DERAS.CO.ID – Port-au-Prince – Kekerasan yang dilakukan gangster di Haiti makin menjadi-jadi. Serangan bahkan dilakukan ke bank sentral, Bank of Republic Haiti (BRH), di ibu kota Port-au-Prince, Selasa waktu setempat.
Dilaporkan, “sekelompok penjahat” berupaya menyerang gedung bank. Baku tembak bahkan terjadi dengan penjaga keamanan bank, polisi dan angkatan bersenjata.
“Seorang penjaga kemanan bank ditembak dan terluka,” kata seorang karyawan yang menjadi saksi mata dimuat AFP, dikutip Rabu (20/3).
“Tiga atau empat tersangka penjahat dibunuh,” tambahnya lagi enggan menyebut nama.
Hal ini juga dibenarkan BRH. Dalam sebuah cuitan di media sosial (medsos) X, bank sentral menyebut penyerangan telah dilakukan di lokasi BRH di Rue Pavee.
Meski demikian upaya kejahatan para gangster berhasil digagalkan. Dikatakan bahwa pasukan keamanan dan penjagaan bank telah bertindak dengan profesional dan efisien.
“Sangat berterima kasih kepada penjaga keamanan dan polisi atas kewaspadaan dan komitmen terus-menerus mereka untuk melindungi komunitas kami,” bunyi cuitan itu.
Haiti telah diguncang kekerasan geng sejak akhir Februari. Ini dimulai kala para gangster menggerebek sebuah penjara, melepaskan ribuan narapidana dan menuntut Perdana Menteri (PM) Ariel Henry mengundurkan diri.
Henry akhirnya setuju untuk mundur guna memungkinkan pembentukan pemerintahan sementara. Tekanan dari negara-negara tetangganya di Karibia dan Amerika Serikat (AS) juga menjadi penyebab.
Pembicaraan di antara partai-partai politik dan partai-partai lain sedang dilakukan untuk membentuk dewan transisi untuk menunjuk PM sementara. Tujuannya agar negara tersebut siap untuk mengadakan pemilu suatu saat nanti.
Perlu diketahui, Haiti sekarang tidak memiliki presiden atau parlemen. Pemilu terakhirnya terjadi pada tahun 2016.
Belum ada batas waktu resmi yang diumumkan untuk pembentukan dewan ini, namun Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mendesak itu segera dilakukan. Ia meminta semua pemangku kepentingan Haiti untuk mengesampingkan perbedaan mereka dan segera mengambil tindakan dalam penerapan pengaturan pemerintahan transisi.
Dihancurkan
Meski PM mundur situasi masih mencekam. Warga masih berada dalam status jam malam dan keadaan darurat.
Di ibu kota, jam malam diperpanjang hingga Rabu ini mengingat kekerasan yang masih terjadi. Keadaan darurat sendiri akan berakhir 3 April.
Beberapa daerah di wilayah metropolitan Port-au-Prince dibiarkan tanpa aliran listrik. Dilaporkan oleh perusahaan listrik negara bahwa para gangster juga telah menyerang utilitas listrik di negara itu.
Senin, dilaporkan empat gardu induk hancur dan tidak berfungsi sama sekali. “Listrik d’Haiti tidak luput dari tindakan vandalisme (baru-baru ini) dan teror para bandit,” kata perusahaan.
Belum ada update apakah pasukan keamanan PBB akan turun ke lokasi. Diketahui, awalnya akan ada pasukan PBB dari Kenya yang turun ke negara itu namun batal seiring pengunduran diri PM.
Ajukan Calon
Para pemimpin di kawasan Karibia mengatakan pada Selasa (19/3), bahwa semua kelompok dan partai politik, kecuali satu partai, telah mengajukan calon untuk mengisi posisi pada dewan presiden transisi yang bertugas untuk memilih perdana menteri sementara untuk Haiti, yang masih diliputi oleh kekerasan antar geng.
Dewan yang awalnya beranggotakan sembilan orang itu dikurangi menjadi delapan anggota setelah partai Pitit Desalin, yang dipimpin oleh mantan senator dan calon presiden Jean-Charles Moïse, menolak untuk ambil bagian. Moïse sendiri beraliansi dengan Guy Philippe, seorang mantan pejabat kepolisian dan pemimpin pemberontakan yang telah menjalani hukuman di AS setelah mengaku bersalah atas tuduhan pencucian uang.
Kelompok 21 Desember, yang berafiliasi dengan Perdana Menteri Ariel Henry, adalah salah satu kelompok yang bertahan hingga akhir. Kelompok itu menyerahkan nama calonnya pada hari Senin (18/3).
Sumber: hariansib.com
DERAS.CO.ID Anda Berhak Tahu!