Melalui laman resminya di http://www.sariroti.com/post/berita-pers/pengumuman-1/ Sari Rorti menutup pengumumannya dengan sebuah pernyataan tegas.
“Informasi ini kami sampaikan agar tidak terjadi kesalahpahaman diberbagai pihak. PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. berkomitmen untuk selalu menjaga Nasionalisme, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika, serta tidak terlibat dalam semua aktivitas kegiatan politik.”
Banyak pihak bereaksi terkait pengumuman ini. Berita ini menjadi viral di media sosial. Bahkan para insan bisnis menyampaikan pernyataan dan harapan kepada Sari Roti. Sebagai akibatnya, Sari Roti memanen hasilnya.
Kurang dari 24 jam sejak klarifikasi tersebut diketahui publik, lalu menjadi viral, muncul dua hukuman menyakitkan yang diterima Sari Roti, yakni ancaman “boikot” dan “saham yang tejun bebas”.
Sejumlah netizen lalu berteriak kencang. Para pelanggan Sri Roti dari kalangan kaum Muslimin, khususnya lagi yang mengikuti Aksi Damai 212 banyak yang memutuskan untuk berhenti berlangganan dan akan mencari roti lain.
“Walhasil, pada penutupan perdagangan saham sore harinya, saham Sari Roti terjun bebas 10 poin.” rilis majalah bisnis Mix, Selasa (6/12). Turunnya saham dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah pergi atau beralihnya konsumen. Dalam lansiran data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini, Rabu (7/12), hingga pukul 11.01 waktu JATS, saham ROTI mulai anjlok 20 poin (1,32%) ke Rp 1.500.
Dalam kasus ini, kaum Muslimin Indonesia sebagai warga mayoritas tak bisa dianggap sebelah mata. Adanya pembagian Sari Roti secara gratis dalam aksi 212 merupakankaum Muslimin memiliki daya beli. Ada di antara mereka yang kaya raya dan loyal dalam berbelanja.
Sumber : nasional.in
DERAS.CO.ID Anda Berhak Tahu!