
KOMPAS.com – Sejak 1982, hanya Tiongkok dan Korea Selatan yang berhasil menjuarai nomor ganda putri All England. Uniknya, sebelum tahun tersebut, mereka belum sekali pun juara di salah satu turnamen paling prestisius di dunia tersebut.
Dari 33 penyelenggaraan tersebut, Tiongkok menang dua kali lipat lebih banyak dari Korea, yaitu 22 kali. Gelar pertama Tiongkok dipersembahkan oleh Lin Ying/Wu Dixi.
Sejak 2000, Tiongkok juga selalu juara, kecuali pada 2008 ketika pasangan Lee Hyo-jung/Lee Kyung-won mempersembahkan gelar terakhir untuk Korea.
Catatan kedua negara tersebut jelas jauh di atas perolehan Indonesia yang hanya punya koleksi dua gelar. Minarni Sudaryanto/Retno Koestijah adalah pasangan pertama yang menyumbang gelar pada 1968. Gelar kedua dipersembahkan pasangan Verawaty/Imelda Wiguna pada 1979.
Dari barisan ganda putri Tiongkok yang menjuarai All England, pasangan Gao Ling/Huang Shui adalah yang paling sukses. Mereka enam kali juara dan didapat secara beruntun pada 2001-2006.
Tahun ini, Tiongkok dan Korea Selatan kembali mengancam. Tiongkok langsung menempatkan lima pasangan di babak utama, sementara Korea punya empat wakil.
Ada beberapa pasangan yang punya potensi menghentikan dominasi Tiongkok dan Korea. Mereka adalah Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang), Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl (Denmark), Reika Kakiiwa/Miyuki Maeda, dan Nitya Krishina Maheswari/Greysia Polii (Indonesia).
Sayangnya, keempat ganda tersebut belum pernah ada yang mampu menembus final All England. Kakiiwa pernah sampai ke final 2011 ketika masih berpasangan dengan Mizuki Fujii. Mereka kalah dari Wang Xioali/Yu Yang.
Wang/Yu merupakan salah satu kekuatan terbesar ganda putri Tiongkok. Selain pada 2011, mereka juga menjuarai All England 2013 dan 2014.
Sumber : http://olahraga.kompas.com/read/2015/03/02/13053661/Ganda.Putri.Hanya.Kisah.antara.Tiongkok.dan.Korea.Selatan
DERAS.CO.ID Anda Berhak Tahu!