Thursday , July 30 2026
Beranda / Kuliner / Cerita Unik di Balik Berbagai Kuliner Nusantara
deras.co.id

Cerita Unik di Balik Berbagai Kuliner Nusantara

Potensi pariwisata berbasis kuliner saat ini semakin bertumbuh pesat di berbagai kota besar Indonesia. Belakangan mulai dikembangkan wisata ‘sejarah kuliner Nusantara’. Wisata jenis ini biasanya berbentuk city tour dengan bus atau kendaraan darat lain, lengkap dengan satu atau lebih pemandu. Peserta diajak mengunjungi tempat-tempat kuliner menarik atau bersejarah di suatu kota.

Selain mengunjungi tempat kuliner unik, tur ini juga dilengkapi dengan agenda informasi mengenai sejarah atau cerita unik di balik sajian-sajian khas di suatu daerah. Secara sejarah, pakar kuliner Rudy Choirudin menjelaskan kekayaan sejarah masakan Indonesia tergantung dari kondisi agraria, lingkup hidup, dan atmosfer yang berbeda-beda di setiap daerah. Walaupun berdekatan, tetapi masing-masing punya cita rasa yang berbeda.

Pada dasarnya, secara historis masakan Indonesia tercipta berdasarkan bumbu-bumbu dan bahan-bahan apa yang terdapat di alam sekitar daerah itu, serta siapa bangsa pendatang yang berpengaruh di daerah tersebut. Misalnya, bahan masakan Aceh berbeda dengan Padang dan Medan meskipun mereka satu rumpun. Masakan Aceh lebih terpengaruh khasanah kuliner Arab dan India, Medan terpengaruh India dan China, dan Padang lebih murni Melayu.

Sejarah zaman kolonial juga memengaruhi kuliner Nusantara. Misalnya saja makanan ikan kayu dari Aceh. Ikan kayu tercipta karena pada zaman penjajahan, rakyat harus menyimpan cadangan protein yang cukup bagi para pasukan. Jadi, era kolonial berperan penting juga dalam proses pengayaan kuliner Nusantara. Zaman penjajahan yang sulit menyokong masyarakat untuk menjadi kreatif dengan bahan makanan yang ada. Misalnya membuat dendeng, buah kering, bubur, atau lainnya,” katanya.

Lantas, seperti apa cerita unik dari beberapa sajian khas Nusantara?

Ayam Tangkap (Aceh, NAD)

Cerita Unik di Balik Berbagai Kuliner Nusantara

Masyarakat Aceh percaya bahwa masakan ini dinamai ayam tangkap karena penemu dari kuliner ini harus menangkap ayam terlebih dahulu sebelum diolah. Masakan ini hanya menggunakan jenis ayam kampung.

 Berbagai pemilik restoran di Aceh menjelaskan pada era modern masakan ini dinamai ayam tangkap karena penyajiannya tersembunyi di bawah tumisan daun salam koja. Sehingga, untuk mendapatkan daging ayam di piring, penikmat harus ‘mencari dan menangkapnya’ di balik dedaunan.

Ikan Kayu (Aceh, NAD)

Cerita Unik di Balik Berbagai Kuliner Nusantara

Menurut pakar kuliner Nusantara Rudy Choirudin, asal muasal ikan kayu terjadi karena kesulitan kondisi masyarakat saat zaman kolonial. Karena kondisi perang, rakyat harus menyimpan cadangan protein yang cukup bagi para pasukan.

Dikarenakan sumber protein hewani terbanyak di Indonesia adalah ikan, mereka berusaha bagaimana caranya agar ikan bisa diawetkan sebagai bekal di hutan atau goa saat perang. Caranya adalah dengan dikeringkan tanpa garam hingga kadar air berkurang 75%-80%.

Bika Ambon (Medan, Sumatra Utara)

Cerita Unik di Balik Berbagai Kuliner Nusantara

Kue bika terinspirasi dari ‘bingka’, yang merupakan kudapan khas Melayu. Namun, Paramita R. Abdurrahman dalam bukunya Bunga Angin Portugis di Nusantaramenyebutkan bika sebenarnya terinspirasi dari tradisi kuliner Portugal.

Konon, orang Portugal memperkenalkan bika kepada orang Maluku. Dari sana, orang Maluku (Ambon) menyebarkan bika ke Sumatra Utara, tapi tidak ada literasi pasti tentang bagaimana orang Maluku ‘menularkan’ kue bika ke Medan.

Cerita lain mengatakan kue tersebut dinamai bika ambon karena pertama kali dijual di persimpangan Jalan Ambon Sei Kera, Medan. Hingga kini, penamaan bika ambon pada kue khas Medan itu berkembang menjadi berbagai variasi cerita unik.

Rendang (Padang, Sumatra Barat)

Cerita Unik di Balik Berbagai Kuliner Nusantara

Ada yang bilang rendang ditemukan pada abad XVI dan ada juga yang mengatakan pada awal abad XIX. Cerita sejarah rendang dapat ditemukan pada buku harian Kolonel Stuers (1827).

Stuers menggambarkan rendang sebagai masakan yang ‘dihitamkan’. Teknik menghanguskan adalah cara pengawetan makanan yang biasa digunakan orang Minang. Rendang sendiri berasal dari kata ‘merandang’ alias memasak menggunakan santan hingga kering.

Asal usul rendang dipengaruhi oleh kehadiran orang India di Tanah Minang pada abad XIV. Berbagai literatur menyebut, orang Indialah yang memperkenalkan masakan rendang, bersamaan dengan kontak perdagangan di Sumatra Barat.

Bahan baku rendang memiliki makna filosofis. Daging sapi melambangkan kemakmuran, kelapa melambangkan intelektual, dan sambal (lado) melambangkan ketegasan dalam mengajarkan agama.

Pempek (Palembang, Sumatra Selatan)

Cerita Unik di Balik Berbagai Kuliner Nusantara

Budayawan Yudhy Syarofie mengungkapkan pempek bermula dari akulturasi budaya China dan Palembang. Orang China membawa bakso yang terbuat dari bahan daging babi. Agar bisa dikonsumsi warga lokal yang mayoritas Islam, babi pun diganti dengan ikan dan sagu.

Pada awalnya bakso ikan dan sagu itu dinamai ‘kelesan’, dan mulai dipopulerkan pedagang Tionghoa di Palembang pada 1920-an. Pada waktu itu, orang China di Palembang dipanggil ‘Apek’, sehingga para pembeli kelesan biasa memanggil pedagangnya ‘Pek, Pek, Pek!’

Kerak Telor (DKI Jakarta)

Cerita Unik di Balik Berbagai Kuliner Nusantara

Dikisahkan kerak telor adalah masakan yang sudah ada sejak era kolonial Belanda. Pada zaman itu, Jakarta banyak ditumbuhi pohon kelapa, sehingga kota tersebut dijuluki sebagai Sunda Kelapa.

Banyaknya pohon kelapa dimanfaatkan warga untuk membuat berbagai makanan khas, salah satunya kerak telor. Konon, saat itu ada beberapa warga Betawi Menteng yang iseng mencampurkan ketan, kelapa parut, dan bumbu lainnya ke dalam telor di wajan.

Ternyata, keisengan tersebut menghasilkan makanan yang disukai warga sekitar. Pada 1970-an, kerak telor semakin populer karena banyak yang mencoba menjajakannya di sekitar Monas.

Ketoprak (Jawa Tengah)

Cerita Unik di Balik Berbagai Kuliner Nusantara

Makanan ini biasa dijual dengan gerobak dengan posisi wajan di bagian depan, dengan urutan peletakan posisi bahan yang selalu seragam, yaitu; tauge, kerupuk, dan tahu. Meskipun populer di DKI Jakarta dan sekitarnya, kabarnya makananini berasal dari Jawa Tengah.

Konon, ada seorang pemuda dari Jateng yang ingin meniru gado-gado Betawi, tetapi hasil masakannya justru memiliki tekstur dan bahan yang berbeda. Rasanya enak, tetapi pemuda tersebut bingung hendak memberi nama apa terhadap masakannya.

Karena kebingungan, tiba-tiba saja piring makanan tersebut terjatuh dan mengeluarkan suara seperti ‘Ketuprak!’ yang lantas menjadi inspirasi penamaan makanan yang berbumbu saos kacang itu.

Gudeg (DI Yogyakarta)

Cerita Unik di Balik Berbagai Kuliner Nusantara

Menurut Pusat Kajian Makanan Tradisional (PMKT) Universitas Gajah mada, gudeg diduga telah ada sejak tahun 1500-an bersamaan dengan didirikannya kerajaan Mataram Islam di hutan Mentaok, Kotagede.

Untuk membangun kerajaan itu, ada banyak pohon yang terpaksa ditebang. Beberapa dari pohon di hutan yang ditebang a.l. pohon nangka, melinjo, dan kelapa. Saking banyaknya pohon-pohon tersebut yang ditebang, buah-buahnya pun banyak yang berjatuhan.

Warga pun kelimpahan buah gori (nangka muda) dan melinjo, sehingga mereka terinspirasi untuk mengolahnya menjadi sebuah sajian untuk mencukupi logistik pangan para pekerja yang membangun kerajaan.

Gori yang diolah dalam jumlah sangat besar itu diaduk (hangudeg) dengan menggunakan dayung perahu. Proseshangudeg itulah yang menginspirasi lahirnya penamaan gudeg pada makanan khas Jogja ini.

Pada 1600-an, gudeg yang berasal dari rakyat jelata mulai banyak disajikan kepada tamu-tamu kerajaan. Hal itu salah satunya tercatat dalam literatur Jawa, Serat Centhini. Karena proses memasaknya yang lama, gudeg belum terlalu dikomersialkan hingga 1940-an.

Lontong Balap (Surabaya, Jawa Timur)

Cerita Unik di Balik Berbagai Kuliner Nusantara

Konon, pada zaman dahulu para penjual makanan ini membawa dagangannya di dalam semacam kuali atau gentong berukuran besar yang dipikul. Saking beratnya beban yang dipikul, mereka terpaksa harus berjalan cepat-cepat agar tidak terasa sakit di pundak.

Di antara para pedagang yang berjalan cepat-cepat ini lantas timbul semacam persaingan untuk saling berpacu atau adu cepat sambil memikul gentongnya. Mereka balapan. Dari sanalah kemudian makanan itu dikenal sebagai lontong balap.

Choi Pan (Pontianak, Kalimantan Barat dan Bangka Belitung)

Cerita Unik di Balik Berbagai Kuliner Nusantara

Dari namanya saja, kudapan khas asli Pontianak, Bangka Belitung, dan Singkawang ini dapat diduga terinspirasi dari khasanah kuliner Tiongkok. Makanan ringan bercitarasa asin ini juga dikenal dengan nama chai kwe.

Makanan ini diperkenalkan oleh penjual keliling keturunan Tionghoa dari suku Teochew (Tio Ciu) yang banyak mendiami Kalbar. Mereka adalah perantauan China Daratan yang memperkenalkan hidangan kukus bernama ziao tje, yang lantas diadaptasi menjadi choi pan.

Choipan berarti kue sayur. Choi artinya sayuran, dan pan artinya kue. Choipan di Pontianak biasanya berbentuk panjang, berisi bengkoang dan ebi, serta ditaburi bawang putih goreng, sedangkan di Bangka Belitung berbentuk segitiga, berisi pepaya muda, dan tanpa bawang putih.

Sumber : traveling.bisnis.com

Baca Juga

deras.co.id

PRSU ke-50 Siap Gebrak, Usung Semangat Baru Promosi Investasi dan UMKM Sumut

DERAS.CO.ID – MEDAN – Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 siap digelar dengan semangat baru …