Kesulitan adalah ujian bagi orang yang beriman, peringatan bagi orang yang lalai dan azab bagi orang yang durhaka. Hidup bagaikan roda, kadang di atas, kadang di bawah, kadang gampang dan kadang sulit. Namun seorang muslim harus tangguh. Ketangguhan yang hakiki bagi seorang Muslim dapat dilihat dari seberapa kuat keimanannya. Boleh jadi tubuh kita lemah, rapuh, bahkan lumpuh, tapi kalau ia memiliki ketangguhan iman, maka kelemahan fisik akan tertutupi.
Orang yang memiliki kekuatan iman, salah satu ciri khasnya adalah tangguh menghadapi cobaan hidup. Dalam praktiknya, Ia memiliki lima rumus. Pertama, Ia yakin bahwa kesulitan adalah episode yang harus dijalani. Ia akan menghadapinya sepenuh hati, tidak ada kamus mundur atau menghindar. Kedua, Ia yakin bahwa setiap kesulitan sudah diukur oleh Allah, sehingga takarannya pasti sesuai dengan kapasitas manusia. Ketiga, Ia yakin bahwa ada banyak hikmah di balik kesulitan. Keempat, ia yakin bahwa setiap ujian pasti ada ujungnya. Dan Kelima, ia yakin bahwa setiap kesulitan yang disikapi dengan cara terbaik akan mengangkat derajatnya di hadapan Allah.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran, Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji akan membahagiakan orang-orang yang sabar dan tangguh dalam mengarungi kesulitan hidup. “Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali” (QS. Al-Baqarah: 155-156).
Agar mendapatkan ketenangan hidup, ikutilah langkah-langkah berikut ini:
1. Kita harus siap menghadapi segala kejadian, baik yang sesuai keinginan maupun tidak
Memang kita harus gigih berikhtiar mencapai apapun yang terbaik bagi dunia akhirat, semaksimal kemampuan yang Allah berikan kepada kita. Namun bersamaan dengan itu, kitapun harus sadar bahwa kita hanyalah makhluk yang punya banyak keterbatasan untuk mengetahui segala hal yang tidak terjangkau oleh daya kemampuan kita.
Oleh karena itu bulatkan tekad, sempurnakan ikhtiar namun hati harus tetap menyerahkan segala keputusan dan kejadian terbaik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapkan mental kita untuk menerima apapun yang terbaik menurut ilmu Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala, berfirman dalam Al-Qu ran surat Al-Baqarah ayat 216:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ..
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
2. Kita harus rela menghadapi kenyataan (ridho bilmaqdur)
Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengolah hati kita agar ridha/rela akan kenyataan yang ada. Mengapa demikian? Karena walaupun dongkol, uring-uringan dan kecewa berat, tetap saja kenyataan itu sudah terjadi. Pendek kata, ridha atau tidak, kejadian itu tetap sudah terjadi. Maka, lebih baik hati kita ridha saja menerimanya.
Orang yang stress adalah orang yang tidak memiliki kesiapan mental untuk menerima kenyataan yang ada. Selalu saja pikirannya tidak realistis, tidak sesuai kenyataan, sibuk menyesali dan berandai-andai sesuatu yang sudah tidak ada atau tidak mungkin terjadi. Sungguh suatu kesengsaraan yang dibuat sendiri.
3. Jangan mempersulit diri (Laa tu’assiruu)
Andaikata kita mau jujur, sesungguhnya kita ini paling hobi mengarang, mendramatisasi, dan mempersulit diri. Sebagian besar penderitaan kita adalah hasil dramatisasi perasaan dan pikiran sendiri. Selain tidak pada tempatnya, pasti ia juga membuat masalah akan menjadi lebih besar, lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih pilu daripada kenyataan yang aslinya. Pada akhirnya, kita akan merasa jauh lebih nelangsa.
Maka, di dalam menghadapi persoalan apa pun, jangan hanyut dalam pikiran yang salah. Kita harus tenang, menguasai diri seraya merenungkan janji dan jaminan pentolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukankah kita sudah sering melalui masa-masa yang sangat sulit dan ternyata pada akhirnya bisa lolos?
Yakinlah bahwa Allah yang Maha Tahu segalanya, pasti telah mengukur ujian yang menimpa kita sesuai dengan dosis yang tepat dengan keadaan dan kemampuan kita.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا • إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan, dan sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan” (QS AI-Insyirah: 5-6).
4. Evaluasi diri (muhasabah)
Ketahuilah, hidup ini bagaikan gaung di pegunungan. Apa yang kita bunyikan, suara itu pulalah yang akan kembali kepada kita. Artinya, segala yang trjadi pada kita adalah buah dan apa yang kita lakukan.
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ • وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
5. Hanya Allah-lah satu satunya Penolong
Sesungguhnya tidak akan terjadi sesuatu kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baik berupa musibah maupun nikmat. Walaupun bergabung jin dan manusia seluruhnya untuk mencelakakan kita, demi Allah tidak akan jatuh satu helai rambut pun tanpa izinNya. Begitu pun sebaliknya, walaupun bergabung jin dan manusia menjanjikan akan menolong atau memberi sesuatu, tidak pernah akan datang satu sen pun tanpa izinNya.
Allah menjanjikan dalam Surah Al-Thalaq ayat 2 dan 3,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا • وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Barang siapa yang bersungguh-sungguh mendekati Allah (bertaqwa), niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar bagi setiap urusannya, dan akan diberi rezeki dan tempat yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal hanya kepada Allah, niscaya akan dicukupi segala kebutuhannya.”
Jadi untuk Anda yang mengalami kesulitan dan kesempitan hidup, janganlah berputus asa dan teruslah berusaha dan berdoa, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi jalan yang terbaik.
Sumber : pijar.net
DERAS.CO.ID Anda Berhak Tahu!