Thursday , April 16 2026
Beranda / Featured / Penyebab Fenomena Konjugasi yang Bisa Menyebabkan Gerhana
deras.co.id

Penyebab Fenomena Konjugasi yang Bisa Menyebabkan Gerhana

CNN Indonesia — Fenomena konjungsi kerap terjadi dan peristiwa ini bisa menjadi pertanda terjadinya gerhana. Lantas apakah yang dimaksud dengan konjungsi?

Menurut laman Planetarium, dalam astronomi konjungsi merupakan kesearahan lokasi benda langit apabila diamati dari Bumi. Malam ini, pengamat fenomena langit bisa mengamati konjungsi Bulan dan Jupiter serta konjungsi Bulan dan Saturnus.

Selain itu, peristiwa konjungsi lain yang bisa dilihat pengamat pada Juni 2020 adalah konjungsi Bulan dan Neptunus pada 12 Juni mendatang dan Bulan-Mars pada 13 Juni.

Konjungsi nampak ketika benda langit berupa planet, bintang, atau satelit, tampak sejajar dari Bumi pada satu waktu tertentu.

Benda langit ini bergerak dengan kecepatan yang berbeda. Sehingga, ada kalanya satu benda lain ada dalam posisi berdekatan atau sejajar dengan benda langit lain.

“Lebih unik apabila Bulan dalam gerak gesernya menutup planet. Nama fenomenanya kadang disebut konjungsi Bulan dan planet, ada yang membayangkan sebagai gerhana planet, karena planetnya menghilang di balik Bulan,”

“Yang istimewa tatkala Matahari dan Bulan bersatu di kubah langit, yang peristiwanya disebut Gerhana Matahari,” lanjutnya.

Khusus untuk planet Merkurius dan Venus, kedua planet ini punya istilah konjungsi khusus. Jika posisinya ada di depan Matahari ketika dilihat dari Bumi, maka itu disebut konjungsi dalam (inferior conjuction) atau transit.

Lantaran jarak kedua planet ini jauh dari Bumi, maka posisi transit mereka tak sampai menimbulkan gerhana. Lain cerita jika yang melintas didepan Matahari jika dilihat dari Bumi adalah Bulan. Jarak Bulan yang lebih dekat dengan Bumi membuat Matahari bisa tertutup sepenuhnya dan terjadilah Gerhana Matahari.

Benda langit ini bergerak dengan kecepatan yang berbeda. Sehingga, ada kalanya satu benda lain ada dalam posisi berdekatan atau sejajar dengan benda langit lain.

“Lebih unik apabila Bulan dalam gerak gesernya menutup planet. Nama fenomenanya kadang disebut konjungsi Bulan dan planet, ada yang membayangkan sebagai gerhana planet, karena planetnya menghilang di balik Bulan,”

“Yang istimewa tatkala Matahari dan Bulan bersatu di kubah langit, yang peristiwanya disebut Gerhana Matahari,” lanjutnya.

Khusus untuk planet Merkurius dan Venus, kedua planet ini punya istilah konjungsi khusus. Jika posisinya ada di depan Matahari ketika dilihat dari Bumi, maka itu disebut konjungsi dalam (inferior conjuction) atau transit.

Lantaran jarak kedua planet ini jauh dari Bumi, maka posisi transit mereka tak sampai menimbulkan gerhana. Lain cerita jika yang melintas didepan Matahari jika dilihat dari Bumi adalah Bulan. Jarak Bulan yang lebih dekat dengan Bumi membuat Matahari bisa tertutup sepenuhnya dan terjadilah Gerhana Matahari.

Sementara ketika posisi kedua planet ini ada di belakang Matahari ketika dilihat dari Bumi maka disebut konjungsi luar (superior conjunction).

Sementara untuk planet luar, seperti Mars, Jupiter, Saturnus mengalami konjungsi (searah Matahari) dan fenomena oposisi (berlawanan arah dengan Matahari.

Berkaitan dengan peristiwa yang dialami planet dalam, maka mereka akan tampak semakin purnama sesaat (relatif) menjelang dan sesaat setelah konjungsi luar.

“Apabila kita lihat Venus sedemikian cemerlang sebagai Bintang Timur atau Bintang Barat, justru kala itu fasenya sabit tipis. Terbalik dengan Bulan, cemerlang tatkala purnama, redup ketika sabit tipis,” jelas Sawitar.

Sebaliknya, wajah mereka bakal makin cemerlang ketika ada dalam posisi sabit. Hal ini terjadi menjelang dan setelah konjungsi dalam. Sebab, posisi kedua planet itu semakin besar karena semakin mendekati Bumi.

Baca Juga

deras.co.id

HUT ke-78 Sumut, Bobby Nasution Sebut Kolaborasi Kunci Wujudkan Daerah Unggul Menuju Indonesia Emas 2045

DERAS.CO.ID – MEDAN – Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Muhammad Bobby Afif Nasution, menegaskan pentingnya kolaborasi …