Wednesday , September 23 2026
Beranda / Featured / Menyingkir Dari Pergaulan Umum Dalam Pandangan Islam
deras.co.id

Menyingkir Dari Pergaulan Umum Dalam Pandangan Islam

Syekh Ibnu Athaillah Assakandary berkata:

مَا نَفَعَ القَلبَ شَيءٌ مِثْلُ عُزْلةٍ يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانَ فِكْرَةٍ

Artinya: “Tidak ada yang berguna bagi hati selain uzlah (menyingkir dari pergaulan umum) yang disertai dengan kegiatan bertafakkur

Dalam pembahasan sebelumnya, Ibnu Athaillah telah menekankan pentingnya memendamkan eksistensi kita di tanah ketiadaan (khumul), dimana hal tersebut merupakan pondasi kesempurnaan hati dan jiwa. Salah satu cara memendamkan eksistensi itu adalah dengan tidak terlalu sering melakukan pergaulan dengan orang banyak.

Dalam hikmah ini, Ibnu Athaillah berbicara tentang ‘uzlah, yaitu sikap mengisolasi diri, menyendirikan hati untuk Allah SWT, dan menyingkir dari keramaian masyarakat. Adapaun tafakkur dapat diartikan sebagai pengembaraan hati kepada Allah SWT.

Sikap seperti ini disamping dapat menjaga muruah/marwah (wibawa) seseorang, juga dapat menjaga jiwa dari hal-hal yang mungkin saja merusak dirinya sendiri.

Namun, ‘uzlah sendiri tidak ada manfaatnya jika tak disertai dengan kegiatan lain, yaitu beribadah dan bertafakkur, melakukan refleksi, merenung, berpikir, serta melakukan aktivitas rohani.

Proses ‘uzlah dan bertafakkur merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Ibnu Ajibah memberikan analogi ‘uzlah dan tafakkur seperti seorang yang melakukan diet makan dan obat; ‘uzlah ibarat diet, dan tafakkur ibarat obat.

Seorang yang sakit, haruslah dapat mengurangi pola makannya agar efek dari obat yang ia minum dapat dirasakan. Begitupun ‘uzlah, ia harus dibarengi dengan proses taffakur agar tujuan dari uzlah tersebut, yaitu pembersihan jiwa dapat tercapai.

Syekh Abu Hasan Asyadzily berkata: “Buah dari ‘uzlah (yang dibarengi dengan proses bertafakkur) adalah memperoleh empat karunia, yakni tersingkapnya tabir antara khalik dan makhluk, turunnya rahmat, terwujudnya cinta kasih, dan lisan yang jujur.”

Rasulullah SAW bersabda: “Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan perlindungan Allah SWT di saat tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. (Salah satu diantaranya adalah) laki-laki yang mengingat Allah SWT di tempat yang sunyi, lalu air matanya bercucuran.” (HR. Bukhori)

Walaupun sikap ‘uzlah ini dikesankan hanya bagi orang-orang yang sudah mencapai maqam tajrid (sebuah tingkatan dalam tasawuf yang kehidupannya sudah terlepas dari hal-hal sebab akibat), akan tetapi ‘uzlah bisa kita maknai secara lebih luas: yaitu kemampuan kita untuk memfokuskan pikiran, begitu rupa sehingga saat kita berada di tengah-tengah orang ramai, kita tidak larut bersama mereka. Pikiran kita tidak kehilangan orientasi, dan hanya fokus kepada Allah SWT.

Sumber : aktual.com

Baca Juga

S&P Global Ratings Beri INALUM Peringkat ‘BBB-‘, Tegaskan Peran Strategis dalam Hilirisasi Aluminium Nasional

PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM memperoleh peringkat kredit internasional rating ‘BBB-’ dengan Outlook …