Momen terbaik sepanjang tahun 2017 itu tak pernah berlaku di tanah Palestina. Di ujung tahun 2017, catatan buruk tentang nasib warga Palestina dirangkum menjadi satu.
Mulai dari jatah listrik di Gaza yang menyala tak lebih dari dua jam sehari, kebutuhan air bersih dan makanan yang makin sulit didapat, Yerusalem yang makin terhimpit oleh Zionis Israel. Juga cerita dari ribuan warga Palestina yang ditangkap dan dibungkam di penjara Israel sepanjang tahun 2017.
Palestinian Human Rights Organizations menyebut lebih dari 6.000 warga Gaza dan Tepi Barat ditahan sepanjang tahun 2017. Menurut data Palestine Liberation Organisation (PLO), Palestinian Prisoners Committee, Prisoner Support and Human Rights Association, dari 6.000 warga Palestina yang ditahan paling banyak adalah lelaki remaja dan dewasa asal Gaza maupun Tepi Barat.

Sampai hari Minggu, (31/12) jumlah warga Palestina yang masih berada dalam jeruji besi Israel sedikitnya ada 6.950 warga. Termasuk 359 anak-anak, 22 orang jurnalis, dan 10 anggota parlemen.
Sepanjang tahun 2017, bisa dibilang tak ada hari di Gaza atau Yerusalem tanpa penahanan warga Palestina. Sumber mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang bermukim di Yerusalem mengatakan, serdadu Israel sering memaksa masuk mendobrak rumah-rumah warga Palestina di Tepi Barat Palestina, memburu dan menangkap warga lokal Palestina.
“Para serdadu Israel itu menyebut orang-orang Palestina yang ditangkap sudah menjadi target buruan entah karena alasan apa,” kata mitra ACT di Yerusalem, Selasa, (2/1).
Interogasi Israel juga dirasakan oleh relawan ACT yang sedang bertugas di dalam kompleks Masjid Al Aqsa. Tepat sehari sebelum malam tahun baru 2017 kemarin, beberapa relawan ACT diinterogasi oleh Polisi Israel.
Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response (GHR)-ACT menjelaskan, interogasi relawan ACT terjadi tepat di dalam kompleks Al-Quds pada hari Sabtu, (30/12). “Sabtu kemarin tim relawan mitra ACT di Yerusalem sempat ditahan untuk sementara dan diinterogasi oleh polisi Israel. Alasan interogasi karena mereka membagikan bantuan makanan dari masyarakat Indonesia untuk jamaah di dalam Masjid Al-Aqsa,” katanya.
Tepat di hari pertama tahun 2018, Senin (1/1) akhirnya relawan ACT yang diinterogasi dilepas kembali. Tapi mereka harus menandatangani surat pernyataan dilarang masuk ke dalam area masjid Al Aqsa selama 15 berikutnya.
Sumber: jawapos.com
DERAS.CO.ID Anda Berhak Tahu!