Friday , April 17 2026
Beranda / Khazanah / “Tarhib Ramadhan”
shafiyyatul.com

“Tarhib Ramadhan”

Ramadhan bulan berkah, bulan ibadah, bulan maghfiroh, bulan pelipatgandaan pahala, bulan tarbiyah dan bulan untuk berbenah diri. Benarkah? Ramadhan menjadi tidak bermakna bila kita terlalu banyak makan pada malam hari, bersenda gurau, banyak bermain game, petasan, ataupun terlalu banyak tidur di siang hari. Hal ini bisa menyebabkan fenomena “Gagal Ramadhan”.

“Gagal Ramadhan” terjadi karena kita tidak memiliki visi dan misi yang benar seperti yang telah disunnahkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Mari kita bahas visi dan misi ini dalam kajian yang singkat dan mudah dicerna.

Visi Ramadhan adalah “persedikit makan/minum dan perbanyak ibadah”. Hanya dengan sedikit makan/minum dan banyak ibadah seluruh keutamaan Ramadhan akan tercapai dan kita berhak atas maghfirah dari Allah SWT. Setuju?

Misi Ramadhan ada 10 poin. Pengen tahu? Ini dia penjelasannya:

  1. Misi pertama: Ta’khirussahur (mengakhirkan sahur)

Sahur? Bukan makan malam or sarapan, sahur adalah terjaga di 1/3 akhir malam. Sabda Rasulullah SAW: “Bangunlah pada waktu sahur, karena waktu sahur itu penuh berkah”. Pastikan setiap hari pada Ramadhan kita terjaga di waktu sahur untuk meraih berkah dan tidak hanya sekedar makan/minum.

  1. Misi kedua: Menyegerakan Berbuka

Rasulullah SAW bersabda: “Ummatku senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa”. Sunnah menyegerakan berbuka sepertinya pasti dilaksanakan semua orang, tapi sudah tahukan cara berbuka Rasulullah? Ini dia sunnah dari Beliau. Rasulullah SAW selalu berbuka dengan kurma tiga butir, dilanjutkan minum air, kemudian shalat maghrib. Setelah maghrib, Rasulullah SAW menanti shalat isya. Rasul berbuka tidak seperti kita berbuka; kurma, kolak, bakwan, dan teh manis (mungkin ada lagi yang lain ya). Setelah maghrib kita menyantap nasi dengan berbagai lauk pauknya. Seringkali kita jadikan antara maghrib dan isya sebagai ajang makan/minum semata. Sesuai penjelasan diatas, tentunya ini bertolak belakang dengan apa yang sudah disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Cara berbuka Rasul menyunnahkan kita untuk “memelihara” suasana lapar siang hari karena puasa pada malam hari. Islam agama yang tidak merusak apalagi membinasakan human being, Islam agama mudah dan memudahkan. Sunnah berlapar-lapar pada malam hari dibarengi kehalalan makan minum (seperlunya) agar kita tetap sehat dan kuat ibadah. Ingat kembali visi ramadhan: persedikit makan dan perbanyak ibadah. Setuju?

  1. Misi ketiga: Qiyamullail

Qiyamullail adalah rangkaian salat sunnah dua rakaat demi dua rakaat antara isya-subuh dengan sekali witir. Qiyamullail yang benar bukan dilihat dari jumlah rakaat 8 atau 20, tapi seberapa lama qiyam, ruku dan sujud ditambah kekhusyu’annya. Seluruh hadits tentang qiyamullail hanya mnjelaskan bahwa qiyamullail yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW itu berlama-lama saat qiyam, rukuk, sujud serta betapa khusyu’nya Beliau saat melaksanakannya. Jumlah rakaat bukanlah masalah penting, yang penting adalah sifat qiyamullail Rasulullah bisa kita laksanakan dengan lama dan khusyu. Berlebih-lebihan saat berbuka puasa juga sangat mengganggu kekhusyu’an dan kesanggupan kita untuk dapat berlama-lama melaksanakan Qiyamullail bermesraan dengan Allah.

Pilihan qiyamullail ini juga sangat banyak, silakan maksimalkan qiyamullail ini di rentang 9 jam antara waktu sholat isya ke subuh di setiap malamnya. Qiyamullail bisa dilaksanakan di awal, tengah atau akhir malam, boleh berjamaah, jangan lupa untuk melaksanakan witir sebelum tidur atau menjelang subuh. Pastikan setiap malam Ramadhan kita berQiyamullail, karena qiyamullail dapat dikatakan sebagai kembaran puasa. Puasa di siang hari dan qiyamullail di malam harinya.

  1. Misi keempat: Tilawatil Quran

Ramadhan bulannya Quran! Rasulullah SAW bersama Jibril selalu mengkhatam Quran berkali-kali setiap Ramadhan. Yang penting baca! Lantas bagaimana kalau belum lancar membaca Quran? Jawabnya adalah SEGERA belajar sekarang juga! Bagi yang sudah lancar, maka perbanyaklah bacaannya minimal 1juz/hari. Jangan pernah anda tergoda dengan: “Ah, yang penting faham, bukan baca Quran!” Perlu kita ketahui, bahwa membaca Quran adalah tuntutan dan faham adalah tuntutan yang lain. Jadikanlah hari-hari dan malam-malam Ramadhan sebagai hari dan malam yang disenandungkan Quran dengan ikhlas plus benar dan baik bacaannya. Sekali lagi, membaca Quran adalah ibadah dan memahaminya pun juga adalah ibadah. Mengamalkan keduanya adalah ibadah yang lebih baik lagi tentunya.

  1. Misi kelima: Dzikir dan Do’a

Dzikir adalah simbol dekatnya hamba kepada sang Kholiq. Do’a merupakan simbol “connecting” antara keduanya. Kedekatan harus mewujudkan sikap hamba yang selalu harap dan takut kepada Allah dan sifat Allah yang Rahman terhadap hamba-Nya, itulah hakekat dzikir. Keterhubungan adalah ketika hamba yang faqir selalu memohon kepada Allah yang Maha Kaya melalui do’a yang tulus nan ikhlas. Waktu do’a terbaik pada saat Ramadhan adalah saat jelang berbuka, tapi bagi sebagian orang, saat tersebut justru sibuk dengan hidangan berbuka. Berdo’alah untuk diri, pasangan, keluarga, masyarakat dan bangsa Indonesia di setiap jelang buka sepanjang bulan Ramadhan. Kerja keras, cerdas dan ikhlas yang diawali perencanaan matang serta diikuti evaluasi akurat menjadi sempurna dengan do’a yang diijabah Allah SWT.

  1. Misi Keenam: Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Waqaf

Misi keenam ini merupakan simbol berbagi dengan sesama. Sejatinya Ramadhan adalah bulan peduli dan berbagi kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Ingat, bukan hanya membutuhkan dari segi materi atau finansial, tetapi juga informasi. Ramadhan tidak boleh menurunkan produktifitas kita! Justru dengan keajaibannya, Ramadhan yang bervisi misi dapat mendongkraknya dan membuat siapapun hidup dengan efektivitas yang tinggi. Sepanjang Ramadhan, aktivitas sekunder dan tersier pasti jarang dan sulit dilakukan karena fokus pada amaliyah ramadhan. Kita jadi hemat terhadap hal-hal sekunder dan tersier, sengaja makan sedikit, fokus ibadah menjadikan rekening masih penuh, dompet pun dipastikan masih tebal. Maka shadaqah yang merupakan wujud kepedulian dan kedermawanan lain menjadi mudah dibuktikan orang yang bervisi-misi Ramadhan yang benar sesuai Sunnah Rasul.

  1. Misi Ketujuh: Perbanyak Amal Sholih dan Ibadah Sunnah Lainnya

Yang dimaksud dengan ‘lainnya’ adalah ibadah selain pada misi 1 s.d 6. Tholabul ilmi dengan membaca buku-buku, menyimak acara tv, radio, internet dan media sosial yang berkonten islami, serta hadir di majelis ilmu (pengajian-pengajian). Memastikan kehadiran diri pada salat berjama’ah, berbakti kepada orangtua, menjadi panitia ramadhan dan melakukan amal sholih lainnya secara optimal dan tentunya IKHLAS.

  1. Misi Kedelapan: Meninggalkan Hal-hal Yang Tidak Bermanfaat

Ramadhan saatnya kita serius, giat, sungguh-sungguh, unjuk prestasi, dan bukan santai! Namun sayangnya, permainan seperti monopoli, ular tangga, gaplek, congklak, Play Station, petasan dan ngabuburit jauh lebih dominan dibanding amaliyyah Ramadhan. Konten acara TV yang tidak berakhlaq penuh dengan lawak yang mengeksploitasi fisik bukan dialog cerdas malah menambah daftar ketidakbermanfaatan. Kerja produktif, unjuk prestasi, ulet, gigih, smart, sungguh-sungguh dan memberi faidah kepada yang lain adalah keharusan di sepanjang Ramadhan.

  1. Misi Kesembilan: I’tikaf

Definisi singkat I’tikaf adalah hadir di masjid dengan niat taqorrub dan ibadah kepada Allah SWT. I’tikaf harus di masjid jami’ yang buat jum’atan. Semakin besar, maka semakin afdhol. Itulah kenapa Masjidil Haram di Mekah merupakan tempat paling afdhol untuk melaksanakan i’tikaf. I’tikaf sangat terbatas pada ruang dan tidak terbatas pada waktu. Hal ini dikarenakan sunnah i’tikaf adalah sepanjang tahun, terutamanya di bulan Ramadhan. Sunnah i’tikaf pada Ramadhan adalah di tiap harinya, tapi yang paling afdhol adalah di 10 hari terakhir siang dan malamnya pula. Perempuan yang i’tikaf harus memperhatikan hal-hal misalnya mencari masjid yang ada fasilitas i’tikaf untuk muslimah serta tidak meninggalkan kewajiban utama. Di tengah kesibukan beraktivitas, sempatkan untuk hadir di masjid meskipun sering keluar masuk yang penting tetap menjaga niat. Dengan i’tikaf, jadikanlah masjid sebagai tempat favorit untuk dikunjungi dan berbuatlah yang sesuai dengan kesucian masjid bila sedang berada di dalamnya.

  1. Misi Kesepuluh: Mencari Lailatul Qodar

Bila kita pada malam Lailatul Qodar tetap terjaga dan beribadah, maka pahala kita akan setara dengan ibadah siang dan malam selama 1000 bulan. Luar biasa bukan? Itulah kenapa Ramadhan begitu spesial. Pertanyaannya, kapankah Lailatul Qodar itu? Lailatul Qodar diperkirakan di malam ganjil di 10 hari terakhir ramadhan (berarti kemungkinannya di malam 21, 23, 25, 27 dan 29). Ada pula riwayat bahwa Lailatul Qodar itu malam-malam ganjil pada 5 hari terakhir ramadhan, maka kemungkinannya di malam 25, 27 dan 29. Bahkan beberapa sahabat, seperti Ubay bin Ka’ab, berkeyakinan bahwa Lailatul Qodar itu jatuh pada malam 27 di setiap Ramadhan. Urgensi dari Lailatul Qodar itu adalah lebih kepada dimensi waktu yaitu ‘lailat’/’malam’. Berbeda dengan i’tikaf yang lebih pada dimensi ruang (masjid). Berarti siapapun dan dimanapun ia berada, bisa mencari Lailatul Qodar pada waktu yang diperkirakan yaitu di malam-malam ganjil di 10 malam terakhir bulan Ramadhan.

Setelah baca artikel ini, mudah-mudahan kita semua udah satu visi misi menjalankan ibadah kita di bulan Ramadhan ini. Jika anda suka baca artikel ini, kami persilakan untuk share dengan semua media sosial anda supaya semakin banyak yang membaca, semakin banyak pula yang membaikkan ibadahnya.

(sumber: www.baguskali.com)

Baca Juga

deras.co.id

Halalbihalal Akbar Melayu, Wagub Surya Ajak Perkuat Persaudaraan dalam Bingkai Keberagaman

DERAS.CO.ID – MEDAN – Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Utara (Sumut) Surya mengajak masyarakat Melayu Indonesia …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *