun lokasi gedung-gedung itu tidak disebutkan lebih lanjut.
CEOC dalam laporannya menyebut gedung-gedung yang ambruk itu termasuk 15 bangunan di distrik Hualien yang terletak dekat dengan pusat gempa.
Seorang pejabat pemadam kebakaran di distrik Hualien menuturkan kepada AFP bahwa “dua gedung ambruk dan beberapa orang diyakini terjebak”.
Gempa tersebut juga berdampak pada pasokan listrik, dengan menurut CEOC, lebih dari 91.000 rumah warga tidak mendapatkan aliran listrik usai gempa .
Perusahaan listrik negara, Taipower, sedang berupaya memulihkan aliran listrik ke rumah warga.
TERJEBAK
Pihak berwenang Taiwan telah mengonfirmasi bahwa sebanyak 127 orang terjebak akibat gempa tersebut.
Dari jumlah itu, 77 orang di antara mereka terjebak di dalam terowongan-terowongan Jinwen dan Daqinqshui di bawah pegunungan wilayah Hualien, kata Dinas Pemadam Kebakaran.
Sebanyak 50 orang sisanya terjebak di dalam empat minibus yang sedang melakukan perjalanan dari Kota Hualien ke Taman Nasional Taroko.
Mereka semua adalah staf yang hendak dibawa ke Hotel Silks Place Taroko, menjelang libur selama empat hari dari Kamis (4/4) hingga Minggu (7/4).
‘Sejauh ini tidak ada WNI yang menjadi korban gempa Taiwan’
Dalam keterangan tertulis yang diterima BBC News Indonesia sekitar pukul 11.00 WIB, Rabu (3/4), juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Lalu Muhammad Iqbal mengatakan “sejauh ini tidak ada WNI yang menjadi korban gempa di Taiwan dan Prefektur Okinawa Jepang.”
Hal itu berdasarkan koordinasi Kemenlu Indonesia dengan KBRI Tokyo dan Taipei.
Dia kemudian menjanjikan akan ada keterangan “detil” dari Direktorat Pelindungan WNI tentang hal ini.
“Sedang disiapkan,” tulis Lalu Muhammad Iqbal.
Hadapi Tsunami
Pemerintah Jepang mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga yang tinggal di wilayah pesisir di prefektur selatan Okinawa usai gempa bumi M 7,5 yang mengguncang Taiwan, yang memicu peringatan tsunami di Jepang. Jepang memperkirakan gelombang tsunami akan mencapai 3 meter di wilayah pantai barat daya Jepang.
Dilansir Reuters, gelombang tsunami setinggi hingga 3 meter diperkirakan akan mencapai sebagian besar wilayah pantai barat daya Jepang, menurut Badan Meteorologi Jepang. Peringatan itu muncul setelah gempa bumi sangat dangkal dengan kekuatan awal 7,5 SR terjadi di laut dekat Taiwan.
Badan Meteorologi Jepang mengatakan Tsunami setinggi 30 cm telah terlihat mencapai Pulau Yonaguni pada pukul 09:18 (0018 GMT).
Dilansir NHK, peringatan tsunami telah dikeluarkan untuk wilayah pesisir wilayah Miyakojima dan Yaeyama di barat daya Jepang dan pulau utama Okinawa, keduanya di Prefektur Okinawa.
Para pejabat meminta masyarakat di daerah tersebut untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi atau tempat yang aman sesegera mungkin. Para pejabat juga memperkirakan akan terjadi tsunami setinggi 3 meter di wilayah tersebut.
Jepang memperkirakan waktu tibanya tsunami adalah sebagai berikut, di wilayah Miyakojima-Yaeyama, pada pukul 09:30. Serta di wilayah pulau utama Okinawa, pada pukul 10 pagi.
Otoritas setempat juga memutuskan menghentikan sementara operasional Bandara Naha di wilayah Okinawa.
“Penerbangan dihentikan di bandara utama di wilayah selatan Jepang, Okinawa, pada hari Rabu karena peringatan tsunami yang dipicu oleh gempa bumi di Taiwan, kata seorang pejabat pemerintah dilansir AFP, Rabu (3/4).
Operasional Bandara Naha di Okinawa dihentikan mulai pukul 09.25 waktu setempat. Pemerintah akan mengalihkan penerbangan ke daerah Okinawa selama peringatan tsunami berlangsung.
Mengungsi
Pemerintah Filipina juga telah mengeluarkan peringatan akan terjadinya tsunami.
“Masyarakat di wilayah pesisir provinsi-provinsi berikut sangat disarankan untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi atau pindah lebih jauh ke daratan,” kata lembaga seismologi negara dilansir AFP.
AFP melaporkan wilayah pesisir di 23 provinsi Filipina terancam dilanda tsunami. Namun, gelombang tsunami diperkirakan tidak akan sampai ke daerah Manila.
Gelombang tsunami pertama diperkirakan terjadi antara pukul 00.33 GMT dan 02.33 GMT yang mungkin bukan yang terbesar. Gelombang ini disebut dapat berlanjut selama berjam-jam.
“Pemilik kapal di pelabuhan, muara atau perairan pantai dangkal di provinsi-provinsi yang disebutkan di atas harus mengamankan kapal mereka dan menjauh dari tepi laut,” katanya.
Cabut
Namun, Otoritas Filipina dan Jepang telah mencabut peringatan tsunami yang sempat dirilis setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,5 mengguncang Taiwan. Tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan di kedua negara usai peringatan tsunami dikeluarkan pada Rabu (3/4) pagi.
Seperti dilansir AFP dan Associated Press, badan seismologi Filipina dalam pernyataan terbarunya mengumumkan pembatalan peringatan tsunami untuk area pesisir negara tersebut.
“Berdasarkan data yang tersedia dari stasiun pemantauan permukaan laut kami yang menghadap ke area episentral, tidak ada gangguan permukaan laut signifikan yang tercatat sejak pukul 07.58 waktu setempat hingga pembatalan ini,” demikian pernyataan Badan Seismologi Filipina.
“Sebagian besar dampak peringatan tsunami telah berlalu,” imbuh pernyataan tersebut.
Sumber: hariansib.com
DERAS.CO.ID Anda Berhak Tahu!