
DEN HAAG, KOMPAS.com – Indonesia masih membutuhkan diplomasi untuk mendukung sumber-sumber daya manusia Indonesia yang kompetitif di tingkat global. Diplomasi dibutuhkan ke arah pengembangan atau promosi SDM, terutama para pelajar internasional berprestasi yang tengah menuntut studi di luar negeri.
Diplomasi untuk mengangkat keunggulan Indonesia bukan lagi cuma “menjual” keunikan batik
atau kuliner tradisional, seperti sate atau pempek. Sudah saatnya para pelajar Indonesia
yang unggul di luar negeri dipromosikan juga oleh pemerintah.
“Selama ini promosi banyak dilakukan sendiri-sendiri oleh kampus-kampus tempat anak-anak Indonesia belajar dan terbatas sekali informasinya. Pemerintah Indonesia sebetulnya bisa mengambil bagian itu, misalnya lewat kedutaan besar. Kedutaan sebaiknya bukan
lagi hanya tempat registrasi, bisa lebih dari itu untuk diplomasi di sektor pendidikan,” kata Koordinator Beasiswa Nuffic Neso Indonesia, Indy Hardono, pada acara StuNed Day 2015
di kantor KBRI di Den Haag, Sabtu (7/3/2015).
Sementara itu, dalam sambutan pembukaan StuNed Day 2015, Atase Pendidikan dan Kebudayaan
KBRI Belanda, Bambang Hari wibisono, mengaku sepakat dengan hal tersebut sebagai kewajiban pihaknya di KBRI. Hari mengatakan, KBRI punya diaspora Indonesia yang aktif, mulai bidang kesehatan hingga kewarganegaraan.
“Sejak tahun lalu kita juga sudah punya Rumah Budaya Indonesia. Rumah Budaya Indonesia ini ada di sepuluh negara, salah satunya Indonesia. Di situ ada unit kerja untuk membuka diplomasi,” kata Hari.
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Belanda, Bambang Hari Wibisono (tengah) tengah membawakan presentasi
Hari mengatakan, Indonesia memang tengah menjalankan konsepsoft power diplomacy, terutama oleh aktor-aktor dari area non-negara. Hal itu merupakan upaya peningkatan people to people contact.
“Non-state actor ini yang sedang kami galakkan,” katanya.
Sayangnya, Kuasa Usaha Ad Interim dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Ibnu Wahyutomo, tidak dapat hadir pada “StuNed Day 2015” sebagai hajatan besar para pelajar Indonesia di Belanda hari ini. Kehadirannya bisa memberikan penjelasan lebih dalam mengenai soft power diplomacy yang dibutuhkan untuk mengangkat nama para pelajar berprestasi Indonesia di Belanda.
Sebelumnya diberitakan, StuNed Day 2015 kembali digelar di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Sabtu (7/3/2015). Acara tersebut dihadiri sekitar 170 mahasiswa
Indonesia dari berbagai perguruan tinggi di kota-kota di Belanda.
Sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2015/03/08/00141221/Diplomasi.Jangan.Cuma.dengan.Batik.
DERAS.CO.ID Anda Berhak Tahu!