DERAS.CO.ID – Jakarta – Panji Gumilang telah sampai di Gedung Sate Bandung untuk memenuhi panggilan dari tim investigasi terkait dugaan ajaran menyimpang di Ponpes Al-Zaytun Indramayu. Dia menyapa orang-orang dengan salam bahasa Ibrani, ‘shalom alaichem’.
Panji Gumilang tiba sekitar pukul 16.00 WIB mengenakan setelan jas berwarna biru dongker dan kopiah. Dia juga dikawal beberapa orang yang diperkirakan juga berasal dari Ponpes Al-Zaytun.
Setiba di Gedung Sate, Panji Gumilang langsung memasuki Ruang Lokantara. Tidak sepatah kata pun diucapkan Panji Gumilang saat ditanya puluhan awak media yang sudah menunggu kedatangannya.
Namun, Panji terdengar mengucapkan ‘shalom alaichem’. Hal itu disampaikan Panji setelah menjawab salam dari orang-orang yang ada di luar Ruang Lokantara.
“Assalamualaikum,” ucap Panji Gumilang.
“Waalaikumsalam,” jawab orang-orang.
“Shalom alaichem,” ujar Panji.
Setelah itu, Panji lanjut melakukan pertemuan dengan tim investigasi yang dibentuk Pemprov Jabar di Ruang Rapat Manglayang.
Irit Bicara
Panji Gumilang meninggalkan Gedung Sate setelah memenuhi panggilan tim investigasi. Panji Gumilang irit bicara.
Panji keluar sekitar pukul 17.40 WIB. Dia keluar setelah sekitar 100 menit bertemu dengan tim investigasi.
“Semuanya sudah selesai,” ucap Panji.
“Bagus, bagus,” sambung Panji Gumilang saat ditanya terkait hasil pertemuan.
Panji tak menjelaskan apa saja isi pertemuan itu. Dia kemudian menaiki mobil dan meninggalkan Gedung Sate.
Akan Bekukan
Sementara itu, Kementerian Agama (Kemenag) bersama sejumlah ormas Islam saat ini tengah mengkaji soal polemik Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Zaytun. Kemenag akan membekukan izin Al-Zaytun jika terbukti melakukan pelanggaran berat dan menyebarkan paham yang diduga sesat.
“Jika Al-Zaytun melakukan pelanggaran berat, menyebarkan paham keagamaan yang diduga sesat, maka kami bisa membekukan nomor statistik dan tanda daftar pesantren, termasuk izin madrasahnya,” kata juru bicara Kemenag Anna Hasbie, dalam keterangannya, Jumat (23/6).
Anna menerangkan, Kemenag merupakan regulator dalam penyelenggaraan pendidikan keagamaan, termasuk pesantren. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag diberi kewenangan untuk menerbitkan nomor statistik dan tanda daftar pesantren.
Hal itu diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam No 1626 tahun 2023 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Keberadaan Pesantren. Dan, Pesantren Al-Zaytun saat ini tercatat memiliki keduanya, baik nomor statistik maupun tanda daftar.
Anne mengatakan Ditjen Pendidikan Islam memiliki kewenangan untuk membekukan nomor statistik dan tanda daftar pesantren.
“Sebagai regulator, Kemenag memiliki kuasa administratif untuk membatasi ruang gerak lembaga yang di dalamnya diduga melakukan pelanggaran hukum berat,” tegas Anna Hasbie.
Bantah
Anne juga membantah pernyataan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil soal memberikan dana bantuan setiap tahun ke pesantren Al-Zaytun. Dia menekankan, dana itu merupakan BOS yang merupakan hak semua siswa.
“Kami tidak pernah memberikan dana bantuan ke Al-Zaytun,” kata Anne.
Dia memaparkan Al-Zaytun mengelola madrasah mulai dari jenjang ibtidaiyah (MI), tsanawiyah (MTs), hingga Aliyah (MA). Data di EMIS Kementerian Agama mencatat, ada 1.289 siswa MI, 1.979 siswa MTs, dan 1.746 siswa MA yang belajar di sana.
“Sesuai regulasi, para siswa ini berhak mendapat BOS. Ini berlaku untuk seluruh siswa yang belajar di madrasah dan memenuhi persyaratan. Sehingga, menjadi kewajiban kami, pemerintah, memenuhi hak-hak belajar mereka melalui BOS,” sebut Anna.
“Kami mengimbau, bagi para pejabat publik kalau bicara harus berbasis data. Kalau dana BOS itu hak siswa, semua sama. Siswa di negeri ini semua menerima dana BOS. Jadi jangan kemudian Pak Ridwan Kamil mengatakan Kemenag memberikan bantuan miliaran ke Zaytun padahal itu dana BOS. Udah salah kaprah itu,” lanjut dia.
Sumber: hariansib.com
DERAS.CO.ID Anda Berhak Tahu!