Salah satu perayaan maulid yang mulai digencarkan khususnya di Sumatera Utara diantaranya yaitu ‘maulid tsalatsin’. Safari maulid yang diadakan sejak awal bulan Rabi’ul Awal bergerak secara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya hingga akhir Rabi’ul Awal. Mulai dari mesjid, musala, majelis taklim hingga ke rumah-rumah warga yang bersedia menjadi ahli bait.
Pondok Pesantren Al-Mundziri Deli Serdang, Sumatera Utara pimpinan Ust. H. Muhammad Ja’far Shogir, M.A. menjadi ponpes sekaligus majelis taklim dan selawat yang melaksanakannya. Beliau berpendapat bukan zamannya lagi maulid Rasulullah hanya diperingati setahun sekali. Maulid harus menjadi bagian dari dakwah dan ibadah yang terus-menerus disebarluaskan agar memupuk kecintaan kepada sang pemberi cahaya umat.
Pada malam ke-21 kemarin tepatnya Sabtu malam Ahad (13/09), maulid tsalatsin ponpes Al-Mundziri memeriahkannya di rumah kediaman seorang ulama asal Desa Sei Mencirim Ust. Muhammad Hendro, S.H.I. yang berlokasi Jl. Baru Desa Sei Mencirim Sunggal, Deli Serdang. Alumnus UIN Sumatera Utara sekaligus Penasehat FKSMM (Forum Komunikasi Silaturahmi Masjid dan Musholla) se-Kecataman Sunggal dan Kutalimbaru ini bersedia menjadi ahli bait untuk bersama-sama menjadikan rumahnya sebagai wasilah untuk mencintai Rasulullah SAW.
Acara dibuka dengan tim hadrah dan qasidah dari santri-santri ponpes Al-Mundziri. Setelah itu dilanjutkan dengan mahallul qiyam seraya menyambut penceramah dan alim ulama yang akan duduk di panggung yang sudah disediakan ahli bait.
Tampak hadir dalam acara tersebut Ketua FKSMM ust. Salman Al-Jawi, S.E., Wakil Ketua H. Sugiardi, S.Pd., Humas Jalaluddin, S.E., ust. Abdul Faqih, ust. Drs. H. Nazaruddin, Ust. Syamsir lubis, S.Pd.I., perwakilan pemerintahan desa dan tentunya para jemaah yang hadir dari Kecamatan Sunggal dan Kutalimbaru. Jemaah yang menghadiri maulid tsalatsin diperkirakan berjumlah hampir 500 orang.
Ust. Muhammad Hendro, S.H.I. selaku ahli bait dalam sambutannya menyebut bahwa maulid yang digelar di kediamannya sebagai momentum refleksi sekaligus hajat beliau untuk mengirimkan do’a untuk orang tua yang sudah wafat.
“Maulid ini saya persembahkan sebagai wasilah untuk berbakti pada kedua orang tua saya. Semoga do’a para ustadz, santri dan orang-orang saleh disini insyaallah melapangkan kubur dan memasukkan orang tua saya ke dalam surga, aamiin ya rabbal ‘alamin”, kata Ust. Hendro memulai sambutannya
Bukan hanya itu Ust. Hendro juga mengenang kesedihannya saat ditinggal oleh anak beliau yang masih balita.
“Saya sempat dilanda kesedihan yang mendalam akibat anak yang saya sayangi meninggalkan dunia ini. Saya bahkan sampai diupah-upah agar kembali semangat dalam berdakwah. Para sahabat rekan sesama ustadz perlahan-lahan akhirnya membangkitkan saya yang sempat down”, kenang ustadz yang berprofesi sekaligus guru di salah satu sekolah agama ini.
Hal senada selanjutnya diucapkan pada tausiah maulid oleh pimpinan Pondok Pesantren Al-Mundziri Sunggal Ust. H. Muhammad Ja’far Shogir, M.A. yang menekankan bahwa pentingnya untuk tidak sendirian dalam berdakwah.
“Nabi Musa sempat merasa khawatir untuk berdakwah kepada Fir’aun, maka dari itu ia meminta kepada Allah agar diberikan wazir (pendamping) yaitu saudaranya nabi Harun. Lisan nabi Musa kurang fasih dalam berdakwah sebab waktu kecil lidahnya sedikit terbakar oleh bara api yang disebabkan oleh kejahatan Fir’aun, disitulah salah satu peran Nabi Harun yang fasih berbicara dalam mendampingi nabi Musa”. Ust. Ja’far mengawali tausiahnya.
“Selain itu untuk apa nabi Musa meminta teman dalam berdakwah? Untuk bersama-sama berdzikir dan bertasbih kepada Allah. Maksudnya yaitu terus bersama-sama memperbanyak pahala dan amal kebaikan”. Lanjut ulama yang pernah belajar di Pakistan ini.
Ust. Ja’far lalu menjelaskan kenapa Rasulullah dilahirkan pada hari Senin. Menurut pendapat pertama, sudah banyak peristiwa-peristiwa di hari-hari yang lain yang istimewa apalagi hari Jum’at, maka Allah takdirkan nabi Muhammad lahir di hari Senin. Menurut pendapat kedua kata Senin berasal dari bahasa arab Isnin yang berarti dua. Sedangkan kata Ahad atau esa merujuk kepada Allah SWT, maka dari itu Allah ciptakan yang kedua yaitu Rasulullah Muhammad SAW yang merupakan gandengannya Allah dalam kalimat syahadat.
Pimpinan ponpes Al-Mundziri ini kemudian menekankan pentingnya berselawat sebagai bentuk cinta dan kerinduan kepada nabi Muhammad.
“Perbanyak selawat dimanapun berada, selawat tak hanya dilakukan di dalam mesjid dan musala. Bisa di kenderaan, bisa saat sedang bekerja, bisa saat sedang memasak, bisa dimana saja dan kapan saja. Tak harus panjang-panjang, cukup Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad”. Tegas Ust. Ja’far dalam tausiahnya.
“Mari kita lanjutkan maulid nabi, FKSMM yang terdiri dari 35 masjid dan musala lanjutkan maulidnya, berkeliling dari mesjid ke mesjid, musala ke musala, gapai silaturahim dengan sesama umat nabi muhammad, ramai-ramai berselawat kepada nabi, semoga Allah kumpulkan kita bersama nabi Muhammad dalam surga yang tertinggi”, ucapnya.
DERAS.CO.ID Anda Berhak Tahu!