Wednesday , September 23 2026
Beranda / Edukasi / Keunikan Songket Tenun Minangkabau

Keunikan Songket Tenun Minangkabau

Oleh: Ida Rahmadani, M.Pd.* dan Bagoes Maulana, M.Kom.**

Songket Minangkabau salah satu bentuk senirupa tradisional yang unik. Songket Minangkabau, merupakan sebuah pencatatan ajaran filosofi. Motif atau ragam hias pada songket Minangkabau masing-masing memiliki nama dan makna. Bahkan motif yang paling sederhana sekalipun, misalnya motif batang pinang yang hanya berbentuk garis lurus pada tepi kain, atau sebagai batas antara motif yang satu dengan motif lainnya, mengandung makna perumpamaan sifat mulia manusia, yaitu sifat lurus dan jujur.

Sejarah dari songket Minangkabau sendiri berasal dari kerajaan Sriwijaya yang kemudian dikembangkan melalui kerajaan Melayu sampai akhirnya masuk ke ranah Minang. Songket tercipta sebagai alat ekspresi karena orang-orang Minang pada jaman dahulu tidak bisa menulis dan akhirnya mereka pun mengekspresikan perasaan mereka ke dalam songket sehingga masing-masing songket punya arti dan makna yang berbeda-beda. Sebagai ciri khas kain di Minangkabau atau Sumatera Barat, kain songket yang terkenal di Sumatera Barat adalah “Songket Pandai Sikek dan Songket Silungkan”. Nama ke dua songket ini diambil dari nama daerah atau tempat kain ini berasal yaitu Pandai Sikek di Tanah Datar dan Silungkan di Sawahlunto.

Pucuk Rebung Yang Legendaris

Songket Minangkabau adalah salah satu bentuk senirupa tradisional yang unik. Seni-tenun ini cukup rumit dan membutuhkan ketelitian serta ketekunan dalam proses penenunannya. Selain itu, ragam-hias atau motif songket Minangkabau tidak hanya sekadar hiasan atau ornamen. Motif atau ragam-hias songket Minangkabau masing-masing memiliki nama dan makna yaitu tentang perjalanan kebudayaan dan masyarakat Minangkabau.

Motif-motif songket Minangkabau ditampilkan dengan wujud simbol-simbol alam terutama tumbuhan yang kaya makna tersurat dan tersirat. Motif-motif songket kerap diberi nama tumbuh-tumbuhan, binatang ataupun benda-benda yang ada di alam sekitar. Misalnya motif Bungo Malur, Kudo-Kudo, Kain Balapak Gadang, Pucuak Ranggo Patai, Pucuak Jawa, Pucuak Kelapa, dan banyak lagi. Motif hiasan tepi kain tenun pun diberi nama, seperti Bungo Tanjung, Lintahu Bapatah, Bareh Diatua, Ula Gerang, dan sebagainya. Layaknya motif wastra Nusantara yang sarat makna, motif-motif songket Silungkang pun bertabur filosofi.

Motif kaluak paku (lekuk pucuk pakis muda) bermakna “Sebelum mengoreksi orang lain, hendaknya melihat ke dalam diri kita sendiri terlebih dahulu”. Sementara motif ilalang rabah (rebah) berarti “Kewaspadaan, kehati-hatian dan kecermatan seorang pemimpin adalah hal yang utama”.

Motif yang paling populer dan bermakna sakral bagi masyarakat Minangkabau adalah motif Pucuk Rebung atau dalam bahasa lokal disebut Pucuak Rabuang melambangkan sepanjang kehidupan yang berguna. Itu semua tampak pada evolusi rebung (bambu muda) hingga menua yang mencerminkan proses kehidupan manusia menuju pribadi yang bermanfaat.

Songket Pandai Sikek

Secara teknis pembuatan kain tenun Pandai Sikek, tipe kain terbagi kepada dua tipe, yaitu balapak dan bacatua. Kain balapak adalah kain yang ditenun dengan melawatkan benang mas pada seluruh bidang kain, sedang kain bacatua adalah kain yang sebagian besar terdiri dari tenunan lungsin dengan pakan saja, dan hanya pada bagian-bagian tertentu diberi hiasan benang mas sehingga bahannya menjadi lebih ringan.

Dalam pembuatan motif menggunakan benang mas, dikenal istilah tuhuak, yaitu jumlah berepa kali benang mas dilewatkan pada jalur motif yang sama. Kalau ada enam lembar benang mas pada jalur yang sama akan memberikan kesan kasar, sedang kalau hanya dua lembar akan menghasilkan motif yang lebih halus.

Tipe kain juga ditentukan oleh penggunaanya. Kain yang ditenun untuk dipakai pada upacara perkawinan berbeda dari kain yang ditenun untuk dipakai pada acara resepsi. Bahan yang digunakan, seperti benang katun, rayon, sutra alam, benang mas, atau benang perak, turut menentukan tipe kain tenun yang dihasilkan. Secara teknis, semakin halus dan rumit motif songketnya, pun makin detail jenis dan ukurannya, akan semakin lama pengerjaannya dan semakin mahal harganya.

Salah satu tempat yang melakukan proses tenun dan juga penjualan Songket Pande Sikek di Sumatera Utara khususnya di Kota Medan adalah Raz Museum & Gallery yang berlokasi di Jalan Dr. Mansyur No. 164 Medan. Museum dan sekaligus galeri ini merupakan milik dari Hj. Rahmawaty, seorang wanita Minang yang sangat berdedikasi dalam melestarikan budaya khususnya budaya suku Minang. Di tempat ini, para pengunjung akan menjumpai berbagai songket yang telah dijelaskan pada paparan kajian di atas sekaligus dapat memilikinya dengan membayar sesuai harga yang telah ditetapkan.

*Penulis adalah guru Bahasa Indonesia di SMA Shafiyyatul Amaliyyah
**Penulis adalah Kepala SMA Shafiyyatul Amaliyyah

Baca Juga

deras.co.id

Bobby Nasution Puji Soliditas Komunitas Vespa, Kekeluargaan Tak Ternilai dengan Uang

DERAS.CO.ID – MEDAN — Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution mengapresiasi kuatnya nilai …