Jakarta, Massa dari aliansi mahasiswa melakukan demonstrasi menolak kenaikan harga BBM di Patung Kuda, Jakarta Pusat. Mereka menyindir Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari pemerintah cuma solusi sementara mengatasi kenaikan harga BBM.
Koordinator aksi sekaligus Ketua BEM UI Bayu Satria Utomo mengatakan, pihaknya menolak kenaikan harga BBM. Selain itu, mereka menuntut pemerintah memanfaatkan APBN untuk meredam dampak krisis global.
“Menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM karena berdampak secara signifikan terhadap berbagi sektor kehidupan.
Kedua, menuntut pemerintahan mengandalkan APBN untuk meredam dampak krisis energi global yang berdampak bagi masyarakat,” kata Bayu di lokasi, Selasa (13/9).
Mereka juga menuntut pemerintah menyelesaikan masalah penyaluran BBM bersubsidi yang kerap membuat subsidi tidak tepat sasaran. Mereka juga menuntut pemerintah menjaga stabilitas harga komoditas daripada memberi BLT yang dinilai cuma untuk meredam protes.
“Itu bukan solusi yang struktural dan hanya solusi sesaat. Padahal kenaikan BBM ini tentu akan menjadi kenaikan yang lama sedangkan BLT yang disalurkan itu hanya meredam protes rakyat sesaat karena kenaikan BBM,” kata dia.
Dia juga menyoroti pemerintah terus melanjutkan proyek yang menyedot banyak APBN tapi mengurangi anggaran untuk subsidi BBM.
“Katanya kan subsidi BBM itu membebani APBN, padahal ada beban beban dari pemerintah lain yang lebih membebani APBN, seperti proyek IKN, dan proyek tersebut minim urgensi terhadap masyarakat umum,” ujarnya.
Bakar Pembatas Jalan
Massa mahasiswa yang berdemonstrasi juga membakar barrier atau pembatas jalan berwarna oranye. Polisi mengingatkan massa untuk tetap tertib.
Selain membakar pembatas jalan, massa juga terlihat menarik kawat duri yang terpasang di tengah jalan. Mereka juga melempar botol ke arah polisi.
Salah seorang polisi yang berada di lokasi meminta mahasiswa tidak melakukan tindakan anarkis. Polisi mengingatkan mahasiswa sebagai kaum intelektual.
Pihak kepolisian lantas membentuk barikade barisan. Mereka juga coba menenangkan massa.
Namun, massa justru berteriak ke arah polisi. “Buka, buka, pintunya, buka pintunya,” ujar massa.
Kemudian, koordinator aksi coba menenangkan massa mahasiswa. Dia meminta massa tidak anarkis.
“Jangan ribut, jangan anarkis,” kata pria di atas mobil komando.
Bertahan
Massa mahasiswa yang menggelar demonstrasi masih bertahan di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat hingga Selasa (13/9) malam. Jalan Medan Merdeka Barat masih ditutup.
“Saat ini 2.000 mahasiswa masih duduk di lapangan. Memang dampaknya adalah akses jalan menuju Jalan Merdeka, Harmoni, dan sekitarnya masih tertutup karena kami alihkan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan kepada wartawan, Selasa (13/9).
Dia mengatakan polisi terus mengimbau massa untuk membubarkan diri setelah lewat pukul 18.00 WIB.
“Langkah dari kepolisian dalam hal ini Polda Metro Jaya mengimbau untuk bisa meninggalkan tempat unjuk rasa di Patung Kuda dan sekitarnya karena sudah melewati ketentuan undang-undang untuk melakukan unjuk rasa di tempat umum,” terang Zulpan.
“Jamnya ini sudah lewat, tetapi kami melihat mereka masih melakukan salat magrib. Jadi secara manusiawi dan keagamaan kami memberikan kesempatan mereka untuk beribadah dulu,” tambahnya.
Zulpan mengatakan pihaknya telah menyiapkan bus untuk mengantar para mahasiswa kembali ke kampus masing-masing. Dia mengatakan polisi bakal mengawal demo tetap kondusif.
Ikut Demo
Sejumlah pelajar juga ikut demonstrasi menolak kenaikan harga BBM di kawasan Patung Kuda. Para pelajar menyatakan siap melakukan demo lanjutan bila harga BBM tidak diturunkan.
Massa yang mengatasnamakan Federasi Pelajar Indonesia itu mengatakan kenaikan harga BBM akan mempengaruhi harga pangan.
“Bila BBM ini terus naik, kita pelajar akan terus turun (demonstrasi). Kalau BBM naik, bukan hal yang mustahil bahwasanya pangan juga akan naik,” kata salah satu perwakilan dari Federasi Pelajar Indonesia, Alex, Selasa (13/9).
Alex mengatakan, ikut demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM ini karena para pelajar punya hak untuk menyampaikan pendapat. Ia tidak ingin para pelajar dipandang sebelah mata.
“Kami dari pelajar turun aksi mau buktikan bahwa pelajar punya hak untuk bersuara karena kami penerus bangsa. Kami di sini ingin bahwasanya STM jangan dipandang hina, STM jangan dipandang gerombolan, bahwa kami punya hak, bahwa kami akan berposisi sebagai buruh, sebagai mahasiswa,” lanjut Alex.
Pantauan di lokasi pukul 16.52 WIB, para pelajar itu bergabung dengan massa buruh. Mereka duduk di dekat mobil komando milik massa buruh.
Mereka terlihat masih mengenakan seragam sekolah. Mereka juga membawa poster penolakan kenaikan harga BBM.
Sebanyak 6.142 polisi dikerahkan untuk mengamankan aksi demonstrasi.
Sumber: hariansib.com
DERAS.CO.ID Anda Berhak Tahu!