Monday , April 20 2026
Beranda / Inspirasi / Manfaatkan Pohon Pisang
shafiyyatul.com

Manfaatkan Pohon Pisang

Berkat ketekunan wanita asal Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta, Ratna Prawira, nyaris tidak ada yang terbuang dari pohon pisang. Mulai daun, buah, bonggol, bahkan batangnya. Semua bisa diolah menjadi makanan dan minuman lezat, seperti sirup daun pisang, nugget jantung pisang, sambal goreng pisang, kerupuk kulit pisang, abon batang pisang, semprong bonggol pisang, dan banyak lagi.

Tak hanya untuk Ratna, dia pun memberdayakan perempuan di sekitar tempat tinggalnya melalui Kelompok Tani Wanita Seruni yang didirikannya. Kini usaha yang dirintisnya berbuah manis, bahkan rumah yang digunakan untuk memulai usaha ini, kini menjadi tempat wisata belajar untuk masyarakat Indonesia.

Berkat prestasinya tersebut, Ratna menerima penghargaan Kategori Perempuan & Wirausaha Tablod Nova. “Keberhasilan perempuan salah satunya ditentukan oleh konsistensi mereka untuk berjuang tanpa menyerah dan sepenuh cinta mengerahkan semua energi, perhatian, dan hasil akhir yang bermanfaat bagi sesama dan lingkungannya, bukan buat dirinya semata,” kata Iis R. Soelaeman, selaku Editor in Chief Tabloid NOVA di Jakarta, Sabtu (05/12/2015). Penghargaan itu diberikan kepada para perempuan yang menebarkan manfaat dan menginspirasi lingkungannya melalui Perempuan Inspiratif NOVA 2015.

Ide untuk membuat aneka olahan dari pisang bermula ketika Ratna ditunjuk menjadi ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Seruni yang didirikan pada 2009. Ratna ingin kelompok ini bisa maju. Dia lalu memulainya dengan membuat sesuatu dengan bahan yang ada di pekarangan tempat tinggalnya. Kebetulan, pisang uter yang berbiji ini banyak tumbuh liar di desanya, Sendangtirto, Berbah, Sleman, DI Yogyakarta. Baik di pekarangan, pinggir sawah, maupun kali. Sampai 2009, harga pisang ini sangat murah, tak laku dijual dan hanya untuk pakan burung.

Ratna berniat mengolahnya menjadi sesuatu yang bisa memberikan tambahan penghasilan bagi warga yang lahannya ditumbuhi pisang uter. Ratna bercerita, awalnya para tetangganya sering memberikan pisang itu dari hasil pekarangan mereka. Namun, karena keluarganya tidak menyukainya, dia terpaksa membuang pisang itu. Namun, Ratna berpikir kalau saja pisang ini bisa diolah menjadi sesuatu, tentu lebih berguna. Waktu itu, harga pisang uter hanya Rp 2.500 per tandan, jadi bisa menekan biaya produksi. Padahal, pohon pisang uter tidak gampang kena penyakit.

Saat itu Ratna mengolahnya menjadi tepung pisang. Cara membuatnya tidak terlalu sulit. Pisang tinggal dikupas, diparut, lalu dijemur dan digiling. Tapi setelah dia pasarkan ternyata sulit mendapatkan pembeli, karena masyarakat sudah terbiasa bergantung pada tepung terigu. Akhirnya, dia ganti dengan membuat sambal goreng pisang yang bentuknya mirip kering tempe. Dan, makanan ini baru bisa diminati orang. Namun muncul kendala baru, yaitu kulit pisang yang jadi menumpuk. Kulit ini lalu ia coba olah menjadi kerupuk. Awalnya membuatnya memang agak sulit. Tapi setelah tujuh kali mencoba, baru berhasil.

Ratna mulai memproduksi semua olahan pisang itu pada 2011. Semua itu dibuat oleh anggota KWT. Selama 1,5 tahun sebelumnya, dia berusaha membenahi dulu sumber daya manusia yang ada. Sebab, para anggota KWT itu rata-rata hanya berpendidikan SD.

Sumber: www.beritasatu.com

Baca Juga

deras.co.id

Payabakung United Juara Liga 4 Sumut, Wagub Surya Serahkan Trofi Piala Gubernur

DERAS.CO.ID – DELISERDANG – Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Utara (Sumut) Surya menyerahkan trofi juara Liga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *