Saturday , April 18 2026
Beranda / Ekonomi / Dunia Akui Bank Syariah Kunci Lewati Krisis

Dunia Akui Bank Syariah Kunci Lewati Krisis

 

REPUBLIKA.CO.ID, MANAMA — Departemen Riset Falak Consulting (FCRD) meyakini perbankan syariah bisa menjadi model pasar yang lebih ekonomis dan bisnis pembiayaan berkelanjutan. Selain itu, berdasarkan Konferensi Perbankan Syariah Global (WIBC) di Manama, Falak Consulting menyoroti krisis keuangan di 2009.

Berdasarkan laporan CPI Financial, Senin (9/12), ketika krisis keuangan mengguncang dunia, bank konvesional mengalami kejatuhan yang lebih besar dibandingkan perbankan syariah. Bahkan perbankan konvensional mengakui bank dan pembiayaan syariah bisa menawarkan lebih kepada nasabah.Salah satu diskusi dalam acara WIBC, yang menyoroti tema ‘Bisnis di Timur Tengah dan Peran Keuangan Islam’, potensi perbankan syariah terbuka lebar.

Sementara laporan FCRD menunjukkan perbankan syariah saat ini adalah segmen yang berkembang paling cepat dalam sistem keuangan internasional. Khususnya dari sisi aset dimana angkanya telah mencapai 1,1 triliun dolar AS di 2011, yang mewakili 80,9 persen total aset pembiayaan syariah dan 1 persen perbankan di seluruh dunia. Laporan itu juga menyebutkan perbankan syariah masih harus membangun imej perbankan syariah yang sehat dan transparan serta memiliki resiko yang minim.

Pendiri dan Kepala Falak Consulting, Suhail Ghazi Algosaibi, menyatakan krisis keuangan 2009 telah mengajarkan semua orang mengenai beberapa hal. Pertama ungkap dia, perbankan konvesional atau model yang ada saat ini bukannya tak bisa ambruk. Sehingga membuka mata masyarakat bahwa mereka perlu mempertimbangkan pilihan lain. Sebuah pilihan dimana ada perbankan yang lebih aman, layak dan berkelanjutan.

Perbankan syariah pun memiliki potensi menawarkan apa yang dicari masyarakat itu. Maka, saat ini, ucap dia, kita menyaksikan banyak bank konvensional global yang mengeksplorasi potensi di atas.

Tak hanya itu, saat ini juga semakin banyak diskusi mengenai langkah ke depan bisnis keuangan dan perbankan Islam.Saat ini, berdasarkan catatan CPI Financial, beberapa bank konvensional yang telah mendunia menerbitkan cabang baru yang fokus di perbankan syariah. Seperti halnya Llyoid Bank, HSBC, Standard Chartered dan Islamic Bank of Britain.

Bank Syariah di Enam Negara Melonjak

Berdasarkan laporan Persaingan Bank Syariah Global 2013-2014, enam negara Islam mengalami pertumbuhan pasar perbankan secara signifikan. Enam negara yang mengalami pertumbuhan perbankan syariah itu, dikutip dari CPI Financial, adalah  Qatar, Indonesia, Arab Saudi, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Turki (QISMUT).

Laporan yang diumumkan dalam Konferensi Perbankan Syariah Global di Manama, Bahrain, aset di enam negara itu sebesar 78 persen dari seluruh perbankan syariah di seluruh dunia. Sedangkan, total aset perbankan syariah di seluruh dunia mencapai 1,72 triliun dolar AS. Angka ini meningkat dari jumlah aset di 2012 yang hanya mencapai 1,54 triliun dolar AS.

Aset itu berasal dari bank syariah murni–di Indonesia disebut bank umum syariah (BUS) dan bank komersial yang menyediakan layanan secara Islami (biasa disebut unit usaha syariah atau UUS). Kepala Keuangan MENA di Ernst & Young, Gordon Bennie meyakini kesuksesan dari perbankan syariah tergantung dari pertumbuhan aset mereka. Selain itu, tambah dia, kualitas dari pertumbuhan tersebut. Pertumbuhan juga terjadi sangat cepat di keenam negara QISMUT  karena pola perdagangan yang kini mendukung pasar perbankan syariah. Bank dengan konektivitas yang kuat akan mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan ini.

Anggota dari Pusat Perbankan Syariah Global di Ernst & Young, Ashar Nazim, mengatakan Bahrain dan enam negara dengan pertumbuhan tertinggi adalah pasar penting bagi industri perbankan syariah di masa mendatang. Ia pun berharap pertumbuhan rata-rata per tahun (CAGR) di enam negara itu bisa mencapai 1,6 triliun AS di 2018. Sedangkan, angka pertumbuhan di 2012 untuk enam negara mencapai 567 miliar dolar AS.

Saat ini bank-bank syariah di seluruh dunia melayani sekitar 38 juta nasabah. Sementara, dua per tiga atau kurang lebih 25,3 juta nasabah berasal dari enam negara. Hanya saja, baru sedikit dari bank-bank syariah di enam negara itu yang bisa berinovasi demi nasabah. Ke depan, ia yakin inovasi bagi kepuasan nasabah menjadi kunci penting bagi bank syariah dibandingkan konvensional.

Sulitnya berinovasi, ungkap dia, karena pasar keuangan Islam berbeda antara satu negara dengan yang lain. Selain itu, tahap perkembangan juga berbeda. ”Profitabilitas berbeda secara signifikan dengan perbankan konvensional,” ungkap dia.

Ia menambahkan saat ini tantangan terbesar bagi perbankan syariah adalah bagaimana menjadi pemain utama di pasar perbankan di negeri mereka. Proses diversifikasi produk untuk membangun merek juga menjadi tantangan. Selain itu, yang cukup sulit adalah menciptakan citra bahwa perbankan syariah berbeda dengan konvensional. n ichsan emrald alamsyah ed: irwan kelana

Informasi lengkap berita di atas serta berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.

 

 

 

Baca Juga

deras.co.id

Percepat Rekonstruksi Pascabencana, Gubernur Bobby Nasution Tinjau Tanggul Sungai Badiri

DERAS.CO.ID – TAPTENG – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution meninjau langsung pembangunan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *