Tuesday , August 25 2026
Beranda / Featured / Habibie : Saya Ditawarkan Pindah Warga Negara, Tapi Saya Katakan Tidak
deras.co.id
Prof. Ir. (Ing) Burhanuddin Jusuf Habibie

Habibie : Saya Ditawarkan Pindah Warga Negara, Tapi Saya Katakan Tidak

Den Haag,  Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda dan masyarakat Indonesia di Belanda berdialog dengan Presiden RI ke-3 Prof B.J.Habibie. Dialog dipandu Dubes RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja.

Kegiatan dialog dikemas dalam agenda “Lingkar Inspirasi” berlangsung di Aula Nusantara, KBRI Den Haag, Belanda. Sebelum acara dialog yang dihadiri lebih dari 250 orang, ditayangkan film “Rudy,” film terbaru yang menceritakan kisah perjalanan studi Prof. Habibie di Aachen, Jerman.

Termasuk saat menjadi Ketua PPI Aachen yang sarat dengan dengan jiwa kepemimpinan.  Dalam dialog, dengan gaya bicaranya yang khas Prof Habibie menjelaskan pengalamannya menuntut ilmu di Jerman, mulai dari sarjana, dilanjutkan dengan program master, hingga menyelesaikan program doktoralnya sehingga meraih gelar doktor pada usia yang relatif masih belia.

Dengan temuan-temuan penelitian saya, berbagai tawaran menggiurkan diberikan kepada saya, termasuk untuk berpindah kewarganegaraan, namun saya selalu mengatakan tidak,” ujar Prof Habibie.

deras.co.id
                                       Presiden RI Ke-3 Prof. Ing. Burhanuddin Jusuf habibie

Pernyataan tersebut menggambarkan betapa konsisten dan tingginya dedikasi prof Habibie kepada negara dan bangsa Indonesia.

Dalam buku “Habibie dan Ainun” BJ Habibie mengungkapkan bagaimana momen-momen ketika rasa cinta Tanah Airnya diuji. Salah satu momen yang tak terlupakan adalah bagaimana ia ditawarkan bekerja di Boeing. Tawaran itu datang mengingat karya S3 Habibie tentang konstruksi ringan kecepatan supersonic bahkan hipersonic.

Pekerjaan dan fasilitasnya yang ditawarkan sangat menarik dan meyakinkan. Saya diberi waktu untuk mempertimbangkannya,” ujar Habibie dalam buku itu. Dengan berbagai pertimbangan ia menolak.

Prestasi dan ide-ide cemerlang dalam pengembangan teknologi pesawat terbang dan perkapalan, pemerintah Jerman memberikan fasilitas visa, izin tinggal dan bekerja seumur hidup kepadanya. Dalam buku “Habibie dan Ainun” juga dijabarkan bagaimana, Pemerintah Jerman menawarkan status kewarganegaraan. Namun sekali lagi Habibie menolak tawaran itu karena persoalan etik dan moral.

Saya pernah menolak tawaran untuk menjadi warga negara Jerman karena nilai moral dan etik tak dapat menerima tawaran tersebut. Sehingga sebagai jalan tengah saya bersama istri diberi izin tinggal dan bekerja seumur hidup di Departemen Pertahanan Jerman,” tutur Habibie.

Saya selalu menganggap keberadaaan saya di tanah rantau sebagai masa transisi untuk mencari pengalaman. Pengalaman ini saya perlukan untuk kelak dapat membantu bangsa saya dalam perjuangan yang sedang mereka laksanakan.”

Seorang anggota PPI mengaku terinspirasi dengan pengalaman dan kontribusi Habibie kepada bangsa. “Saya sangat terinspirasi oleh sikap beliau yang sangat kuat untuk senantiasa berkontribusi kepada bangsa dan negara, dengan harus pulang ke Indonesia dan mengabdikan ilmu yang telah didapatkan untuk kemajuan negeri,” ujar Dwi Hartanto, calon doktor dari TU-Delft yang saat ini juga mendapat iming-iming serupa dengan Prof Habibie.

Dipicu film “Rudy” beberapa mahasiswa pun tergelitik mengajukan pertanyaan tentang cerita film tersebut. Salah satu tentang kisah hubungan dengan beberapa gadis cantik yang menaruh perhatian kepada Habibie muda.

Kebenaran cerita tersebut pun diiyakan Wardiman Djojonegoro, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, teman sekamar Pak Habibie waktu kuliah di Aachen, yang juga sedang berada di Belanda dan hadir pada pertemuan tersebut. Tidak terlewatkan, Pak Habibie pun selalu menyinggung kekekalan hubungannya dengan Ainun, belahan jiwanya, yang tidak pernah terpisahkan meski oleh kematian. Kisah “Ainun” ini sedang disiapkan dalam bentuk opera, yang rencananya akan ditampilkan di Belanda tahun depan. Dalam wawancara khusus Sekjen PPI Belanda, Fariz Isnaini dan tim liputannya, terkait dengan isu pengembangan teknologi di Indonesia ke depan, Pak Habibie menjelaskan banyak yang dilakukan pada waktu lalu untuk mengembangkan industri pesawat terbang di Indonesia.

Akan tetapi kita ini tidak memiliki budaya estafet, sehingga hal-hal yang telah dicapai oleh generasi sebelumnya tidak dilanjutkan generasi selanjutnya,” ujar Prof Habibie.

Sumber : republika.co.id

Baca Juga

deras.co.id

Bobby Nasution Ajak Masyarakat dan Pelaku Usaha Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

DERAS.CO.ID – MEDAN – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution mengajak masyarakat dan …